Lagi, Patung Bung Karno di Solo

SOLO—Patung Ir. Soekarno kembali bakal berdiri di Kota Solo. Sejumlah warga menilai jumlah patung Bung Karno sudah banyak di Kota Bengawan.

WAHYU PRAKOSO
redaksi@koransolo.co

Patung Proklamator RI tersebut bakal berada di ujung Jl. Ir. Sutami, Jurug. Pantauan Koran Solo, Kamis (5/12), patung Bung Karno dan kuda dari perunggu sudah tiba di Jl. Ir Sutami. Patung tersebut belum dipasang pada fondasi yang baru disiapkan pekerja.

Salah satu warga, Sidiq Bachtiar, 31, yang melintasi Jl. Ir. Sutami pada Rabu malam dan melihat patung Bung Karno menyayangkan pembangunan patung yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo dengan memilih tokoh Bung Karno.
“Sudah banyak patung Bung Karno di Solo. Seharusnya bisa dipertimbangkan membangun patung dengan tokoh lain,” ujar dia kepada Koran Solo, Kamis.
Menurut Sidiq, patung yang pas dibangun pada lokasi tersebut dengan mendirikan patung Gesang Martohartono karena telah berjasa memopulerkan ke seluruh dunia dengan lagu ciptaannya, Bengawan Solo.
Gesang juga dinilai cocok karena lokasi pembangunan berada di sekitar Bengawan Solo.
“Belum ada museum Gesang di Solo. Adanya baru Taman Gesang di Jurug. Pemilihan tokoh Ir. Sutami juga menarik karena riwayat beliau asli Solo dan sesuai dengan nama jalan,” jelas dia.
Hal senada disampaikan Alfinas, 19, yang berpendapat telah banyak patung atau bangunan dengan tokoh Bung Karno, antara lain Monumen Pemersatu Bangsa Soekarno-Hatta, patung di Plaza Manahan, dan RSUD Bung Karno Solo. Belum lagi di dekat perbatasan Solo dengan Sukoharjo di Solo Baru.
“Bangun patung tidak harus tokoh. Bisa membangun patung yang khas Solo. Bisa mengangkat budaya Solo,” papar dia.
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Didik Gunawan Suharto, menyatakan pembangunan patung untuk melengkapi ruang terbuka hijau dengan mengarahkan patung kepada fungsi sejarah tokoh yang memiliki peran besar kepada bangsa atau kota, fungsi pengingat atau pembelajaran bagi publik mengenai peristiwa tertentu, dan fungsi pemasaran kota.
“Sebenarnya fungsi patung untuk mengembangkan image atau brand kota. Patung sebagai ikon kota. Kalau saya cermati pembangunan patung belakangan ini untuk mengembangkan branding tidak begitu tampak dibandingkan pembangunan patung pada massa lalu,” ujar dia saat ditemui di kantornya, Kamis.
Dia menjelaskan pembangunan patung tidak harus menggunakan tokoh orang, tetapi bisa menggunakan budaya pada kota tersebut. “Pengembangan atau pembangunan patung dengan konsep tertentu alangkah baiknya melibatkan pandangan yang berkompeten, dari kesejarahannya atau dari branding kota melibatkan pakar manajemen perkotaan sehingga kebijakan tersebut lebih bisa dipertanggungjawabkan,” papar dia.
Pengamat tata kota dari UNS Solo, Rizon Pamardhi Utomo, menjelaskan pembangunan monumen patung tokoh terhormat di Solo  sudah dimulai beberapa saat lalu, antara lain Slamet Riyadi di Gladag dan Bung Karno di Manahan. Pembangunan patung Jenderal Besar Sudirman dinilai menjadi lebih beragam.
“Kebetulan di taman segitiga RSJD Solo juga sudah ada patung Soekarno-Hatta. Lebih baik lagi bila tokoh yg dipilih ada relasi tempat dengan lokasi sehingga menjadi penanda tempat yang lebih bermakna,” ujar dia.
Menurut dia, konsekuensi kehadiran monumen baru yang menggeser monumen lama Wahana Tata Negara (WTN) karena  memang bangunan lama kurang bermakna dan tidak memiliki relasi dengan lokasi pembangunan. Ditambah, masyarakat kurang memahami bangunan tersebut.
“Ide untuk menarik pengunjung mendekat agak riskan juga. Calon patung ini terletak di tengah jalan arteri primer dengan lalu lintas padat kecepatan tinggi. Orang harus berhenti dan parkir,” papar dia.
Sebelumnya, Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengatakan pemilihan Bung Karno untuk kembali diabadikan menjadi patung karena perjuangan  presiden pertama Indonesia. Proyek senilai Rp4,479 miliar tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Perubahan 2019. (JIBI)