INVESTASI BODONG MEMILES Iming-Iming Mobil dan Libatkan Artis

SURABAYA—Kasus investasi bodong MeMiles tengah disidik polisi. Polda Jawa Timur menetapkan dua tersangka baru yaitu Martini Luisa (ML) atau Dokter Eva dan Prima Hendika (PH). Sebelumnya polisi menetapkan dua tersangka yaitu bos perusahaan itu Suhanda dan Kamal Tarachan atau Sanjay.
Kapolda Jatim Irjen Pol. Luki Hermawan di Surabaya, Jumat (10/1), mengatakan dua tersangka baru ini memiliki peran yang berbeda. Dokter Eva biasanya menjadi motivator untuk menarik minat masyarakat untuk bergabung menjadi member.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
Sementara Prima merupakan ahli teknologi informasi (TI) yang membuat aplikasi MeMiles.
Eva bukanlah dokter. Dia bekerja sebagai akupuntur dan mengelabui para member dengan mengaku sebagai dokter. Dari Eva, polisi menyita mata uang asing sejumlah Rp120 juta dan handphone.
Sebelumnya, kasus ini terbongkar saat Polda Jatim mendapati investasi MeMiles yang belum berizin. Investasi ini disebut memiliki 264.000 nasabah atau member.
Dalam praktiknya, MeMiles memberikan iming-iming hadiah fantastis dan tak masuk akal kepada nasabah. Misalnya saja hanya investasi ratusan ribu rupiah, nasabah sudah bisa membawa pulang sejumlah barang elektronik seperti TV, kulkas, hingga AC. Apalagi ada selebritas yang tampil di Instagram MeMiles.
Hal inilah yang membuat peminat MeMiles melonjak. Dalam delapan bulan beroperasi, MeMiles mengantongi omzet Rp750 miliar. Polisi pun menyita uang Rp120 miliar.
Polda Jatim akan memanggil empat selebritas yang menjadi member investasi bodong MeMiles. Sejumlah artis pernah nampang di Instagram MeMiles dan ikut mempromosikannya. Di antara mereka ada Judika, Marcello Tahitoe atau Ello, hingga Siti Badriah.
MeMiles merupakan aplikasi yang bisa diunduh lewat Andriod maupun PlayStore. Aplikasi ini dibuat oleh PT Kam and Kam. Layaknya aplikasi lainnya, pendaftar harus memasukkan identitas diri. Setelah aplikasi MeMiles ada di ponsel, investasi yang akan disetor ke MeMiles tinggal di-top up atau diisi dengan jumlah sesuai keinginan korban. Minimal top up Rp50.000. Dalam praktiknya ada yang top up Rp200 juta.
Dari top up sejumlah uang tersebut, MeMiles memberikan bonus yang fantastis. Mulai dari mobil, motor, hingga barang elektronik lainnya. Bahkan, bonusnya melebihi uang yang di-top up. ”Misalnya top up Rp400.000 mendapatkan handphone. Top up Rp5 juta bisa mendapatkan mobil. Para member juga merekrut member lain dan mendapatkan poin,” ujar Luki.
HP dan mobil di atas bisa didapat dengan syarat harus mendapatkan member untuk jadi downline sebanyak-banyaknya.
Satuan Tugas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tongam L. Tobing mengungkapkan modus yang dilakukan oleh MeMiles untuk menarik member atau pengikut dari masyarakat. ”Mereka itu gali lubang tutup lubang, money game. Coba mana mungkin top up Rp7 juta dapat mobil Pajero?” kata Tongam, Kamis (9/1).
Menurut dia, hal itu tidak masuk akal. Uang yang disetorkan tak sesuai dengan nilai hadiah yang didapatkan. ”Tidak masuk akal kan? Kecuali ada peserta yang datang belakangan menyubsidi peserta yang di depannya,” jelas dia.
Menurut Tongam, periode awal kegiatan pasti sudah ada peserta yang mendapatkan keuntungan. ”Tapi cepat atau lambat kegiatan seperti ini pasti merugikan peserta,” jelas dia.
Mengutip laman resmi Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia, skema piramida atau money game ini memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat untuk mengecoh dan menjanjikan keuntungan instan tanpa perlu bekerja.
Mereka mengambil dana dari masyarakat dengan mengajak bergabung dalam kegiatan usaha yang berkedok penjualan lagsung dan berjenjang. Keuntungan yang dibagikan berasal dari biaya yang dikum­pulkan dari orang yang bergabung kemudian. Nah uang ini dimanfaatkan untuk membayar orang yang di atasnya. (Detik/JIBI)