Diduga, Masih Ada Anak Sanca di Balai Kota

SOLO—Komunitas pecinta binatang Exotic Animal Lovers Indonesia (Exalos) memperingatkan kemungkinan masih ada lagi anakan ular sanca batik yang berkeliaran di Balai Kota Solo.
Hal itu diungkapkan menanggapi temuan 20 ular sanca yang rata-rata berukuran 2 sentimeter dengan panjang 1 meter. Pembina Exalos Soloraya, Janu Wahyu Widodo, mengatakan setiap indukan ular sanca saat kali pertama bertelur akan menghasilkan 20-25 butir. Sedangkan periode bertelur selanjutnya saat sudah dewasa mampu menghasilkan 40 butir.
Ia menyebut masa kawin ular berlangsung enam bulan lalu yang disusul masa hamil dan pengeraman masing-masing selama tiga bulan. Sehingga, anakan ular diperkirakan berumur antara 1-3 bulan.
“Kalau ularnya ditemukan satu-satu dalam satu area meski berjauhan masih bisa dipastikan baru menetas dari satu indukan. Sesudah menetas, sifat piton itu soliter jadi mencari makan sendiri-sendiri, makanya berkeliaran. Tapi karena masih anak-anak daya jangkaunya terbatas. Karena itu, ular ditemukan di satu area yakni Balai Kota,” ucapnya, ketika dihubungi Koran Solo, Jumat (13/12) pagi.
Kendati begitu, ia menyebut ular sanca batik tidak berbahaya. Ular cenderung menghindari manusia dan tak akan menyerang apabila tidak diganggu. Itu juga berlaku untuk jenis ular lain, seperti kobra.
“Bahaya ular terbesar bukan gigitan, semburan, dan lilitan. Tapi bahaya psikis dari manusia yang melihat ular itu. Sampai sekarang saya enggak mendapatkan informasi ada yang tergigit atau terlilit hingga terkena semburan,” ucapnya.
Janu menyebut di masa telur ular menetas beberapa bulan terakhir ini tepatnya pada November hingga pekan kedua Desember, Exalos sudah mengevakuasi 50-an ekor ular kobra Jawa. Sejumlah daerah yang melaporkan munculnya ular yang bisa menyembur itu di antaranya di Kartasura, Mojolaban, dan Baki, Kabupaten Sukoharjo.
“Paling banyak kami mengevakuasi 21 ekor bayi kobra di Masjid At Taqwa, di dekat Perumahan Griya Adi II, Palur, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, pada Sabtu (7/12),” kata dia.
Ular tersebut ditemukan di bawah sajadah imam dan tersebar di bawah karpet masjid. Warga yang menemukan kemudian menyisir area masjid dan menemukan belasan ekor lain di gudang masjid.
“Di bawah karpet ada enam ekor, di gudang 15 ekor. Kamis (12/12) sore kami dilapori lagi masih ada tiga ekor ular yang akhirnya berhasil dievakuasi Kamis malam. Total ular di area itu 24 ekor. Kemungkinan dari satu indukan yang sama,” tandas Janu.
Sebelumnya, Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengaku tak mempermasalahkan temuan itu. Menurutnya, di awal musim penghujan kerap menjadi momen ular bermunculan. Rudy, sapaan akrabnya, menyebut jenis ular yang ditangkap tidak berbahaya. “Ular ini kan enggak menyerang kecuali diganggu, juga tidak sering makan. Biarkan saja. Enggak usah [memanggil pawang ular],” kata dia, dijumpai terpisah. (Mariyana Ricky P.D.)