IKM Jamu Didorong Rambah Online

SUKOHARJO—Industri kecil menengah (IKM) jamu didorong bersinergi dengan industri besar untuk meningkatkan daya saing produk. Produk jamu bisa dipasarkan di marketplace atau online guna menyokong pencanangan Kabupaten Sukoharjo sebagai desa wisata jamu.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menggelar kegiatan bimbingan teknis IKM simplisia di Hotel Brothers, Solo Baru, Grogol, Selasa (3/12). Kegiatan itu dihadiri tiga perusahaan jamu skala besar yakni Sidomuncul, Konimex, dan Borobudur. Selain itu, sejumlah pengusaha jamu di Jawa Tengah ikut menghadiri kegiatan tersebut.
Ketua Koperasi Jamu Indonesia (Kojai) Sukoharjo, Suwarsi Moertedjo, mengatakan pengem-
bangan industri jamu didorong memiliki daya saing dan berkelanjutan. Pelaku usaha jamu harus inovatif dan memanfaatkan pesatnya teknologi informasi. Produk jamu bisa dijual di situs jual beli online.
“Mau tidak mau harus menyesuaikan kebutuhan dan permintaan pasar di era digital. Kami dorong agar industri jamu baik berskala kecil hingga besar berjualan secara online,” kata dia, Selasa.
Menurut Moertedjo, Kabupaten Sukoharjo dicanangkan sebagai destinasi wisata jamu pada Maret. Lokasi destinasi wisata jamu di sentra industri jamu di wilayah Nguter. Terdapat puluhan pengrajin jamu berskala besar maupun rumah tangga. Bahkan, ada pasar tradisional yang khusus menyediakan berbagai jenis jamu.
Dia berencana membangun jalur wisata edukasi mulai dari Stasiun Nguter menuju Kampung Jamu. “Para pelancong bisa naik kereta api dari Solo kemudian turun di Stasiun Nguter. Mereka bisa berjalan kaki menuju Pasar Jamu dan Kampung Jamu untuk melihat produksi dan pengemasan produk jamu,” ujar dia.
Sementara itu, Direktur Industri Kecil dan Menengah Bidang Pangan Barang dari Kayu dan Furnitur Kemenperin, Sri Yuniati, mengatakan pengembangan IKM jamu khususnya simplisia dengan menjalin kerja sama dengan perusahaan jamu besar. Simplisia merupakan bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat dan belum diolah. Simplisia berupa bahan alamiah yang telah dikeringkan.
Indonesia merupakan negara keempat industri obat herbal terbanyak di dunia setelah Tiongkok, India, dan Korea. Di Jawa Tengah, ada 17 industri obat tradisional, 76 usaha kecil obat tradisional dan 24 usaha mikro obat tradisional. “Arah pengembangan industri jamu dengan penguatan kerja sama IKM jamu dengan industri besar. Ini harus dilakukan agar industri jamu bisa bertahan termasuk berinovasi dalam mengemas produk dan menjual secara online,” kata dia. (Bony Eko Wicaksono)