Warga Tolak City Walk Jadi Kantong Parkir

SOLO—Sejumlah kalangan menolak wacana alih fungsi sebagian area city walk menjadi kantong parkir.

MARIYANA RICKY P.D.
redaksi@koransolo.co

Mereka menuding Pemerintah Kota (Pemkot) Solo tak melibatkan warga dalam perencanaan tersebut hingga kajian ekstensifikasi ruang parkir di area tersebut rampung disusun. Hal itu terangkum dalam Rembug Soloraya yang digelar Harian Umum Solopos bekerja sama dengan Fave Hotel Solo, Rabu (4/12).
Tokoh masyarakat Solo yang juga pendiri Republik Aeng-aeng, Mayor Haristanto, meminta pemimpin daerah tak hanya memikirkan ekonomi atau pemasukan daerah. Kota membutuhkan ruang kosong untuk aktivitas warga.

Ia menyayangkan Pemkot membuat kebijakan tanpa mendengarkan masukan dari sejumlah pihak.
“Jl. Slamet Riyadi adalah etalase Kota Solo. Bayangkan, setelah jalur hijau di sisi utara dipakai untuk ruang parkir, kini gantian sisi selatan. Solo akan kehilangan wajahnya. Apalagi, city walk sering jadi percontohan daerah lain. Apakah keberadaan kantong parkir ini sepadan dengan citra Solo yang selama ini dibangun,” kata dia.
Hal senada disampaikan Sadrah Deep yang mewakili pegiat wisata dan anak muda Solo. Ia menyebut di tengah kepadatan permukiman warga di Kota Bengawan, city walk yang luas seolah menjadi ruang warga untuk bernapas. Apalagi jika mengingat momen sebelum puluhan pedagang kaki lima (PKL) di area tersebut dipindahkan ke belakang Stadion Sriwedari.
“Kami menyantap makanan sambil membaca koran dan melihat betapa cepatnya mobilitas masyarakat. Di situ akan muncul diskusi dan obrolan yang menyenangkan. Pikiran dan tubuh seolah diajak rekreasi. Kalau sekarang sudah tidak ada, saya tetap membayangkan ada rumah makan atau restoran yang menghadap city walk dan kami bisa merasakan itu lagi. Ruang kosong tersebut adalah ruang untuk kami sedikit bernapas,” ucapnya.
Direktur Kota Kita, Ahmad Rifai, mengatakan ketika berbicara mengenai city walk di Jl. Slamet Riyadi akan banyak menyentuh berbagai faktor. Di antaranya identitas kota, kawasan ekonomi, jalur pedestrian, desain kota, kantong parkir untuk pemasukan daerah, dan sebagainya. “Kalau soal kantong parkir, tentu soal angka. Berapa yang dihasilkan saat ekstensifikasi ruang parkir itu dilakukan. Dampaknya bagaimana untuk kawasan usaha di sana. Seharusnya kajian enggak hanya menyasar kantong parkir tapi sampai pertumbuhan ekonomi di situ,” kata dia.
Rifai meminta kajian itu tak sekadar memberi solusi jangka pendek tapi lebih panjang. Misalnya, rencana pembangunan kawasan ekonomi yang lebih mudah diakses. Ia menyebut lahan parkir tambahan bagi 1.344 motor dan 143 mobil yang dihasilkan dari pemanfaatan area city walk tak sebanding dengan dampak ke depan. Apalagi jika Pemkot ingin membangun budaya jalan kaki dan menumpang kendaraan umum.
“Saya tahu akan sulit menumbuhkan budaya itu. Warga pasti enggak mau jalan kaki karena panas, capai, dan sebagainya. Tapi, kalau kota mewujudkan itu, ada infrastruktur memadai bagi pedestrian, maka ada mimpi besar di sana. London, Seoul, bisa mewujudkan itu. Mereka membangun zona ekonomi yang memaksa warganya untuk berjalan kaki. Mereka memarkir kendaraan di satu tempat, lalu saat menuju kawasan perekonomian itu, mereka harus berjalan kaki,” ucapnya.
Dalam kesempatan sama, Kabid Perparkiran Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo, Henry Satya Nagara, mengaku penerapan ekstensifikasi ruang parkir di area city walk masih melalui tahap uji coba. “Dalam waktu dekat uji coba akan dilakukan. Kami tengah menyiapkan markah, pemasangan rambu dan sebagainya.” (JIBI)