Pamer Alat Vital, Siswa SMA Ditangkap Polisi

SOLO—Seorang pelajar sekolah menengah atas (SMA) di Kota Solo harus berurusan dengan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak, Satreskrim Polresta Solo karena ulahnya memperlihatkan kemaluannya, Jumat (15/11) pukul 01.00 WIB di sekitar indekos perempuan di kawasan Jebres, Solo.
Aksi pemuda berinisial AD, 17, warga Jebres, itu sempat menghebohkan media sosial Kota Solo. Di hadapan polisi, AD mengaku sering melihat video porno sejak duduk di sekolah menengah pertama (SMP).
Kapolresta Solo, AKBP Andy Rifai, saat menggelar jumpa pers di Mapolresta Solo, Rabu (11/12), mengatakan AD datang ke sekitar indekos perempuan saat malam hari. Dia lantas mengeluarkan kemaluannya sembari melihat penghuni indekos perempuan. Aksi asusila pelaku sempat direkam oleh salah satu penghuni indekos.
Saat mendapat informasi kejadian itu polisi segera mengumpulkan saksi- saksi dan menangkap AD pada akhir November. AD dijerat Pasal 281 KUHP tentang sengaja dan secara terbuka melanggar kesusilaan dengan ancaman hukuman dua tahun penjara.
“Pelaku baru kali pertama melakukan hal itu. Pelaku yang masih di bawah umur dikenakan Undang-Undang Perlindungan Anak yakni Pasal 7 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang No.11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Dengan ini penyidik wajib berupaya diversi atau pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana,” ujarnya.
Menurutnya, AD nekat mem­perlihatkan kemaluannya kepada penghuni indekos perempuan hanya untuk menyalurkan hasrat birahinya. Saat ini polisi akan menggandeng psikater untuk mengetahui kondisi kejiwaan AD. Remaja itu masih diizinkan untuk bersekolah dengan pendampingan kepolisian.
Psikolog Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ajeng Nova Dumpratiwi, menduga pelaku mengalami gangguan eksibionis atau kelainan seksual dengan memamerkan bagian tubuhnya seperti alat kemaluan atau payudara yang mengarah pada kepuasan ketika korban ketakutan atau menjerit saat melihat alat vital pelaku.
Penderita eksibisionis umumnya berfantasi seksual tinggi dan tidak tertahankan. Menurutnya, riwayat perkembangan pelaku juga berpengaruh menjadi eksibionis. Harus dilakukan penanganan mendalam untuk melihat profil, kepribadian, atau pelaku pernah mengalami trauma atau tidak. (Ichsan Kholif Rahman)