Puluhan Remaja Nikah Dini Dinilai Wajar

WONOGIRI—Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKB P3A) menilai angka pernikahan dini di Wonogiri masih dalam batas kewajaran.
Kendati demikian akselerasi program masih sangat dibutuhkan untuk mengintervensi masalah tersebut.
Indikator paling jelas adanya pernikahan dini dapat dilihat dari data pengajuan dispensasi kawin di Pengadilan Agama (PA). Dispensasi sebagai syarat menikah bagi orang yang usianya belum mencapai batas minimal pernikahan sebagaimana diatur Undang-Undang (UU) No. 1/1974 yang diperbarui dengan UU No. 16/2019 tentang Pernikahan.
dALAM UU Perkawinan lama batas minimal usia perkawinan bagi perempuan 16 tahun, sedangkan laki-laki 19 tahun. Sementara, pada UU Perkawinan baru batas minimal usia perkawinan perempuan dan laki-laki sama-sama 19 tahun.
Informasi yang dihimpun Koran Solo di PA Wonogiri, Selasa (10/12), dispensasi kawin pada 2018 tercatat ada 63 permohonan yang diterima. Sebanyak 56 permohonan di antaranya diputus, sedangkan lainnya diputus pada tahun berikutnya. Proses pemberian dispensasi pada tahun tersebut berdasar pada UU Perkawinan lama.
Pada tahun ini hingga November tercatat ada 101 permohonan yang diterima. Jumlah perkara itu dibagi dua, yakni dispensasi berdasar UU Perkawinan lama pada Januari-Oktober ada 49 permohonan dan berdasar UU Perkawinan baru mulai November lalu tercatat 42 permohonan. Sebanyak 75 permohonan dari total perkara yang diterima di antaranya sudah diputus. Faktor pernikahan dini paling dominan adalah keterbatasan ekomoni. Faktor lainnya, seperti pihak perempuan hamil terlebih dahulu.
Kepala Dinas PPKB P3A Wonogiri, Setyarini, saat ditemui wartawan di sela-sela kegiatan Sosialisasi Ketahanan Remaja di Era 4.0 di Gedung Giri Wahana kompleks Gelanggang Olahraga (Gor) Giri Mandala, kawasan kota Wonogiri, Selasa, menilai jumlah pernikahan dini di Kota Sukses masih dalam batas kewajaran. Walau demikian, pihaknya tak berdiam diri. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui dinasnya terus merealisasikan program intervensi secara simultan. Ada tiga kecamatan yang harus mendapat perhatian lebih karena kasus pernikahan dini di kecamatan tersebut masuk tiga besar.
“Kismantoro, Karangtengah, dan Giriwoyo. Angka pernikahan dini di tiga kecamatan itu paling tinggi dibanding 22 kecamatan lainnya,” kata Setyarini.
Pembinaan Remaja
Dia melanjutkan generasi berencana (genre) menjadi garda terdepan. Setiap tahun dinas menggelar pemilihan duta genre. Agar lebih optimal dalam menekan angka pernikahan dini, tahun ini dinas membentuk 250 anggota forum genre yang terdiri atas siswa, anggota kelompok bina keluarga remaja (BKR), dan lainnya. Pengukuhan diwakili 15 orang. Mereka bertugas memberi penyuluhan atau konseling kepada para remaja tentang dampak negatif pernikahan dini, seks sebelum menikah, dan penggunaan narkoba.
“Mereka terus mengampanyekan gerakan zero pernikahan dini, zero seks pranikah, dan zero penggunaan narkoba. Sebelumnya, mereka dibekali pengetahuan dan pemahaman tentang tugas terlebih dahulu tentunya,” imbuh Setyarini.
Bunda Genre Wonogiri, Verawati, mengatakan remaja sekarang berada di era 4.0. Kalau tak siap, remaja akan terombang-ambing di tengah pesatnya perubahan. Oleh karena itu remaja harus meng-upgrade kemampuan individu dan menyesuaikan diri di lingkungan. Kuncinya hanya satu, yakni harus bisa meletakkan kebanggaan pada posisi yang benar. Contohnya, pelajar jika meletakkan kebanggaan yang benar dia akan berorientasi pada prestasi. Sehingga, apa yang dimiliknya, uang, pikiran, tenaga, kesempatan, dan lainnya, akan dicurahkan untuk mencapai prestasi tertentu.
“Kalau salah meletakkan kebanggaan, jadinya remaja suka bermain gawai, sepeda motor, mementingkan fashion, atau suka pergi ke kafe yang instagrammable. Ini yang terjadi sekarang. Genre harus menjadi agen perubahan dan teladan bagi remaja lain,” ulas istri Bupati Joko Sutopo itu. (Rudi Hartono)