Difabel Cafe

KURNIAWAN

SOLO—Sekilas tidak ada yang berbeda dari Difa Cafe di Jl. Madubronto Nomor 06 Kelurahan Sondakan, Laweyan, Solo, Senin (2/12) malam. Sejumlah pengunjung duduk di kursi kayu yang disediakan. Mereka memesan makanan dan minuman yang disediakan di kafe berkonsep wedangan itu. Sebagian yang lain menikmati fasilitas karaoke menggunakan free wifi.
Tapi bila dicermati, kafe yang beroperasi sejak 2 Juni 2019 itu ternyata cukup istimewa. Difa Cafe mempekerjakan para penyandang disabilitas sebagai penjaga dan pramusaji. Salah duanya Leli Marlina, 19, dan Bernando Ari Tonang, 21.

Tak hanya Leli dan Nando, ada tiga penyandang disabilitas lain yang bekerja di kafe yang tak memasang nominal bayaran itu. Pengunjung dibebaskan mengambil makanan dan minuman sendiri. Tapi untuk pembayarannya seikhlasnya.
“Konsep kami pengunjung silakan ambil makanan dan minuman sepuasnya, lalu bayar seikhlasnya. Tapi bisa juga pesan ke pegawai kami untuk disiapkan pesanannya,” tutur Yeti Saputri, 35, Founder Difa Cafe saat diwawancara wartawan.
Ketua Forum Peduli Difabel Indonesia itu sengaja merancang konsep seperti itu agar berbeda dengan kafe-kafe lain. Selain itu agar para penyandang disabilitas yang mengoperasikan Difa Cafe dapat ikut bersedekah kepada sesama.
Tapi pada praktiknya Difa Cafe tak pernah merugi. Bahkan pendapatan dari Difa Cafe mampu disisihkan sebagiannya. Uang yang disisihkan telah digunakan untuk membeli sepuluh kursi roda guna membantu para tunadaksa di Papua. “Bulan lalu kami kirim sepuluh kursi roda untuk teman-teman penyandang disabilitas di Papua. Uang untuk membeli kursi roda kami ambilkan dari hasil usaha kafe dan iuran teman-teman aktivis Forum Peduli Difabel Indonesia,” sambung dia.
Saputri menuturkan pendirian Difa Cafe bermula dari fenomena kesulitan para penyandang disabilitas mendapatkan pekerjaan. Padahal mereka juga butuh pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan guna memenuhi kebutuhan. Selain itu menurut dia para penyandang disabilitas butuh tempat untuk berkumpul dan nongkrong tanpa harus merasa malu karena dipandang berbeda. “Akhirnya kami buat kafe dengan memberdayakan teman-teman,” urai dia.
Ke depan Saputri berharap Difa Kafe yang merupakan singkatan dari Difabel Cafe bisa semakin berkembang. Dengan begitu kian banyak penyandang disabilitas yang ikut mendapatkan penghasilan dari kafe berkonsep wedangan tersebut.
Sedangkan salah seorang pengunjung Difa Cafe, Satita sangat senang dengan adanya wedangan yang menjadi tempat berkumpul penyandang disabilitas. Dengan begitu anaknya yang penyandang disabilitas tunarungu punya ruang berekspresi.
Selama ini dia dan keluarganya cukup sering berkunjung ke Difa Cafe untuk makan bersama dan bersilaturahmi dengan para penyandang disabilitas lain. “Anak saya selalu senang kalau saya ajak makan atau main ke sini,” tutur dia. (JIBI)