DUNIA PENDIDIKAN Kunci Menghormati Guru Bukan Cuma Gaji

Menurut Global Teacher Status Index (GTSI) 2018 hasil riset dari Varkey Foundation, negara yang paling menghormati profesi guru adalah China dan Malaysia. Sedangkan Indonesia berada pada posisi negara ke lima yang paling menghormati profesi guru. Berikut laporan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.

redaksi@koransolo.co

Founder Varkey Foundation, Sunny Varkey mengatakan survei ini merupakan survei kedua yang mereka lakukan [tahun lalu pada 2013] dan sekarang ada peningkatan bagaimana status guru lebih dihormati di seluruh dunia. Akan tetapi masih banyak kendala agar mereka mendapatkan penghormatan yang layak mereka dapatkan,” kata Varkey dalam laporan GTSI 2018 yang dirilis belum lama ini.
Survei ini dilakukan di 35 negara, di mana jumlah negara ini meningkat dari survei serupa pada lima tahun lalu yang hanya 21 negara. Ada 1.000 orang yang disurvei dalam masing-masing negara. Baik itu seorang guru maupun masyarakat umum.
Survei ini seperti dilansir washingtonpost.com menggunakan beberapa indeks untuk mengukur seberapa dihormatinya profesi guru di sebuah negara. Penghormatan terhadap guru dijadikan patokan komitmen suatu negara terhadap sistem pendidikan mereka dan akhirnya berpengaruh pada output kualitas siswa yang dihasilkan.
Adapun indeks tersebut adalah posisi status sosial guru, seberapa dihormati profesi guru di mata profesi lain, opini masyarakat tentang seberapa besar seharusnya gaji seorang guru, dan apakah orang tua akan mendorong anaknya menjadi seorang guru.
Dilansir dari laporan resmi GTSI 2018, berdasar semua indeks itu, ada lima negara teratas yang memberi nilai indeks tinggi bahkan sempurna hingga menyentuh angka seratus. Artinya lima negara dengan peringkat teratas tersebut siswanya sangat menghormati profesi guru. Negara tersebut adalah China (100), Malaysia (93,3), Taiwan (70,2), Rusia (65) dan Indonesia (62,1).
Dalam survei dijelaskan bahwa status guru dinilai berdasarkan perbandingan antara profesi guru sekolah dasar dan sekolah menengah terhadap profesi lainnya, bagaimana profesi guru dikomparasi dengan profesi sosial sejenis, dan pemeringkatan penghargaan terhadap guru di mata siswa memandang profesi guru.
Dari 35 negara tersebut, profesi guru mendapat peringkat penghormatan nomor tujuh dari 14 profesi lainnya seperti dokter, pemustaka, perawat dan lain-lain. Mayoritas negara lebih menghormati kepala guru daripada guru SD atau SMP. Namun China, Malaysia dan Indonesia adalah tiga negara dengan indeks penghormatan tertinggi terhadap ketiganya, yaitu di atas 6 dari indeks sempurna 10.
Kesimpulan terhadap hasil peringkat tersebut memperlihatkan negara-negara Eropa dan Amerika Latin adalah kelompok negara yang sangat pesimis dengan tingkat penghormatan para murid kepada guru-guru mereka. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Asia dan Timur Tengah.
Di banyak negara-negara Eropa, sebagian besar responden menilai semakin banyak murid tidak menghormati guru-guru mereka. Brasil berada di urutan buncit (1), diikuti Israel (6,6) dan Italia (13,6) sebagai negara dengan tingkat penghormatan guru terendah.
Gaji Memengaruhi Status
Survei ini juga menjelaskan bahwa bagaimana siswa menghormati gurunya tergantung dari bagaimana orang tua mereka menghormati profesi guru. Hasilnya 50% orang tua di China dan Malaysia menyemangati anak mereka untuk menjadi guru saat mereka sudah lulus. Sebaliknya, hanya 8% orang tua yang melakukan hal itu di Israel dan Rusia.
Peringkat profesi guru baik dalam kumpulan profesi lain, profesi sesama guru dan tentunya bagaimana orang tua memandang profesi guru menentukan apakah seseorang akan memilih profesi ini di suatu negara, bagaimana mereka akan dihormati, dan dihargai secara finansial (gaji). Di mana semua hal tersebut berdampak pada cara mengajar guru dan cara para guru menyampaikan ilmu pengetahuan pada siswa.
Intinya, survei ini mengatakan bahwa gaji guru sebagai simbol dari penghormatan masyarakat akan berpengaruh pada kualitas output siswa yang diukur dengan Programme for International Student Assessment (PISA).
Di mana PISA merupakan sistem ujian yang diinisiasi oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), untuk mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di seluruh dunia.
Hasilnya, China yang memiliki indeks GTSI maksimal 100 sebenarnya tidak memiliki gaji guru yang terlalu besar, yaitu hanya US$12.210 per tahun (sekitar Rp172 juta). Sementara untuk skor PISA, China menempati peringkat ke 7 dari 29 negara sampel studi. Di sisi lain, Indonesia yang memiliki indeks 62,10 dan gaji guru yang lebih besar dari China yaitu US$14.408 per tahun (Rp203 juta) masih memiliki skor PISA yang rendah dibanding negara-negara lain di Asia termasuk China, yakni peringkat 27 dari 29 negara.
Akan tetapi pernyataan GTSI 2018 bahwa kesejahteraan guru memengaruhi kualitas pendidikan berlaku di Taiwan dan Korea. Penghormatan dan gaji yang cukup tinggi memengaruhi rangking PISA. Korea Selatan memiliki gaji guru 33.141 USD dengan rangking PISA enam sedangkan Taiwan memiliki gaji guru 40.821 dengan rangking 3,5. Di mana dua rangking PISA negara-negara ini sebanding dengan gaji tinggi yang mereka berikan pada guru.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada beragam faktor yang memengaruhi keberhasilan guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan siswa menunjukkan pentingnya keseimbangan antara peningkatan kesejahteraan guru dan elemen lainnya seperti seperti standar pendidikan, tingkat kemampuan siswa, dan peningkatan kualitas guru lewat pelatihan dan training.
“Penelitian ini menguatkan penelitian sebelumnya yang dilakukan pada 2013. Kami menemukan hubungan antara gaji yang tinggi dengan kualitas rekrutmen guru, sehingga para guru yang memiliki status itu memiliki peran dalam menghasilkan output siswa,” kata laporan GTSI 2018. (salsabila@harianjogja.com)