Pengelolaan Dinilai Asal-Asalan Warga Blokade Jalan Menuju Bank Sampah

KLATEN—Warga Dukuh Pengkol, Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan, memblokade jalan di pintu masuk bank sampah di desa setempat, Kamis (28/11) malam.
Warga Pengkol kesal lantaran pengelolaan bank sampah yang sudah berdiri sejak 2016 tersebut dilakukan secara asal-asalan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran Solo, pembangunan bank sampah itu merupakan bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Klaten. DLHK juga memberikan bantuan sarana dan prasarana (sarpras) lainnya, seperti mesin pencacah, alat pemilah sampah, dan kendaraan pengangkut sampah.
Lokasi bank sampah berada di RW 010. Di lokasi yang memiliki 70-an kepala keluarga (KK) itu memiliki dua RT, yakni RT 001 dan RT 002. Lokasi bank sampah masih satu kompleks dengan tempat permakaman umum (TPU) Dukuh Pengkol.
“Kami sebenarnya tidak masalah dengan bank sampah itu jika pengelolaannya benar. Kenyataannya, yang membuang sampah ke sana asal-asalan. Sampah juga diumbrukke begitu saja sebelum diambil petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Klaten. Selain menimbulkan bau dan lalat, sampah juga berserakan di sekitar bank sampah. Bahkan, sampah itu sudah ada di dekat sungai di sebelah bangunan itu. Kalau ini diteruskan kan tidak baik juga. Makanya, warga beraksi [memblokade akses ke bank sampah]” kata Ketua RT 001/RW 010, Darmaji, 41, saat ditemui Koran Solo, di Sumberejo, Jumat (29/11).
Selaku ketua RT 001, Darmaji mengaku sudah menjalin komunikasi dengan pengelola bank sampah 1-2 bulan sebelumnya. Di kesempatan itu, Darmaji berharap bank sampah dapat dioptimalkan sebagaimana mestinya.
“Hingga malam kemarin [Kamis (28/11) malam], tetap tidak ada pengelolaan sampah. Bank sampah tidak dioptimalkan sesuai perizinan. Lalu ada aksi itu,” katanya. Warga juga memasang spanduk bertuliskan “Dilarang buang sampah di sekitar bank sampah”.
Direktur Bank Sampah di Sumberejo, Sukarno, mengatakan pengelola bank sampah masih berkomitmen mengolah sampah di desanya secara optimal. Belum optimalnya bank sampah karena jumlah orang yang mengurusi sampah sangat minim.
“Jumlah sumber daya manusia (SDM) di bank sampah minimal 4-5 orang. Yang ada saat ini, hanya dua orang. Itu pun hanya bertugas mengambil. Sembari mencari SDM, sampah yang ada di bank sampah memang diangkut petugas DPU-PR Klaten terlebih dahulu, dibuang ke tempat pembuangan akhir,” katanya.
Sukarno mengatakan di Sumberejo memiliki 012 RW. Dari jumlah tersebut, hampir sebagian warga membuang sampah ke bank sampah. Hal itu seperti warga di RW 006, RW 007, RW 008, RW 009, RW 011, dan sebagian RW 002. Volume sampah yang dibuang ke bank sampah mencapai 2-5 kuintal per hari.
“Soal kekurangan tenaga itu, hari ini [kemarin] sudah ada solusinya. Dalam rapat dengan pemdes disepakati jumlahnya bisa mencapai lima orang. Mulai awal pekan depan, kami siap mengelola sampah itu sesuai fungsi bank sampah. Sampah akan diolah menjadi barang layak jual dan pupuk organik,” katanya.
Berdasarkan pantauan Koran Solo, akibat pemblokade akses ke bank sampah mengakibatkan petugas DPU-PR Klaten tidak dapat mengambil sampah. Biasanya, petugas DPU-PR mengambil sampah ke Sumberejo setiap Selasa dan Kamis. Di sisi lain, pemdes didampingi anggota Bhabinkamtibmas di Sumberejo membuka akses bank sampah, Jumat (29/11) pagi. (Ponco Suseno)