BPR Bersiap Hadapi Revolusi Digital

SOLO—Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BPR Syariah (BPRS) Soloraya diminta berbenah demi menghadapi tantangan serius pada 2020.

Farida Trisnaningtyas
redaksi@koransolo.co

BPR harus berinovasi, mengoptimalisasi skala usaha, meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) hingga menerapkan merger demi melanggengkan eksistensi bisnis mereka.
Hal ini mengemuka dalam seminar Outlook Ekonomi 2020: Eksistensi BPR/BPRS di Indonesia di Swiss Belinn Saripetojo Solo, Senin (6/1). Seminar ini diiniasi oleh Paguyuban Pemegang Saham dan Komisaris (Pesakom) BPR/BPRS Soloraya.
Tantangan BPR mulai dari pemangkasan suku bunga kredit usaha rakyat (KUR) yang bakal diproyeksi mengurangi pangsa pasar kredit BPR hingga persaingan ketat dengan teknologi finansial (tekfin) yang tumbuh pesat. Chairman Infobank Institute Jakarta, Eko B Supriyanto, mengatakan revolusi digital membuat produk keuangan bertransformasi.
Hal ini membawa konsekuensi antara lain munculnya predatory competition dengan keberadaan tekfin, cyber risk, batas yang semakin kabur antara perusahaan perbankan dan perusahaan teknologi, potensi risiko kehadiran cryptocurrency, dan penurunan permintaan tenaga kerja di sektor jasa keuangan.
“Berbicara BPR/BPRS memiliki sejumlah kelemahan, yakni permodalan terbatas, SDM dan manajemen lemah, kualitas tata kelola minim, dan teknologi sistem informasi lemah,” papar dia dalam seminar itu.
Selain itu, ada sejumlah sebab mengapa BPR BPRS gagal. Dikutip dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hal itu disebabkan praktik penyimpangan, seperti penyalahgunaan kredit; kredit macet, rekayasa kolektibilitas, dan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP); koreksi penilaian agunan; pelanggaran batas maksimum pemberian kredit (BMPK); penggunaan rapid rural appraisal (RRA), kerugian, dan penggelapan; kesulitas likuiditas; dan penyalahgunaan likuiditas.
Narasumber lain, Komisaris BPR Restu Grup, Didik Yochanan, menambahkan ada tujuh tips mengelola BPR. Pertama, optimalisasi skala usaha. Kedua, laba sekarang penting, tapi jangan mengorbankan laba jangka panjang (sustainable growth). Ketiga, fokus pada perkreditan berkualitas.
“Non performing loan [NPL] dibenahi terus. Hidup matinya BPR ditentukan oleh kualitas kredit. Tips keempat adalah memilih segmen yang produktif. Kelima, SDM produktif dan berkomitmen. Keenam, operasional yang prudent. Ketujuh, fokuslah pada diri sendiri,” jelas Didik.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut SDM masih menjadi masalah BPR/BPRS untuk bisa berkembang. Kepala Bagian Pengawasan Bank OJK Solo, Dinavia Tri Riandari, mengatakan OJK sudah menyusun masterplan untuk memperkuat sektor jasa keuangan, termasuk BPR dan BPRS.
“Masterplan sektor jasa keuangan, antara lain penguatan modal jasa keuangan, peningkatan kualitas jasa, mendorong inovasi, digitalisasi, peningkatan SDM, hingga akselerasi literasi keuangan dan inklusi keuangan,” tutur dia.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Bambang Pramono, mengatakan BPR BPRS memiliki peran penting dalam sektor jasa keuangan. Namun, seiring perkembangan zaman mereka dituntut berbenah. Banyak sektor bisa dioptimalkan, salah satunya adalah BPR lebih mendekatkan diri kepada masyarakat.