DEMONSTRASI DI PT RUM Demonstran Pukul Kentungan Tanda Bahaya

BONY EKO WICAKSONO

SUKOHARJO—Warga dari sejumlah daerah di Sukoharjo berunjuk rasa di depan pintu gerbang PT Rayon Utama Makmur (RUM), Nguter, Sukoharjo, Selasa (10/12). Mereka tak henti-hentinya memukul kentungan sebagai simbol tanda bahaya lantaran bau busuk dari PT RUM tak kunjung hilang.
Berdasarkan pantauan Koran Solo, ribuan warga berkumpul di depan pintu gerbang pabrik serat rayon sekitar pukul 13.30 WIB. Mereka membentangkan berbagai spanduk yang berisi desakan penyelesaian pencemaran lingkungan dan pencabutan izin lingkungan. Sebagian warga memukul kentungan sebagai simbol tanda bahaya. Pemukulan kentungan itu berlangsung beberapa saat.
Sejumlah warga berorasi di mobil pikap. Mereka menuntut penyelesaian kasus pencemaran lingkungan dan penutupan PT RUM.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
Warga terus mencium bau busuk sejak PT RUM beroperasi pada 2017.
“Bau busuk merebak tak hanya di wilayah Nguter melainkan Bendosari dan Polokarto yang jaraknya puluhan kilometer,” kata tokoh masyarakat Desa Pengkol, Tomo.
Aksi itu digelar bertepatan Hari HAM Internasional 10 Desember. Berkaitan dengan momen itu, warga menyampaikan menghirup udara segar merupakan hak asasi manusia. Sejak PT RUM beroperasi pada dua tahun lalu, warga setempat kesulitan menghirup udara segar. Mereka harus memakai masker di dalam rumah untuk melawan bau busuk.
Sebelum melakukan aksi itu, warga melakukan berbagai upaya menuntut penyelesaian limbah udara. Tak hanya aksi unjuk rasa, warga juga mengadu ke instansi dan lembaga negara. Selain itu, warga juga pernah mengadu ke Polres Sukoharjo soal pencemaran lingkungan.
“Kami tak ingin selamanya menghirup bau busuk. Jika manajemen PT RUM tak bisa mengatasi lebih baik tak perlu berproduksi daripada mengganggu masyarakat,” ujar dia.
Unjuk rasa itu dijaga ketat aparat Polri dan TNI. Penjagaan itu dilakukan secara berlapis. Dalam aksi itu, warga meminta bertemu manajemen PT RUM. Namun, tak ada wakil PT RUM yang menemui warga.
Kapolres Sukoharjo, AKBP Bambang Yugo Pamungkas, menyatakan polisi menjaga unjuk rasa itu. Warga bisa menyampaikan aspirasi dan unek-uneknya sesuai prosedur. Yugo meminta aksi berjalan damai dan lancar.
Sekretaris PT RUM, Bintoro Dibyoseputro, menghormati aksi warga. Bintoro juga menghargai berbagai aspirasi dan keinginan warga serta memperhatikan keluhan soal limbah udara.
Bintoro menyatakan manajemen PT RUM berkomitmen meningkatkan tata kelola lingkungan termasuk pembenahan limbah udara. Pengerjaan ruang penyedot uap H2S di sekitar instalasi pengolahan air limbah atau waste water treatment plant (WWTP) telah rampung.
“Kami menghargai aspirasi masyarakat ihwal limbah udara. Justru aspirasi dan keluhan warga menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan tata kelola lingkungan,” kata dia.
Aksi itu kebanyakan diikuti warga Sukoharjo. Kapolsek Selogiri, AKP Dirodo, mewakili Kapolres Wonogiri, AKBP Christian Tobing, mengatakan warga Wonogiri tidak terlibat dalam aksi di Sukoharjo. Padahal bau busuk juga melanda Kabupaten Wonogiri.
Mengatasi itu, Pemkab Wonogiri akan menggelar mediasi lanjutan antara PT RUM dan warga korban PT RUM di Kecamatan Selogiri dan Wonogiri. Pemkab meminta kepastian kapan masalah limbah ini berakhir.
Demo Mahasiswa
Sementara itu, mahasiswa dan masyarakat yang menggelar aksi peringatan Hari HAM menyisipkan pesan pencemaran lingkungan yang dilakukan PT RUM.
Belasan mahasiswa dari Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND ) Sukoharjo berunjuk rasa di depan Gedung Pemkab Sukoharjo.
Mahasiswa menyampaikan delapan tuntutan yakni penghentian konflik agraria yang merampas ruang hidup rakyat, membebaskan Luthfi, penghentian kriminalisasi dan pelanggaran HAM di Papua, mewujudkan pendidikan gratis, ilmiah, dan demokratis.
Mereka juga menuntut jaminan kesehatan rakyat semesta, pengusutan tuntas kasus penembakan aktivis demonstrasi pada September 2019, selesaikan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu. Mereka juga meminta pembekuan izin lingkungan hidup PT RUM.
“Bagaimana mungkin rakyat Indonesia bisa hidup aman nyaman apabila masih ada bau yang tidak sedap yang dihasilkan oleh PT RUM,” kata orator Ahmad Suyadi.
Di Solo, Aliansi Soloraya Bergerak menggelar aksi unjuk rasa di depan Balai Kota Solo, Selasa sore. Petugas humas Soloraya Bergerak, Dimas Suro Aji, mengatakan demonstrasi hari HAM itu mengusung tema reformasi dikorupsi, demokrasi direpresi, dan HAM dikebiri.
“Kami menilai negara gagal dalam menjamin HAM warga negaranya, terutama melihat tindakan represi aparat baik TNI dan/atau Polri dalam penanganan massa saat aksi pada 24 dan 30 September di berbagai kota. Belum lagi penangkapan sejumlah massa aksi dan pemidanaan mereka,” ucap Suro, kepada wartawan, Selasa.
Suro juga menyinggung aparat yang diduga melindungi pabrik perusak lingkungan PT RUM dan pengawasan berlebih terhadap Aksi Kamisan Solo.
“Kami juga menuntut pemerintah bertanggung jawab terhadap konflik agraria di Soloraya dan pengrusakan lingkungan oleh PT RUM. Kami ingin pemerintah mewujudkan pendidikan gratis, demokratis, ilmiah yang bervisi kerakyatan, serta menolak pemaksaan fullday school. Kami menuntut reformasi di tubuh TNI/Polri, menolak kenaikan iuran BPJS, dan menolak wacana penambahan periode jabatan presiden,” tandas Suro.
Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum UMS itu juga mengadakan aksi sejenis di Jl. A. Yani. Mereka juga menyinggung pencemaran PT RUM Sukoharjo. (Cahyadi Kurniawan/Indah Septiyaning W./ M. Aris Munandar/JIBI)