Efektivitas Vaksin Flu Terus Dipertanyakan

Vaksin flu seringkali tidak efektif untuk menangkal virus influenza yang menyebar saat musim flu. Terkait hal ini, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengatakan penyebabnya adalah ketidaksesuaian kekebalan vaksin dengan jenis virus influenza. Meskipun begitu, peneliti menyarankan masyarakat agar tetap menggunakan vaksin untuk mengurangi risiko terserang flu. Berikut ini ulasan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Salsabila Annisa Azmi.

redaksi@koransolo.co.id

Vaksin flu adalah hal efektif untuk melindungi diri kita dari infeksi virus flu. CDC mengatakan masih terlalu dini untuk mengukur efektivitas vaksin flu tahun ini. Namun seorang peneliti kesehatan dari STAT, Hellen Branswell me­ngatakan apabila tahun ini virus flu didominasi oleh H1N1, maka vaksin flu harus efektif. Sedangkan pada kenyataanya, tingkat efektivitas vaksin flu tidak 100% efektif, bahkan mendekati 100% saja tidak.
Berdasarkan ulasan Tania Elliot, seorang spesialis penyakit infeksi terkait alergi dan imun dari New York University Langone Health yang dilansir dari insider.com, di tahun-tahun tertentu, tingkat efektivitas vaksin flu dapat mengurangi risiko terserang virus influenza hingga 60%. Artinya, manusia memiliki 40% kemungkinan terserang virus influenza bahkan jika kita sudah melakukan vaksinasi.
Namun di tahun-tahun yang buruk, tingkat efektivitas vaksin flu dapat menurun hingga di bawah 20%. Artinya, manusia memiliki 80% kemungkinan terserang virus influenza bahkan ketika kita sudah melakukan vaksinasi. Perbedaan kemungkinan terserang virus flu setelah divaksinasi ini sebenarnya tergantung dari vaksin itu sendiri.
Ada alasan mengapa tingkat efektivitas virus berbeda-beda setiap tahunnya. Setiap tahun, vaksin flu dirancang untuk melindungi tiga hingga empat jenis virus influenza yang berbeda. Dilansir dari insider.com, World Health Organization (WHO) memilih strain (kekebalan vaksin) untuk mengantisipasi musim flu di belahan selatan berdasarkan jenis virus influenza yang telah menyerang belahan selatan enam bulan sebelumnya.
Namun terkadang kekebalan vaksin yang diterapkan di belahan selatan tidak sesuai dengan kekebalan virus influenza yang beredar di musim flu tersebut. Hal ini memang dapat terjadi saat jenis baru virus influenza menyebar disaat yang tidak tepat.
“Memang terkadang ada hal darurat yang tidak terprediksi dan itulah alasan mengapa vaksin flu tidak 100 persen efektif,” kata Graham Snyder, Kepala Kesehatan Pencegahan Infeksi dari Fakultas Kedokteran Unversity of Pittsburgh Amerika Serikat.
Misalnya seperti yang terjadi selama musim flu 2014-2015. Tahun itu ada beberapa jenis virus flu yang disebut H3N2. Akan tetapi vaksin yang digunakan masyarakat sebelumnya tidak memiliki kekebalan yang cocok dengan sebagian besar jenis H3N2. Para peneliti memperkirakan bahwa vaksin flu tersebut hanya memiliki tingkat efektivitas 13% untuk mengatasi virus H3N2.
Hal ini juga menjelaskan mengapa musim flu di tahun tersebut memiliki persentase rawat inap dan kematian akibat influenza yang tertinggi dibandingkan dengan lima musim flu sebelumnya. Selama musim flu tahun 2016-2017 yang lebih moderat, vaksin flu diperkirakan memiliki tingkat efektivitas secara keseluruhan 40%. Menurut CDC, vaksin flu mencegah sekitar 5,3 juta penyakit flu dan 2,6 juta kunjungan medis.
Oleh karena itu, untuk vaksin influenza tahun ini, FDA telah merekomendasikan vaksin flu itu akan mengandung tipe H1N1, H3N2, dan dua versi tipe-flu B. Jadi efektivitas vaksin tahun ini akan tergantung pada virus flu mana yang beredar di musim flu ini.
Disarankan Vaksinasi
Data Indonesia Total Market Audit Q1 2017 menunjukkan, jumlah vaksinasi influenza yang dilakukan masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Cakupannya hanya berkisar 500.000 dosis vaksin per tahun.
Jika ditinjau dari sisi kelompok berisiko, cakupan vaksinasi influenza di kalangan petugas kesehatan di Indonesia pun masih terbilang rendah bila dibandingkan dengan Singapura, Korea Selatan dan Thailand. Negara-negara tersebut mewajibkan vaksinasi influenza secara rutin setiap tahun untuk melindungi petugas kesehatan serta mencegah penularan influenza kepada pasien.
“Vaksinasi influenza merupakan cara pencegahan yang terbukti efektif. Vaksinasi influenza ini efektif memberikan perlindungan hingga 90 persen bagi seseorang yang menerima vaksin dalam kondisi sehat, berusia kurang dari 65 tahun,” kata Ketua Indonesia Influenza Foundation (IIF), Cissy B Kartasasmita dilansir dari Liputan6.com.
Ada alasan mengapa kita harus rutin menggunakan vaksin influenza. Sebab vaksin influenza hanya dapat bertahan kurang lebih satu tahun. Berdasarkan Centers for Disease Control and Prevention, lama waktu vaksin influenza tersebut dipengaruhi mutasi virus.
Mutasi virus yang dimaksud disebabkan karena adanya antigenicdrift atau mutasi minor (ringan) saat virus influenza melakukan replikasi sehingga bersirkulasi virus galur yang baru. Galur virus merupakan satu generasi keturunan. Dalam hal ini istilah yang sering digunakan yakni tipe atau strain virus.
“Oleh karena itu, vaksinasi influenza perlu dilakukan secara rutin setiap tahun. Untuk efektivitasnya, vaksin influenza membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu dalam proses membentuk antibodi setelah vaksinasi dilakukan,” kata Cissy.
Efektivitas vaksinasi juga bergantung pada galur dalam vaksin influenza. Sebab galur virus influenza dapat berubah setiap tahun.
Hal tersebut menjadi laar belakang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan rekomendasi tahunan komposisi galur virus influenza. Ada dua galur virus influenza, yaitu Northern Hemisphere (NH) dan Southern Hemisphere (SH).
Seiring perkembangan teknologi kesehatan akhirnya memungkinkan empat galur virus, yaitu dua galur A dan dua galur B, yang terdapat dalam satu vaksin influenza.
Vaksin ini dikenal dengan nama vaksin influenza kuadrivalen. Hal ini tertulis dalam laporan The Need For Quadrivalent Vaccine Against Seasonal Influenza (2010). (redaksi@harianjogja.com)