SURVEI PISA 2018 Kualitas Pendidikan Indonesia Turun sejak 2015

JAKARTA—Survei Program for International Student Assessment (PISA) 2018 menunjukkan kualitas pendidikan Indonesia turun sejak 2015 ke 2018. Laporan PISA 2018 ini dirilis pada Selasa (3/12). Survei ini diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Survei PISA merupakan rujukan dalam menilai kualitas pendidikan di dunia.
Studi pada 2018 ini menilai 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara setiap tiga tahun. Studi ini membandingkan kemampuan Matematika, membaca, dan kinerja sains dari tiap anak.
Dari laporan terbaru tersebut, performa Indonesia terlihat menurun jika dibandingkan dengan laporan PISA 2015. Hal ini bisa dilihat dari tiga aspek yang dinilai.

Hasil PISA 2018 menunjukkan kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, meraih skor rata-rata yakni 371. Skor itu jauh di bawah rata-rata OECD yakni 487. Kemampuan membaca berada pada peringkat ke-74 dari 79 negara. Kemudian untuk skor rata-rata Matematika adalah 379 padahal skor rata-rata OECD 487. Indonesia berada di peringkat ke-73 dari 79 negara.
Terkait sains, skor rata-rata siswa Indonesia 389 sedangkan skor rata-rata OECD yakni 489. Indonesia pada peringkat ke-71 dari 79 negara.
Laporan OECD menunjukkan sedikit siswa Indonesia yang memiliki kemampuan tinggi dalam satu mata pelajaran. Pada saat bersamaan sedikit juga siswa yang meraih tingkat kemahiran minimum dalam satu mata pelajaran.
Dalam kemampuan membaca, hanya 30 persen siswa Indonesia yang mencapai setidaknya kemahiran tingkat dua dalam membaca. Padahal rata-rata OECD yakni 77 persen siswa.
Sedangkan untuk bidang matematika, hanya 28 persen siswa Indonesia yang mencapai kemahiran tingkat dua OECD, sementara rata-rata OECD adalah 76 persen. Dalam tingkatan itu, siswa dapat menafsirkan dan mengenali tanpa instruksi langsung bagaimana situasi yang dapat direpresentasikan secara matematis.
Indikator dan metode yang digunakan untuk survei PISA 2015 dan 2018 sama. Hal yang membedakan, jika 2015 ada 70 negara yang disurvei, maka pada 2018 bertambah menjadi 79 negara.
Menanggapi laporan PISA 2018, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, menyebut laporan itu sebagai masukan berharga. ”Laporan PISA sangat penting, memberi kita semua perspektif pendidikan Indonesia. Terkadang kita tidak sadar dengan apa yang menjadi perhatian PISA ini,” ujar Nadiem dalam peluncuran hasil PISA di Jakarta, Selasa.
Nadiem mengibaratkan hasil penelitian PISA sebagai guru penggerak yang datang ke kelas untuk mengobservasi kondisi kelas. Dia menyebutnya sebagai cara belajar. ”Kita tidak bisa mengetahuinya tanpa ada perspektif dari luar. Kunci belajar mendapatkan perspektif dari berbagai bidang,” kata dia.
Mendikbud meminta data PISA disampaikan apa adanya untuk bahan evaluasi. Dia menyoroti sejumlah kemajuan Indonesia, terutama upaya menarik anak-anak di luar sekolah agar kembali bersekolah. Meski demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Pertama, hampir semua sumber daya dan guru yang bagus berkumpul di sekolah bagus. Sekolahan bagus ini diisi siswa yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang bagus.
Kedua, perundungan masih terjadi di sekolah. Nadiem terkejut karena masih banyak perundungan di sekolah.
”[Ketiga] Kemudian dari sisi kebahagiaan, siswa-siswa kita memiliki ketabahan yang tinggi. Ini harus ditangani, mau sampai kapan anak-anak kita dengan ketabahan bisa mengatasi trauma. Trauma itu tidak terlihat dalam waktu pendek, dalam dalam jangka panjang bermutasi ke arah yang tidak positif. Dalam hal ini, pendidikan karakter menjadi kunci,” kata dia.
Keempat dari perkembangan pola pikir optimistis, siswa Indonesia termasuk rendah. Siswa, kata Nadiem, dibiarkan dengan ketidakmampuan mengenali potensi diri. Untuk itu penting menanamkan rasa percaya diri pada siswa.
Kelima, kecenderungan sekolah negeri lebih tinggi nilainya dibandingkan sekolah swasta. Padahal di negara lain, sekolah swasta memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan sekolah negeri. (Antara/Detik/JIBI)