KA Bandara Segera Diuji Coba

FARIDA TRISNANINGTYAS

SOLO—KA Bandara yang menghubungkan Stasiun Solo Balapan dan Stasiun KA Bandara Adi Soemarmo siap uji coba operasional. Balai Teknik Perkeretaapian Kelas 1 Wilayah Jawa Bagian Tengah menjadi pihak bertanggung jawab atas proyek pembangunan rel KA Bandara.
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas 1 Wilayah Jawa Bagian Tengah, Bram Hertasning, mengatakan proses pengerjaan jalur KA Bandara ini dilakukan dengan menerapkan standar keselamatan tinggi dengan proses pengujian berlapis.
“Nantinya kereta api ini menghubungkan Stasiun Solo Balapan dengan Bandara Adi Soemarmo sehingga mempermudah masyarakat dalam beraktivitas. KA Bandara tersebut akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo,” tuturnya, kepada Koran Solo, Senin (9/12).
Bersambung
ke Hal. 6 Kol. 4
Lebih lanjut Bram menjelaskan sesuai tahapan dalam pengerjaan proyek, setelah konstruksi rel KA Bandara rampung, dilakukan pengujian dilanjutkan uji coba serta evaluasi sebelum akhirnya digunakan untuk masyarakat umum. Sesuai timeline pekerjaan, pengecoran terakhir pada terowongan di bawah tol, Jumat (20/12). Butuh waktu tujuh hari untuk proses pengeringan. Adapun termasuk tunnel IC pada Selasa (24/12) dilanjutkan pemecokan dengan multi tie temper (MTT) atau mesin perawatan jalan rel (MPJR). Pemecokan adalah memadatkan balast (bagian dari badan jalan kereta api tempat penempatan bantalan rel) di bawah rel kereta api agar rel lebih tahan lama. Dengan demikian, uji coba diharapkan dapat dilaksanakan pada Sabtu (28/12) mendatang.
“Arahan dari Pusat, pengerjaan sesuai timeline, tetapi kami diminta percepatan sehingga akhir Desember bisa dilakukan seremonial. Kehadiran kereta bandara di Solo wujud cita-cita pemerintah menciptakan konektivitas antarmoda angkutan massal,” imbuhnya.
Sebelumnya, Manajer Humas PT KAI Daops VI Yogyakarta, Eko Budiyanto, mengatakan bakal beroperasinya KA Bandara ini demi melayani masyarakat. Dalam hal ini banyaknya trip KA Bandara dalam sehari diatur sedemikian rupa serta berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait. Trip KA Bandara ini termaktub dalam Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2019 yang resmi berlaku 1 Desember 2019.
Operasional KA Bandara sebanyak 60 kali perjalanan pergi pulang (PP) dalam sehari. Jadwal keberangkatan KA Bandara ini dari Stasiun Solo Balapan dimulai pukul 04.25 WIB dan terakhir pukul 23.14 WIB. Dari Stasiun KA Bandara Adi Soemarmo, KA berangkat paling awal pukul 04.53 WIB dan terakhir pukul 23.42 WIB. Adapun waktu tempuh KA Bandara 19 menit.
“Jarak Solo Balapan dengan bandara sekitar 12,997 km. Nantinya melewati tiga stasiun, yakni Solo Balapan, Kadipiro, dan Bandara,” jelasnya.
Flyover
Sementara itu, simpang tujuh Joglo akan macet parah akibat dari beroperasinya KA Bandara. Pembangunan flyover merupakan langkah ideal meski membutuhkan waktu lama dan biaya besar.
Ketua Komisi II DPRD Solo, Y.F. Sukasno, saat diwawancarai Koran Solo, Senin (9/12), mengakui opsi membangun jalan layang Joglo membutuhkan anggaran yang sangat besar.
“Rekayasa lalu lintas saya kira sudah tidak mungkin lagi [kalau KA Bandara beroperasi],” ujar dia. Politikus PDIP tersebut menjelaskan opsi pembangunan jalan layang Joglo butuh uluran tangan atau bantuan anggaran dari pemerintah pusat.
Sedangkan Pemkot Solo berkontribusi dalam hal dana pendampingan untuk mendukung proyek. Dia mencontohkan dana pendampingan sekitar Rp10 miliar untuk pemindahan sarana utilitas di kawasan Simpang Purwosari.
Kendati sekadar dana pendampingan, menurut Sukasno dana yang dibutuhkan akan sangat besar bagi Pemkot Solo. “Karena butuh anggaran cukup besar saya kira ya perhatian pemerintah pusat dalam hal ini sagat diperlukan,” terang dia.
Sedangkan untuk opsi jangka pendek mengantisipasi kemacetan di kawasan Joglo adalah mencari jalur alternatif. Pengguna jalan diarahkan mengambil jalur arah Ngemplak atau Kreteg Abang, menghindari kawasan Joglo. Dengan begitu kendaraan yang lewat Joglo akan berkurang.
Dia juga mengingatkan pengguna jalan agar tidak nekat melalui perlintasan sebidang Nusukan untuk menghindari kawasan Joglo. Apa pun kondisinya, menurut dia, perlintasan sebidang tanpa palang sangat membahayakan. (JIBI/Kurniawan)