SISTEM PENDIDIKAN Sekolah Tanpa Kertas, Tantangan Baru para Guru

Konsep paperless school atau sekolah tanpa kertas telah diterapkan di sejumlah negara. Para pengajar dituntut untuk memiliki skill digital agar proses belajar mengajar lancar. Berikut ini ulasan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi.

redaksi@koransolo.co

Negara paling dekat dengan Indonesia yang telah menerapkan sekolah tanpa kertas adalah Singapura. Di sana para siswa dapat membaca apapun di dalam satu komputer tablet milik mereka. Artinya satu tablet itu telah menggantikan berlembar-lembar kertas yang memberatkan tas mereka.
“Saya lebih menyukai Ipad [komputer tablet] karena saya tidak perlu membawa banyak dokumen [kertas] dan tas yang banyak,” kata Nicole Ong dilansir dari Arab News. Nicole merupakan siswi berusia 13 tahun di Nanyang High School Singapore yang sejak 2011 telah menerapkan sistem sekolah tanpa kertas.
Komputer tablet juga memudahkan proses guru dalam mengajar. Sebagai contoh, Rene Yeo, Kepala Departemen Teknologi Informasi di Tampines Secondary School Singapura menggunakan komputer tablet untuk mengajar di kelas sains. Para siswanya belajar faktorisasi dengan cara yang mudah, yaitu menggerakkan angka di layar tablet. Mereka juga membaca tentang sel hewan dan struktur otak manusia hanya dengan klik pada beberapa bagian gambar. Mereka bahkan bisa melihat struktur DNA manusia secara lebih jelas.
Ada berbagai aplikasi dalam tablet siswa di sekolah Singapura itu yang juga memudahkan proses pembelajaran. Contohnya berbagai aplikasi yang saling terkait untuk belajar matematika dan bahasa Inggris.
Mereka bisa menganalisis sebab dan akibat menggunakan iBrainstorm, mempersiapkan ujian lisan dan pidato menggunakan AudioNot bahkan mencocokkan nada senar gitar pada pelajaran musik menggunakan GarageBand.
Pakar Teknologi Pendidikan dari Macaulay Honors College Amerika Serikat, Sam Han, mengatakan perkembangan teknologi yang memudahkan proses belajar mengajar ini telah populer di masyarakat negara-negara Asia. Dia pun memprediksi bahwa perkembangannya akan melebihi negara-negara bagian Barat. “Singapura dan Korea Selatan berkembang lebih jauh dalam hal penetrasi akses broadband Internet dan infrastruktur daripada Amerika Serikat,” kata Sam Han.
Mengacu dari statemen Sam Han, kementerian komunikasi di Jepang telah memberi 3.000 komputer tablet ke 10 Sekolah Dasar. Mereka bahkan melengkapi kelas dengan jumlah siswa terbatas itu dengan papan tulis hitam elektronik di dalam program uji coba bernama future school.
Di Korea Selatan, para siswa memiliki zona Wifi. Kementerian pendidikan di Korea Selatan pun telah melakukan uji coba buku catatan digital sejak 2007. Pada 2012, pihak kementerian mengatakan akan menyediakan komputer tablet ke sekolah-sekolah di seluruh Korea Selatan.
Singapura tak mau ketinggalan, mereka yang memiliki iklim kompetitif yang tinggi di bidang sains dan matematika juga menyediakan sekolah-sekolah di negaranya dengan barang yang sama. Bahkan lengkap dengan perangkat lunak dan fasilitas perbaikannya.
Sementara di Amerika Serikat, saat pemerintahan Presiden Barrack Obama, pada 2013 pemerintah federal mengadakan penyediaan laptop dan ponsel pintar untuk setiap anak di Amerika Serikat. Dilansir dari Time, Obama juga memerintahkan agar bandwidth cukup untuk menampung 49,8 juta anak-anak yang mengakses Internet. Itu artinya buku catatan diganti dengan layar gadget dan seluruh dokumen siswa akan disimpan di dalam Cloud.
Salah satu guru di California, AS, Matthew Gudenius tidak hanya mengajar murid dengan komputer di meja mereka masing-masing, namun dia juga mencoba tidak menggunakan kertas. Menurutnya hal itu mampu menyelamatkan 46.800 lembar kertas per tahun, atau setara dengan empat pohon per tahun.
Tentu saja Gudenius juga menyesuaikan metode pembelajaran. Daripada menyuruh siswa untuk menunjukkan hasil akhir mereka saat menyelesaikan soal aljabar, Gudenius memilih untuk mengajak mereka membuat video yang berisi proses mereka mengerjakan soal aljabar tersebut dan video itu ditayangkan di depan kelas.
Di mata pelajaran sejarah, para siswa menonton video di tablet mereka masing-masing dan pada pelajaran grammar dibuat seperti game. Gudenius memantau dan memberi komentar pada pekerjaan mereka melalui ponsel pintarnya.
Skill Digital Guru
Psikolog Pendidikan dari Singapura, Qiu Lin, mengatakan sekolah-sekolah harus waspada agar tidak melakukan praktik blind use pada teknologi yang telah tersedia di dalam kelas dan meninggalkan tujuan sebenarnya dari penggunaan teknologi tersebut. “Sebab tren mengintegrasikan pendidikan dengan teknologi akan terus meningkat,” kata Qiu dilansir dari Arab News.
Asisten profesor di Nanyang Technological University Singapura itu juga mengatakan bahwa kurikulum yang berkualias dan material mengajar yang meningkatkan kemampuan berpikir dalam dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah harus diterapkan dalam era sekolah tanpa kertas ini.
Dilansir dari CNA, para pengajar terkadang menemukan kesulitan bagaimana menjelaskan materi-materi di sekolah apabila para siswa sudah bisa mengakses segala materi itu di tablet mereka. Terkait hal tersebut, Tay Hui Yong dari National Institute of Education (NIE) Singapura mengatakan para guru harus mengidentifikasi, mengkurasi dan melakukan ringfence terhadap konten dan ilmu yang akan siswanya akses.
Pada tahap praktik, para guru harus menentukan struktur belajar di kelas dan saat siswa belajar di luar sekolah. Sistem pendidikan juga harus mendukungnya dengan cara menyediakan teknologi yang dapat memungkinkan pelajar mempelajari materi- materi yang elevan di dalam tablet mereka.
Berdasar beberapa penelitian, termasuk penelitian milik Tay Hui Yong, di era sekolah tanpa kertas, para guru dituntut untuk memanfaatkan sumber daya multi-media, fitur interaktif, dan alat penilaian diri yang ditawarkan buku teks digital. Semua itu dibutuhkan untuk membantu siswa menjadi pembelajar mandiri.
Tay Hui Yong mengatakan saat ini bahkan banyak aplikasi untuk menyusun buku digital yang ramah pengguna. Sehingga seorang pemula dapat mengumpulkan beberapa modul untuk mendukung pengajaran dengan cara yang mudah.
“Saya yakin bahwa pendidik yang bercita-cita untuk membawa hasil pembelajaran yang positif akan terbuka untuk mengeksplorasi lebih lanjut dan pada akhirnya mengambil tindakan yang sesuai dengan kepentingan terbaik untuk para pelajar,” kata dia. (salsabila@harianjogja.com)