11 Ibu Hamil dan 32 Anak Positif HIV/AIDS

KLATEN—Sepanjang Januari-November 2019 terdeteksi ada 105 temuan kasus HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut ada 11 ibu hamil yang dinyatakan positif terjangkit virus HIV/AIDS.
Pegiat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Klaten, Amin Panuntun, menjelaskan jumlah ibu hamil di Klaten mencapai 17.925 orang. Dari jumlah tersebut, 12.324 ibu hamil sudah mengikuti voluntary counseling test (VCT) di puskesmas atau rumah sakit untuk memastikan terjangkit atau tidak virus HIV/AIDS.
“Dari jumlah itu hingga Oktober terdeteksi ada 11 ibu hamil yang dinyatakan positif,” kata Amin saat ditemui Koran Solo di Sekretariat KPA Klaten, Kamis (28/11).
Soal penyebab ibu hamil dinyatakan positif terjangkit virus HIV/AIDS, Amin menjelaskan tak selalu tertular dari suami mereka. Hal itu berdasarkan hasil tes kepada masing-masing pasangan ibu tersebut.
“Ketika ada ibu terdeteksi positif, tentu pasangannya diikutkan tes. Kami tidak bisa memastikan bahwa ketika ada ibu positif, suaminya juga positif. Kenyataannya di Klaten ada beberapa ibu positif sementara suaminya dinyatakan negatif,” kata Amin.
Amin juga menjelaskan ketika ibu hamil dinyatakan positif, anak yang ada dalam kandungannya belum bisa dipastikan ikut terjangkit. Untuk itu ada upaya pencegahan dengan menjalani pengobatan antiretroviral (ARV) serta ada pendampingan khusus dari bidan atau petugas kesehatan.
Terkait kelompok usia anak (di bawah 17 tahun), Amin mengatakan sedikitnya 32 anak terdeteksi positif terjangkit virus HIV/AIDS selama beberapa tahun terakhir. Dari jumlah itu, sebanyak 17 anak yang bisa dijangkau KPA dan dilakukan pendampingan. “Karena mereka diketahui keberadaannya. Sementara, yang lain tidak jelas alamat pasti mereka di mana,” kata Amin.
Amin mengatakan pendampingan kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) termasuk anak-anak penting dilakukan. Pendampingan dilakukan agar anak-anak tersebut tetap mendapatkan hak-hak mereka seperti tetap bisa sekolah. Selain itu, pendampingan dimaksudkan agar mereka terhindar dari berbagai bentuk diskriminasi.
Salah satu pendamping kelompok dukungan sebaya (KDS), Dewi Astuti, mengatakan 11 anak dengan HIV/AIDS (ADHA) menjadi salah satu kelompok yang selama ini dia dampingi. Usia mereka beragam dari sembilan bulan hingga 11 tahun.
“Rata-rata bapak mereka sudah meninggal dunia. Sementara, ibunya rata-rata terkendala membiayai kebutuhan hidup karena tidak bekerja. Oleh karena itu, selama ini kami menjembatani agar mereka bisa bekerja atau mendapatkan penghidupan yang layak,” jelas dia.
Soal pendidikan, Dewi mengatakan rata-rata ADHA tersebut bersekolah. Namun, dia tak menampik masih ada diskriminasi kepada anak-anak tersebut.
“Ada yang orang tua anak-anak sekelas ADHA, meminta dia segera pindah sekolah ketika tahu positif HIV/AIDS. Namun, sudah bisa diselesaikan setelah kami berkolaborasi dengan sekolah dan diberikan pemahaman tentang HIV/AIDS. Untuk selanjutnya, kami berharap sudah tidak ada lagi diskriminasi dan stigma,” kata Dewi. (Taufiq Sidik Prakoso)