2 Meninggal karena Puting Beliung

KLATEN— Puting beliung melanda Kabupaten Klaten, Boyolali, dan Sragen, Rabu (11/12) siang.

PONCO SUSENO
redaksi@koransolo.co

Selain memorak-porandakan rumah penduduk, fasilitas umum, dan pepohonan, bencana itu juga mengakibatkan dua orang meninggal dunia.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran Solo, puting beliung melanda sembilan kecamatan di Klaten, Rabu (11/12) pukul 13.30 WIB. Di Desa Jungkare, Kecamatan Karanganom, bocah berusia enam tahun, Alifa Azahra Awinda Putri, meninggal dunia karena tertimpa pohon.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Ayahnya, Sahawi, 31, dan ibundanya, Tri Sundari, 36, warga Jungkare, Karanganom mengalami luka-luka.
Sutirah, 65, tak kuasa menahan air mata di rumah duka RT 007/RW 003, Desa Jungkare, Rabu pukul 17.00 WIB. Sore itu adalah momen terakhir Sutirah melihat cucunya, Alifa yang akan dikubur di Tempat Permakaman Umum (TPU) Daleman, Desa Jungkare.
Nasib nahas baru saja dialami cucu Sutirah. Bersama Tri Sundari, Alifa mengantar Sahawi yang akan ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Ketiganya berboncengan sepeda motor Honda Vario. Alifa duduk di bagian depan, Sahawi di tengah mengendarai motor, dan Tri Sundari di belakang.
Sesampai di Jl. Karanganom-Jatinom, tepatnya di Tegalsari, Kunden, Karanganom, pukul 13.30 WIB, tiba-tiba puting beliung mengamuk. Angin kencang menyebabkan pepohonan bertumbangan. Salah satunya mahoni berukuran jumbo di sebelah barat Masjid Joglo Baitul Makmur, Karanganom. Mahoni itu tumbang ke jalan dan menimpa sepeda motor itu. Sepeda motor itu langsung ambruk. Pengendaranya terjatuh. Batang mahoni itu mengenai badan Alifa. Siswi TK tersebut meninggal dunia di lokasi kejadian.
Sedangkan Sahawi mengalami luka parah di bagian kepala, tangan, dan perut. Saat itu, Sahawi tak sadarkan diri. Sedangkan Tri Sundari mengalami ampek di bagian dada. Dia dalam kondisi sadar. Oleh warga, ketiga orang dilarikan ke Puskesmas Karanganom, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten. Sedangkan jenazah Alifa dikirim ke rumah duka.
“Setahu saya, ayahnya masih tak sadarkan diri di RSI Klaten. Hingga anaknya dimakamkan, ayahnya belum mengetahui anak pertamanya meninggal dunia. Ibunya sudah mengetahui anaknya meninggal. Di hadapan saya tadi [kemarin], dia menangis dan ngomong ke saya seperti ini, ‘Mbok saya saja yang meninggal dunia Pak Lurah, jangan anak saya.’ Saya pun memberi tahu ibunya agar bersabar,” kata Kades Jungkare, Wakhid Muhsin.
Paman Alifa, Mujiyono, 59, mengatakan Sahawi sedianya ke Penggung untuk naik bus jurusan Jakarta. Istri dan anak pertamanya mengantar Sahari. Sedangkan anak kedua, Aldira, 2, ditinggal bersama neneknya di Jungkare.
“Sahawi memang sudah ngomong kepada saya ingin mencari pekerjaan di Jakarta. Sebelumnya, dia pernah bekerja di Malaysia selama lima tahun. Saat Lebaran 2019, dia pulang ke sini. Lantaran tak segera memperoleh pekerjaan lagi, Sahawi ingin pergi ke Jakarta. Tahu-tahu, ada kabar itu,” ujar Mujiyono. Mujiyono telah membezuk pasutri itu di RS. Sahawi, kemarin sore, belum sadar sepenuhnya.
Selain mengakibatkan korban jiwa di Karanganom, puting beliung juga membuat pohon tumbang dan merusakkan rumah warga di Kecamatan Trucuk. Dua orang yaitu Yudi Syuro, 57 dan Wagiyem, 60, dilaporkan mengalami luka-luka saat berteduh di tempat penggergajian kayu yang roboh. Rumah rusak juga terjadi di Kecamatan Polanharjo dan Klaten Utara.
Pohon tumbang mengakibatkan akses di sekitar Koramil Jatinom tertutup, dan beringin yang tumbang membuat fasilitas di Objek Wisata Mata Air Cokro (Omac) Tulung rusak. Pohon bertumbangan juga terjadi di Manisrenggo, Karangnongko, dan Delanggu.
“Di Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, ada tiang listrik yang ambruk dan pohon tumbang. Selain itu beberapa rumah warga rusak. Pohon beringin di Umbul Manten Sidowayah juga tumbang. Kejadian sekitar pukul 14.00 WIB,” kata Kepala Desa (Kades) Sidowayah, Mujahid Jaryanto, kepada Koran Solo, Rabu (11/12).
Sekretaris Daerah (Sekda) Klaten, Jaka Sawaldi, mengaku sudah memperoleh informasi terkait sejumlah kecamatan yang terdampak puting beliung. Jaka Sawaldi mengimbau seluruh elemen masyarakat agar selalu berhati-hati dan waspada menghadapi musim pancaroba.
“Saat ini masih berlangsung pancaroba. Hujan deras dan angin kencang sering terjadi. Terhadap warga yang memiliki pohon tinggi, lebih baik dipangkas demi keselamatan bersama,” katanya
Gedung Ambruk
Angin lisus juga menerjang kawasan Boyolali. Gedung Serbaguna Bhima Manunggal di Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Rabu siang, ambruk, menyebabkan seorang warga meninggal. Jumeri, warga RT 001/ RW 003, Desa Tegalrejo, Sawit, berteduh dalam bangunan itu.
Gedung yang dikelola Pemerintah Desa Tegalrejo tersebut dibangun pada 2017. Gedung berukuran sekitar 17 meter x 30 meter bercat hijau tersebut dibangun dengan dana sekitar Rp500 juta.
Kaur Umum dan Perencanaan Desa Tegalrejo, Rusidi, saat ditemui Koran Solo mengatakan awalnya hujan deras disertai angin melanda Sawit dan sekitarnya sejak pukul 13.30 WIB. Kemudian angin lisus terjadi 30 menit kemudian. Gedung itu ambruk dan rata dengan tanah.
Saat hujan lebat, Jumeri baru pulang dari Desa Tlawong, Sawit, desa tetangga Tegalrejo yang berjarak kira-kira 500 meter. Dia mengambil beras jatah bantuan pemerintah dari sebuah toko di Tlawong.
Saat hujan makin deras, Jumeri yang mengendarai sepeda motor Yamaha Mio Seoul merah berteduh di gedung serbaguna. Dia memarkir motornya di teras lalu masuk ke gedung yang tak dikunci. Saat angin lisus terjadi, bangunan itu ambruk rata dengan tanah. Jumeri tidak sempat menyelamatkan diri. Dia meninggal di tempat itu. “Setelah dievakuasi korban langsung diserahkan kepada pihak keluarga,” tutur Rusidi.
Evakuasi dilakukan petugas Pemerintah Desa Tegalrejo, Polsek dan Pemerintah Kecamatan Sawit, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali. Kepala Pelaksana Harian BPBD Boyolali Bambang Sinungharjo dan Kapolsek Sawit AKP Joko Widodo meninjau bangunan yang ambruk. Lokasi itu dipasangi garis polisi.
Selain gedung serbaguna roboh, pepohonan tumbang dan atap rumah warga yang berhambuan. Selain itu sebuah pos ronda dan gedung MCK umum di Dusun Garen rusak di bagian atap. Warga bergotong royong membersihkan ranting dan batang pohon yang roboh menutupi jalan.
Puting beliung juga memorak-porandakan atap rumah warga dan menumbangkan pepohonan di Desa Donoyudan, Kecamatan Kalijambe, Sragen, Rabu. Informasi yang dihimpun Koran Solo menyebutkan puting beliung terjadi sekitar pukul 13.00 WIB. Terdapat dua dukuh di Desa Donoyudan yakni Niten dan Rejosari yang paling parah terdampak puting beliung. Meskipun hanya berlangsung sekitar 10 menit, angin ribut itu menumbangkan puluhan pohon. Sebagian pohon menimpa rumah warga.
Di Dukuh Niten, pohon tumbang menimpa rumah Muslih dan Anto. Akibat tertimpa pohon nangka, atap rumah Muslih rusak cukup parah. Hanya berjarak sekitar 10 meter dari rumah Muslih, pohon sengon tumbang. Sementara rumah Anto rusak parah pada bagian dapur akibat tertimpa pohon jati.
Rumah Mutmainah di Dukuh Rejosari juga tidak luput dari amukan puting beliung. Genting rumah Mutmainah beterbangan. “Di dekat rumah Mutmainah juga terdapat pohon nangka berukuran cukup besar yang tumbang. Untungnya pohon nangka tidak menimpa rumah Mutmainah,” terang Johan Wahyudi, warga setempat, saat dihubungi Koran Solo.
Tidak ada korban jiwa dalam puting beliung itu. Warga dan sukarelawan di bawah koordinasi BPBD Sragen bekerja bakti menyingkirkan pepohonan. Mereka menggunakan gergaji mesin. (Nadia Lutfiana Mawarni/Moh. Khodiq Duhri/JIBI)