Waspadai Kekuatan Thailand

SOLO—Para atlet voli duduk yang mengikuti pemusatan latihan nasional National Paralympic Committee (pelatnas NPC) Indonesia terpaksa mengikuti penyesuaian program latihan karena mundurnya jadwal ASEAN Para Games 2020 di Filipina.
Kini, mereka mengulang pro­gram latihan fase persiapan khu­sus dengan target mencapai performa puncak di pertengahan Maret 2020.
Pelatih voli duduk NPC Indonesia, Deddy Whinata, 35, mengatakan mengubah program latihan agar kondisi para atlet tetap terjaga. “Kalau tetap dilanjutkan [fase prakompetisi] kasihan anak-anak. Mereka malah bisa drop pada Maret. Saat ini kami turunkan fasenya ke fase persiapan khusus. Rencananya pada pertengahan Februari kami akan beralih lagi ke prakompetisi sehingga saat APG 2020 mereka berada di peak performance [performa tertinggi],” ungkap Deddy saat ditemui Koran Solo di kampus FKOR UNS Solo di Manahan, Solo, Rabu (8/1).
Dosen di FKOR UNS Solo tersebut mengatakan pelatih dan 11 atlet voli duduk putra NPC Indonesia tidak mempermasalahkan mundurnya jadwal. Mereka hanya fokus untuk latihan sehingga target meraih medali perak bisa terpenuhi.
“Para atlet berlatih Senin-Sabtu. Kalau Selasa khusus fisik, sedangkan kalau latihan Jumat relaksasi seperti renang dan berendam di air es,” kata dia.
Lebih lanjut, Thailand masih menjadi pesaing terberat yang perlu diwaspadai. Hal itu mengacu pada uji coba di Korea Selatan Agustus 2019. Saat itu, Indonesia kalah 0-3 di babak penyisihan grup. Namun bisa menang tipis 3-2 pada babak perebutan juara III.
“Target kami secara tertulis adalah medali perak. Namun kami akan berjuang meraih medali emas. Thailand yang kalah pasti berbenah. Tapi kami juga berbenah karena menang kami juga tipis. Itu agak keberuntungan. Di set kelima selisihnya kecil. Itu sampai yus dua kali,” papar dia. (Ivan Andimuhtarom/JIBI)