Aliran Bengawan Solo Naik Jembatan Sesek Beton Jebol

 

SOLO—Jembatan sesek atau anyaman bambu yang menghubungkan Kampung Beton, Kelurahan Kampung Sewu, Kecamatan Jebres, Solo, dengan Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, jebol diterjang aliran air Bengawan Solo, Minggu (1/12) pagi.
Jebolnya jembatan tersebut menjadi kali ke sekian. Hujan deras di hulu Bengawan Solo yang membawa material sampah maupun eceng gondok menerjang kaki-kaki jembatan.
Ketua komunitas sukarelawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) Sewu, Sri Mahanani Budi Utomo, mengatakan ketinggian air naik signifikan hingga 1,8 meter pada Minggu dini hari. Pagi harinya, jembatan sesek itu jebol dan hampir hanyut diterjang limpahan air.
“Masyarakat sering memanfaatkan jembatan itu untuk menyeberang, potong kompas daripada harus lewat Jembatan Mojo. Enggak hanya pejalan kaki, tapi juga pengendara sepeda motor,” kata dia, kepada Koran Solo, Minggu.
Informasi dari pengrajin anyaman bambu, jembatan tersebut dibangun dengan dana senilai Rp8-9 juta rupiah. “Kalau harus memutar lewat Jembatan Mojo, bisa butuh waktu sampai 30 menit. Wacana pembangunan jembatan permanen sering berembus, tapi sampai saat ini belum direalisasikan,” ucap Budi, sapaan akrabnya.
Berdasarkan pantauan Koran Solo, jembatan sesek itu jebol menjadi dua bagian dan hampir hanyut namun tertahan di kedua sisi tiang jembatan di bibir sungai. Belum diketahui apakah masyarakat akan kembali membangun jembatan sesek, namun saat arus air Bengawan Solo sedang deras dan naik, mereka memilih mengoperasikan perahu. (Mariyana Ricky P.D.)