DISTRIBUSI PUPUK BERSUBSIDI Distan Sragen Usul HET Pupuk Naik

SRAGEN—Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sragen mengusulkan kenaikan harga eceran tertinggi (HET) untuk pupuk bersubsidi lantaran sejak 2009-2019 atau 10 tahun terakhir tidak ada kenaikan HET pupuk bersubsidi.

Tri Rahayu
redaksi@koransolo.co

Kebijakan menaikan HET pupuk bersubsidi itu sebagai solusi untuk mengatasi kekurangan pupuk bersubsidi di Sragen.
Penjelasan tersebut disampaikan Kasi Perlindungan Tanaman Distan Sragen Mochtar Arifin saat ditemui Koran Solo, Senin (2/12), menyampaikan selama ini usulan pupuk bersubsidi berdasarkan rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) selalu tidak sesuai dengan alokasi.
Dia mencontohkan usulan untuk pupuk urea sebanyak 31.000-an ton tetapi realisasinya hanya 28.458 ton. Kemudian untuk pupuk SP36, kata dia, dari usulan 15.000-an ton hanya mendapat alokasi 7.400 ton. Demikian dengan ZA dari usulan 19.000-an ton hanya mendapat 11.963 ton, dan NPK dari usulan 49.000-an ton hanya memperoleh 21.558 ton.
Untuk mencukupi kebutuhan pupuk, ujar dia, petani biasanya lari ke pupuk nonsubsidi yang harganya tinggi. Dia mengatakan harga pupuk bersubsidi sekarang jauh di bawah harga pupuk nonsubsidi sehingga petani sering kali kaget saat membeli pupuk nonsubsidi. “Misalnya urea, harga subsidi Rp1.800/kg tetapi harga nonsubsidi mencapai Rp5.000/kg. Kalau harganya terlalu njeglek ya kasihan petani. Solusinya dengan menaikan HET. Ketika HET naik maka anggaran subsidi pupuk akan berkurang dan bisa dialihkan untuk memperbanyak pasokan pupuk. Akan lebih baik lagi bila alokasi anggaran untuk subsidi pupuk ditambah,” ujarnya.
Arifin, sapaan akrabnya, menyebutkan nilai HET pupuk bersubsidi berdasarkan peraturan yakni untuk urea Rp1.800/kg, SP36 Rp2.000/kg, ZA Rp1.400/kg, NPK Rp2.300/kg, dan organik Rp500/kg. Di sisi lain, Arifin menjelaskan hampir setiap tahun terjadi realokasi pupuk bersubsidi 4-5 kali. Sepanjang 2019 hingga November, Arifin menyebut ada empat kali realokasi yang berdampak pada pengurangan atau penambahan alokasi pupuk.
Arifin menunjukkan Surat Keputusan (SK) Distan Sragen terntang realokasi pupuk bersubsidi kali keempat yang berisi pengurangan pupuk bersubsidi jenis SP36 sebanyak 30 ton dan penambahan pupuk bersubsidi jenis ZA sebanyak 200 ton.
“Kami harus membagi penambahan itu ke kecamatan yang stok pupuknya menipis. Dari 20 kecamatan, hanya empat kecamatan yang tidak mendapat tambahan alokasi ZA, yakni Kecamatan Sambirejo, Plupuh, Sumberlawang, dan Kalijambe,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen, Suratno, setuju dengan gagasan Arifin asal kebutuhan petani tercukupi dan HET gabah/beras juga dinaikan. Dia mengatakan ada korelasi HET pupuk dengan HET gabah/beras. Dia menjelaskan tidak hanya kebutuhan petani yang sesuai RDKK tetapi bantuan alat mesin pertanian (alsintan), bibit, dan bantuan lainnya kalau perlu dialihkan untuk pupuk bersubsidi walaupun harga naik.
“Saya kira petani tidak akan bergejolak asalkan dikomunikasi dan disosialisasikan. Untuk kenaikan HET pupuk itu, rumusnya satu sak gabah itu sama dengan satu sak pupuk. Dalam konteks ini untuk pupuk majemuk. Idealnya harga pupuk majemuk itu Rp2.750/kg,” ujarnya.