BUDI DAYA ayam ras 2020 Produksi Diperkirakan Berlebih

SOLO—Produksi ayam ras pada 2020 diperkirakan berlebih, yakni mencapai 75 juta ekor-80 juta ekor per pekan. Jumlah itu tidak sebanding dengan konsumsi yang diperkirakan hanya naik maksimal 5% atau sekitar 60 juta ekor-63 juta ekor per pekan.

Bayu Jatmiko Adi
redaksi@koransolo.co

Kondisi tersebut juga bakal berimbas pada potensi harga yang cenderung rendah. Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jawa Tengah, Parjuni, mengatakan tantangan di sektor budi daya ayam ras mandiri pada 2020 akan semakin berat dibandingkan tahun ini karena diperkirakan jumlah bibit yang beredar berlebihan.
Pada 2019, potensi produksi ayam sekitar 68 juta ekor-70 juta ekor per pekan. Jumlah itu lebih besar dibandingkan kebutuhan pasar 57 juta ekor-58 juta ekor per pekan. ”Untuk itu [pada 2019] kami minta pemangkasan terus,” kata dia saat dihubungi Koran Solo, Minggu (1/12).
Pada 2020 potensi produksi ayam bisa mencapai 75 juta-80 juta ekor per pekan, sedangkan kemampuan pasar maksimal naik 5% dari tahun sebelumnya atau hanya 60 juta ekor-63 juta ekor per pekan. Lantaran pertimbangan itu, Pinsar kembali mengusulkan pemerintah memangkas bibit ayam sekitar 15 juta per pekan pada 2020.
Parjuni menjelaskan saat ini pemangkasan jumlah bibit yang beredar hanya sekitar 2 juta ekor per pekan. Jumlah itu menurun dari September lalu yang mencapai 10 juta ekor atau Oktober lalu yang mencapai 5 juta ekor per pekan. Pada Desember pemangkasan bibit ayam direncanakan 7 juta ekor per pekan.
Dia berharap 2020 menjadi tahun yang baik untuk pelaku bisnis budi daya ayam ras mandiri. Hampir sepanjang 2019 para peternak ayam ras mandiri mengalami kerugian akibat harga yang anjlok.
Hanya pada Oktober hingga awal November harga ayam ras hidup sempat mencapai Rp19.000/kilogram (kg) atau sekitar Rp1.000 di atas harga pokok produksi (HPP). Namun, setelah itu harga ayam kembali jatuh menjadi Rp16.000/kg.
Beruntung setelah aksi damai yang dilakukan para peternak di Jakarta, Rabu (27/11), harga ayam berangsur naik hingga Sabtu (30/11) menjadi Rp17.500/kg. Parjuni berharap pada 2020 harga ayam tidak kembali jatuh seperti yang terjadi sejak September 2018 hingga saat ini.
Dia meminta pemerintah belajar dari tahun ini. Fenomena over suplai membuat harga jual ayam hidup di tingkat peternak terpuruk. Dia juga berharap usulan yang telah disampaikan kepada pemerintah untuk memangkas bibit hingga 15 juta ekor per pekan disetujui.
Saat aksi damai, Rabu, para peternak diterima Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga. ”Mereka [Kementerian Perdagangan] merespons positif dan mengupayakan ada kebijakan yang berpihak kepada kami. Seperti mengenai acuan harga bibit dan pengawasan yang ketat pada harga ayam,” tegas dia.
Disinggung mengenai potensi harga ayam selama momentum Natal dan Tahun Baru 2020, menurutnya tidak akan bergerak signifikan. ”Kami katakan tidak akan ada dampak signifikan sebab pemangkasan bibit hanya 2 juta ekor per pekan,” kata dia.
Diberitakan sebelumnya, harga daging ayam ras menjadi salah satu komoditas pangan yang diwaspadai pada momentum Natal dan Tahun Baru 2020 di Solo. Hal itu mengacu pada Desember 2018, Solo mengalami inflasi 0,57% dan salah satunya dipicu kenaikan harga daging ayam ras. Pada bulan tersebut harga daging ayam ras naik 7,31% dengan andil inflasi sebesar 0,08%.
Kepala Tim Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang Rupiah dan Layanan Administrasi (SPPURLA) Bank Indonesia (BI) Solo, Bakti Artanta, mengatakan melihat pengalaman tahun-tahun sebelumnya, pada Desember biasanya ada tren kenaikan harga karena bersamaan dengan momentum Natal dan menjelang tahun baru. ”November dan Desember biasanya inflasi. Kami melakukan pemetaan strategi yang akan dilakukan, terutama untuk komoditas pangan. Utamanya cabai, bawang, telur, daging [ayam ras], dan sebagainya,” kata dia, belum lama ini.