KASUS KEBAKARAN GUDANG MEBEL Tersangka Sudah Diingatkan Tidak Bakar Tebon

SRAGEN—Kasus kebakaran gudang mebel CV Deckind and Wood di Desa Doyong, Miri, Sragen, dengan kerugian lebih dari Rp20 miliar memasuki tahap persidangan.
Kepala Seksi (Kasi) Pidana Umum, Kejaksaan Negeri (Kejari) Sragen, Wahyu Saputro, mengatakan sidang pertama dengan agenda pembacaan dakwaan sudah digelar di Pengadilan Negeri (PN) Sragen pada akhir Desember lalu. Sidang kedua dengan agenda mendengarkan keterangan saksi sedianya digelar pada Selasa (7/1), namun sidang itu urung digelar karena ketidakhadiran saksi.
“Kami sudah mengirimkan undangan kepada saksi yakni pemilik perusahaan dan dua karyawan yang ada di dalam gudang itu saat kejadian. Namun, kami belum mendapat kepastian akan kehadiran mereka,” ujar Wahyu Saputro saat ditemui Koran Solo di PN Sragen, Selasa.
Cipto Sujarwo, 60, petani yang disangka menyebabkan kebakaran dijerat Pasal 188 KUHP dengan ancaman hukuman penjara paling lama lima tahun. Dalam materi dakwaan, disebutkan sebelum kebakaran itu terjadi, Cipto Sujarwo sudah diperingatkan oleh petani lainnya.
“Kebetulan siang itu angin bertiup cukup kencang. Oleh petani lain, Pak Cipto sudah diperingatkan supaya tidak membakar tebon [tanaman jagung kering yang sudah dipanen]. Namun, dia mengabaikan peringatan itu dengan alasan sudah biasa membakar tebon dan tidak pernah terjadi kebakaran,” papar Wahyu.
Celaka bagi Cipto Sujarwo, api pembakaran tebon itu bertebaran ke mana-mana setelah ditiup angin kencang. Daun jagung kering yang terbakar itu kemudian masuk ke gudang mebel yang berisi tumpukan ratusan batang kayu kering. Bahan baku mebel dan aneka kerajinan kayu itu akhirnya ludes terbakar dalam semalam. “Kebetulan bagian belakang gudang mebel itu terbuka sehingga dedaunan yang terbakar itu mudah masuk. Apalagi saat itu angin bertiup sangat kencang,” jelas Wahyu.
Dalam hal ini, Cipto Sujarwo dianggap lalai hingga mengakibatkan kebakaran yang mengancam nyawa dua pekerja gudang mebel. Saat kejadian, di dalam gudang itu terdapat dua pekerja. Mereka bisa menyelamatkan diri sebelum api membesar. “Dua pekerja ini bisa disebut calon korban. Kalau sampai dia jadi korban, pasal yang dipakai beda lagi. Jadi, yang dipakai Pasal 188 KUHP karena kelalaian terdakwa menghadirkan bahaya umum bagi pihak lain,” ucap Wahyu. (Moh. Khodiq Duhri)