Panen Melimpah, Warga Jepara Syukuran Kirab Seribu Ingkung

JEPARA—Warga Desa Kendengsidialit, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, mengikuti tradisi Kirab Seribu Ingkung. Itu dilakukan sebagai ungkapan syukur hasil pertanian yang melimpah.
Selama ini, warga Kendengsidialit dapat panen padi tiga kali dalam satu tahun. Begitu pula di tengah musim kemarau yang melanda, mereka tetap dapat panen padi.
Ingkung sendiri adalah olahan ayam yang dimasak secara utuh. Disajikan dengan nasi dan sayur di atas tampah atau wadah yang terbuat dari anyaman bambu.
Tampah berisi ingkung itu dikirab dari depan rumah kepala desa menuju area persawahan. Rombongan kirab melintasi jembatan yang sungainya merupakan aliran irigasi pertanian.
Sesampainya di lokasi, ingkung itu ditata berjajar sepanjang sekira 100 meter. Seusai tahlil dan doa bersama warga menyantap ingkung bersama-sama.
Kepala Desa Kendengsidialit, Kahono Wibowo, mengungkapkan wilayahnya memiliki lahan sawah sekitar 107 hektare milik warga, ditambah lahan khusus milik desa seluas 25 hektare.
”Acara ini merupakan bentuk kesepakatan warga, dalam mempererat kerukunan. Serta yang paling penting mewujudkan rasa syukur kami kepada Tuhan. Dengan adanya kirab ingkung, kami harap warga dan penggarap sawah selalu ingat kepada Tuhan,” ujarnya, Minggu (1/12).
Dikatakannya sesuai kesepakatan setiap warga yang memiliki satu hektare lahan sawah membawa enam ingkung. Namun, pemerintah desa juga tidak menghalangi, mereka yang tak memiliki sawah atau lahan yang hanya sedikit, untuk turut melambangkan rasa syukur mereka.
”Jumlah sawah di sini 107 hektare ditambah 25 hektare sawah pusaka. Setiap satu hektare membawa enam ingkung. Namun kalau mereka penggarap sawah atau yang berprofesi sebagai pengrajin misalnya, mau ikut ya silakan. Jadi jumlah ingkungnya ini ya sekitar seribuan,” jelas Kahono.
Disebutnya, kirab ingkung tersebut satu dari rangkaian Gelar Budaya Desa Kendengsidialit. ”Gelar Budaya ini berlangsung dua pekan. Acara besar di antaranya, Kirab Seribu Ingkung, panggung rakyat, kirab gunungan, dan pentas wayang kulit lima dalang lima panggung dalam satu cerita,” imbuhnya.
Jatun, seorang warga Desa Kendengaidialit mengutarakan kirab ingkung digelar tiap tahun. ”Semua warga antusias bawa ingkung. Ya, karena bersyukur limpahan rezeki panen,” ujarnya. (Detik/JIBI)