SUKOHARJO—Jumlah penderita diabetes di Indonesia trennya terus meningkat. Bahayanya jika tidak ditangani dengan baik bisa fatal karena terjadi penyakit komplikasi. Indah Septiyaning W. redaksi@koransolo.co Kurangnya kesadaran akan penyakit ini membuat masyarakat kerap menyepelekan diabetes. Hal itu disampaikan dokter spesialis penyakit dalam RS Indiriati Solo Baru, Dr. dr Sugiarto Sp.PD.KEMD.FINASIM dalam Seminar Kesehatan dengan tema Selamatkan Keluarga dari Diabetes di Ruang Auditorium Lantai 7 RS Indriati Solo Baru, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (1/12). Seminar kesehatan ini digelar RS Indriati sekaligus dalam rangka memperingati Hari Diabetes. ”Dari tahun ke tahun angka penderita diabetes terus meningkat, karena kurangnya kesadaran masyarakat akan penyakit diabetes,” kata dia. Merujuk data jumlah penderita diabetes pada 2013 tercatat 8,5 juta, kemudian meningkat menjadi 9,1 juta setahun berikutnya. Jumlah penderita diprediksikan meningkat tajam mencapai 14,1 juta pada 2035, dengan prevalensi 6,67 persen untuk populasi orang dewasa. Hasil survei pada 2014 juga mencatat kematian akibat dari diabetes menduduki peringkat tiga terbesar di Indonesia dengan persentase sebesar 6,7 persen, setelah stroke 21,1 persen dan penyakit jantung koroner 12,9 persen. ”Penyakit diabetes yang tidak terkontrol mengakibatkan komplikasi dan memakan biaya besar untuk pengobatan. Komplikasi itu di antaranya penyakit jantung, gagal ginjal hingga kebutaan,” katanya. Lebih lanjut dia menjelaskan diabetes militus atau biasa dikenal sebagai penyakit kencing manis adalah gangguan metabolik karbohidrat protein dan lemak yang berlangsung lama atau kronis. Hal ini ditandai dengan kadar gula atau glukosa darah tinggi atau diatas nilai normal. Gejala diabetes di antaranya sering buang air kecil terutama di malam hari, cepat merasa lapar dan dahaga, merasa sangat lelah, kehilangan berat badan tanpa melakukan apa pun, sariawan yang terus terjadi, penglihatan kabur dan luka yang tidak pernah sembuh. ”Jika mengalami keluhan itu langsung lakukan cek gula darah. Pemeriksaan gula darah sewaktu normalnya kurang dari 200 mg/dl dan gula darah puasa kurang dari 126 mg/dl,” jelasnya. Menurut dia, penyakit kronis ini tidak bisa disembuhkan namun dapat dikendalikan agar tak terjadi komplikasi. Di mana cara pencegahannya adalah menjaga asupan makan, berolahraga serta menghentikan rokok, kebiasaan yang dapat menyebabkan komplikasi teruta­ma bagi penderita jantung. Di dunia penyakit kencang manis ini membunuh lebih satu juta orang setiap tahun dan siapa pun dapat terkena, termasuk anak-anak. Komplikasi Penyakit ini terjadi saat tubuh tidak bisa memproses semua gula (glukosa) di dalam aliran darah, sehingga menimbulkan komplikasi yang dapat menyebabkan serangan jantung, tekanan darah tinggi, kebutaan, gagal ginjal dan amputasi anggota tubuh bagian bawah. Ahli gizi RS Indriati, dr. Ayu Kusuma Dewi MSi SpGK mengatakan pentingnya menjaga asupan makanan bagi penderita diabetes. Hal ini guna membantu menjaga tingkat gula darah yang dilakukan melalui makanan sehat dan gaya hidup yang aktif. Selain itu menghindari makanan manis dan minuman olahan, serta mengubah roti putih dan pasta dengan gandum adalah langkah yang baik. ”Konsumsi makanan sehat termasuk sayur, buah, kacang-kacangan dan gandum. Termasuk minyak sehat, kacang, ikan berminyak kaya omega-3. seperti sardin, salmon. Jangan lupa untuk berolahraga seperti jalan kaki yang dapat membantu menurunkan tingkat gula darah,” katanya.

MEDAN—Kapolda Sumatera Utara Irjen Agus Andrianto menduga hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan yang meninggal di area kebun sawit di Deli Serdang merupakan korban pembunuhan.

redaksi@koransolo.co

Kapolda sudah punya dugaan soal pelakunya. “Sedang didalami. Artinya, bahwa kemungkinan dibunuh,” kata Kapolda Sumut Irjen Agus Andrianto di Lapangan Merdeka, Medan, Minggu (1/12).
Selain itu, Agus menyebutkan pelakunya diduga orang yang tak jauh dari korban. ”Dugaan kami orangnya tidak jauh [dari korban],” sebut Agus.
Agus menambahkan, pihaknya terus bekerja untuk mengusut kematian hakim sekaligus pejabat Humas PN Medan tersebut.
Hakim PN Medan Jamaluddin ditemukan meninggal di mobil miliknya di area kebun sawit Desa Suka Rame, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sumut, Jumat (29/11).
Jasadnya kemudian dibawa ke RS Bhayangkara untuk di autopsi. Kemudian, dipulangkan ke Kecamatan Seunagan, Nagan Raya, Aceh, untuk dikebumikan di kampung halamannya.
Polisi menemukan luka mencurigakan di leher hakim Jamaluddin. Namun polisi masih menunggu hasil autopsi untuk mengetahui penyebab luka tersebut.
”Ada luka di leher, tapi kami enggak tahu luka apa. Kami tetap menunggu hasil autopsi,” kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Tatan Dirsan Atmaja saat dihubungi, Minggu.
Tatan tidak memerinci luka apa yang ada di leher korban. Ia menyebut polisi masih menunggu hasil autopsi untuk mengetahui penyebab terjadinya kematian korban. Hasil autopsi akan segera disampaikan setelah selesai. ”Mungkin besok disampaikan,” ujar Tatan.
Sementara itu, polisi masih mendalami kronologi sebelum korban ditemukan meninggal, misalnya apakah korban diketahui melakukan pertemuan dengan pihak lain di luar atau tidak. Polisi memeriksa saksi-saksi dari pihak keluarga, rekan kerja, tetangga, hingga saksi yang menemukan korban.
“Apakah sebelumnya ada yang nelepon dia untuk ketemu di luar janjian, mungkin istrinya tahu, baru di situ ditunjukin keluarnya ke mana-ke mana,” imbuh Tatan. (Detik/JIBI)