Karya Mahasiswa UNS untuk Tunanetra

AKHMAD LUDIYANTO

SOLO—Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidian Teknik Informatika dan Komputer (PTIK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menciptakan SO-LI Sense, alat untuk membantu mobilitas penyandang tunanetra.
Mereka adalah Andreas Wegiq, Ragil Setiawan, Adimas Agustinus, Muhammad Afriyansyah, dan Calvin Gibran.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Andreas Wegiq mengatakan SO-LI Sense merupakan produk inovasi yang dapat melakukan pemetaan lingkungan dengan 3D Mapping untuk mengetahui secara menyeluruh objek di sekitar tunanetra dan memberikan rasa aman ketika mereka berjalan.
“Teman-teman tunanetra biasanya menggunakan teknologi asistif berupa white cane [tongkat orang buta] dan anjing pemandu untuk membantu mobilitas mereka, namun kedua alat tersebut tidak cukup untuk meningkatkan mobilitas tunanetra secara signifikan. Maka diperlukan terobosan teknologi asistif baru,” ujarnya seperti disampakan dalam rilis Bagian Humas UNS, Kamis (12/12).
Produk tersebut terdiri atas tiga bagian, yaitu SO-LI Helmet, SO-LI Bracelet, dan SO-LI Bag. SO-LI Helmet merupakan pemandu tunanetra untuk menghindari penghalang yang dilengkapi dengan komponen headphone untuk menyampaikan informasi objek oleh asisten digital. Bagian ini juga dilengkapi dengan depth censor dan 360 derajat lidar sensor.
SO-LI Bag difungsikan sebagai tas pengolah data yang didesain khusus untuk pengolahan data berat. Di dalamnya terdapat laptop yang terinstal Robotic Operating System (ROS) untuk mengolah data hasil tangkapan sensor.
“Terakhir SO-LI Bracelet, gelang getar pemberi informasi kedekatan objek di sekitar tunanetra dalam bentuk getaran. Untuk terhubung dengan SO-LI Bag dan SO-LI Helmet, gelang ini menggunakan komunikasi data melalui WiFi,”  imbuh Andreas.
Produk inovatif ini berhasil meraih Bronze Prize di Seoul International Invention Fair (SIIF) 2019 dan Special Award for Innovation dari Universitas King Abdulaziz, Saudi Arabia pada akhir November lalu di Korea Selatan.
SIIF merupakan kompetisi invensi dan inovasi internasional berbentuk pameran, di mana peserta mempresentasikan dan memamerkan produknya untuk memperebutkan medali perunggu, perak, dan emas
“Tim kami unggul dalam aspek presentasi, komersialisasi, dan inovasi. Pada aspek presentasi kami melakukan peragaan langsung dengan memakai produk kami di hadapan juri. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri yang jarang dilakukan peserta lain,” tutur Andreas. (JIBI)