Momentum Gibran

SOLO—Langkah putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencalonkan diri sebagai wali kota Solo melalui DPD PDIP Jawa Tengah dinilai sebagai langkah tepat.

KURNIAWAN
redaksi@koransolo.co

Dari kaca mata politik, Pilkada 2020 momentum tepat bagi Gibran tampil. Pendapat tersebut disampaikan dosen Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio, saat diwawancara Koran Solo via ponsel, Jumat (13/12). “Momentum Gibran saat ini. Momentum itu hilang bila Gibran maju saat Pilkada 2024,” ujar dia.
Hendri mencontohkan beratnya perjuangan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang maju di dunia politik saat ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tidak lagi menjadi Presiden. AHY harus terseok-seok dan berjuang sangat keras di politik.
Tak sekadar mencalonkan diri, Hendri menilai Gibran potensial mendapatkan rekomendasi cawali dari DPP PDIP. “PDIP tidak hanya berpikir tentang Solo. Tapi Jateng dan nasional. Gibran potensial [mendapatkan rekomendasi cawali],” terang dia.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Di sisi lain Hendri mengakui Gibran akan sulit lepas dari stigma merupakan bagian dari dinasti politik Jokowi. Butuh kerja keras dari Gibran dan timnya untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa dirinya adalah figur yang dibutuhkan Solo.
“Dia harus membuktikan lepas dari bayang-bayang Jokowi. Caranya dengan bekerja secara independen dan tak menggunakan fasilitas yang disediakan ayahandanya. Program-program harus menunjukkan karakter dan ciri khas dia,” urai dia.
Yang tak kalah penting, menurut Hendri, ke depan Gibran harus membuktikan bahwa dirinya kader partai yang baik. Harus ada komitmen dan kontribusi positif dia untuk mengembangkan PDIP. “Gibran harus bekerja juga untuk partai,” saran dia.
Pendapat senada disampaikan dosen Ilmu Hukum UNS Solo, Agus Riewanto. Gibran sebagai figur anak seorang presiden dinilai sedang dalam puncak performa, sehingga pilihan maju pilkada, tepat.
“Dengan statusnya itu tentu dia memiliki peluang yang lebih kuat ketimbang kelak dia sudah tidak menjadi anak presiden. Saya melihat ada aspek memanfaatkan nama besar Jokowi yang sudah dikenal diakui kiprahnya di level nasional,” kata dia saat dihubungi melalui ponsel.
Dengan kondisi seperti itu Agus khawatir kontestasi Pilkada Solo 2020 dengan Gibran sebagai salah satu cawali bakal berlangsung tidak adil. Sebab secara faktual Gibran merupakan anak biologis dari Presiden Jokowi dan anak ideologis kader PDIP.
“Saran saya Gibran harus mulai menunjukkan independensinya, sebagai Gibran bukan anak dari Jokowi. Cari sisi-sisi lebih Gibran. Selama ini kan belum kelihatan. Munculkan apa gagasan, konsep, dan visi misinya membangun Solo,” sambung dia.
Penentu Kemenangan
Partai Amanat Nasional (PAN) menilai nama besar orang tua bisa menjadi salah satu faktor penentu kemenangan. Hal itu pula berlaku kepada Gibran.
”Soal dinasti, faktanya memang secara politik riil, nama orang tua atau saudara bisa menjadi daya tarik bagi pemilih. Bahkan bisa menjadi faktor penentu kemenangan, baik dalam pilkada maupun pileg tingkat nasional dan daerah. Banyak sekali tokoh nasional dan daerah yang anaknya atau saudaranya terpilih sebagai kepala daerah atau anggota DPR/DPRD,” kata Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN, Dradjad Wibowo, kepada wartawan, seperti dilansir Detikcom, Jumat.
Dradjad mengatakan setiap warga negara memiliki hak politik masing-masing. Dia menyebut terkait peluang kemenangan Gibran itu dikembalikan pada keputusan politik warga Solo.
”Karena itu saya tidak mempermasalahkan rencana majunya Gibran dalam pilwalkot Solo. Itu hak konstitusional dia. Soal nanti dia menang atau kalah, itu keputusan politik warga Solo,” ujarnya.
Berbeda dengan PAN, Partai Demokrat (PD) justru menyinggung pidato Jokowi yang mengatakan keluarganya tidak tertarik politik. ”Baru kali ini sejak reformasi ada anak presiden yang sedang menjabat maju pilkada. Ini kan bukan hanya satu orang, dua orang sekaligus, padahal dulu di tengah pidato kampanye Pak Jokowi sering mengatakan kalau keluarga saya tidak ada satu pun yang tertarik politik, ini tiba-tiba maju dua, anak dan menantu,” ujar Ketua DPP PD, Jansen Sitindaon.
Jansen menilai nama besar Jokowi turut memberikan dampak terhadap Gibran dan sang menantu, Bobby Nasution, yang akan maju pada Pilkada Medan. Dia berharap masyarakat melihat program kerja Gibran dan Bobby dan tidak terpengaruh dengan nama besar Jokowi.
”Sedikit banyak embel-embel sebagai anak dan menantu ini, banyak efeknya lah. Seperti Bobby misalnya, tanpa embel-embel menentu Pak Jokowi rasanya sih pemberitaan terhadap dia tidak sespektakuler sekarang lah,” ujar Jansen.
”Pasti berpengaruh [nama besar], tinggal memang kalau tetap maju masyarakat harapan kita jangan silaulah dengan embel-embel itu. Tetaplah dilihat programya. Seperti Kota Medan misalnya, Medan itu kan korupsi lah, banjir lah, aku kan orang sana, kriminalitas tinggi, nyaman itu murah di Medan, ini kan kompleks masalah di Medan. Kalau memang Bobby tetap maju masyarakat lihatnya programnya, jangan silau dengan embel-embelnya,” lanjutnya.
Jansen menilai tidak ada aturan yang melarang anak dan menantu Jokowi itu maju sebagai calon kepala daerah. Namun dia berharap tidak ada perlakuan khusus dari penyelenggara pemilu terhadap mereka. (JIBI)