Rudy Tak Hadiri Rakernas PDIP

SOLO—Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Solo, FX Hadi Rudyatmo, memutuskan absen dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDIP di Jakarta, Jumat-Minggu (10-12/1).

MARIYANA RICKY P.D.
redaksi@koransolo.co

Kepada wartawan seusai Apel Siaga Bencana di Plaza Manahan, Rudy, sapaan akrabnya, mengaku tak bisa meninggalkan Solo karena diprediksi rawan bencana bersamaan dengan hari-hari pelaksanaan Rakernas. “Sebenarnya [rakernas] penting karena untuk kepentingan organisasi. Tapi, kepala daerah diwakili oleh Pak Wakil (Achmad Purnomo), struktural partai ada Sekretaris Pak Teguh Prakosa, dan Bendahara Joni Sofyan Erwandi. Ditambah fraksi, kemungkinan ada 30an orang,” kata dia, Jumat.
Ia menyebut agenda rakernas umumnya membahas program kerja seama setahun ke depan, penelitian tentang bencana, program pembangunan, dan sebagainya. Kendati begitu, ia mengaku tak bisa meninggalkan Kota Bengawan karena ada kepentingan rakyat yang lebih besar. “Baru kali ini saya tidak ikut,” ucapnya.
Rudy mengaku siap apabila ditegur oleh pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP. Namun, ia akan menjawab sesuai kondisi di lapangan tentang potensi kebencanaan itu.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
“Ya, paling nanti ditanyakan, ya, saya jawab kalau saya jadi kepala tanggap bencana. Kalau nanti ada bencana di Solo kan enggak lucu kalau saya dan Pak Wakil enggak ada di tempat (karena hadir rakernas),” ucapnya lagi.
Ditemui sebelumnya, Wakil Wali Kota Solo, Achmad Purnomo, mengaku diundang untuk hadir. “Saya mendapat undangan untuk ikut acara ini,” kata dia.
Dalam acara rakernas dan peringatan HUT PDIP, dua pidato menjadi agenda utama yaitu dari Ketua Umum PDIP Megawati dan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Mega bercerita pengalamannya di PDIP hingga masalah ideologi partai.
Mega meminta kader-kadernya untuk melakukan kerja politik nyata. Megawati tak mau kader PDIP menjadi politikus populis yang hanya sibuk memainkan emosi rakyat.
”Anak-anakku yang saya cintai, kemenangan elektoral harus dipastikan buah dari kerja politik konkret bagi rakyat bangsa dan negara,” kata Mega di JI Expo Kemayoran, Jumat.
Dia meminta kader tak berpolitik dengan cara-cara pragmatis. “Jangan jadi politisi populis yang hanya sibuk mengobok-obok emosi rakyat tapi di sisi lain tapi tak ada keputusan politik nyata bagi rakyat itu sendiri,” sebut Megawati.
Megawati meminta kader PDIP bekerja nyata untuk rakyat, bangsa, dan negara. Menurutnya, kader PDIP bisa melakukan itu seperti para kepala daerah yang disebutkannya tadi, yang menurutnya telah berbakti bagi rakyat.
”Bagi mereka yang belum melakukan hal itu, segeralah bergegaslah mengikuti teman-teman yang lain yang telah dapat melakukan daerahnya menjadi daerah-daerah unggulan,” ucap Mega.
Sejumlah kepala daerah asal PDIP dipuji Megawati. Kepala daerah itu menurut dia berbakti bagi daerah masing-masing.
”Saya ingin menyebut beberapa tetapi bukan tidak banyak, tetapi dalam kesempatan ini saya tidak bisa memberikan ucapan terima kasih saya kepada semua. Tetapi saya tahu, sadarlah bahwa saya sebagai ketua umum sangat berterima kasih terutama kepada Ibu Risma di Surabaya,” jelas Megawati.
Riswa adalah Wali Kota Surabaya yang diusung PDIP. ”Beliau seorang wanita yang cerewetnya bukan main, tetapi kalau saya berbicara berdua kita selalu mengatakan enggak apa apa ya Bu kita perempuan memang harus cerewet,” jelas Megawati.
Mega lalu menyebut Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, hingga Wali Kota Semarang Hendar Prihadi yang biasa disapa Hendi.
”Azwar Anas dari Banyuwangi, Hendi dari Semarang, Ganjar Pranowo dari Jawa Tengah. Hem… apalagi ya. Itulah susahnya karena banyak, Bapak Presiden, jadi menghapalkannya sering kali lupa. Tapi begitulah banyaknya contoh-contoh kader kami yang memang telah bekerja berbakti bagi daerahnya masing-masing. Oh ya, Giri dari Badung, Bali. Apalagi ya… cukuplah,” sebut Mega.
Saat memberi sambutan, Jokowi mengatakan Indonesia tidak akan lagi menjadi negara yang mengekspor bahan mentah. ”Memang mungkin di depan dalam kita memulai memang berat dan sangat sulit tapi kalau negara tidak memiliki strategi ekonomi strategi bisnis besar dalam rangka merancang sebuah pembangunan jangka panjang, kita akan menjadi eksportir bahan mentah,” kata Jokowi.
Menurut Jokowi, Indonesia secara bertahap akan menghentikan ekspor bahan mentah. Jokowi mengatakan bahan mentah itu akan diolah di dalam negeri sehingga bermanfaat banyak bagi masyarakat Indonesia.
”Ingat minyak kelapa [sawit] itu bisa dijadikan avtur, ini sudah hampir ketemu, hampir ketemu, kalau ini ketemu lagi artinya sudah semua pesawat akan kita ganti dengan minyak dari kelapa [sawit] yang dihasilkan oleh rakyat kita Indonesia,” ujar dia.
Jokowi lantas menyitir ajaran Trisakti Bung Karno. Jokowi ingin Indonesia tak lagi ditekan-tekan negara lain.
”Saya tidak ingin berpanjang lebar intinya seperti yang dikatakan Bung Karno dalam Trisakti kita harus berdikari di bidang ekonomi sehingga kita tidak mudah ditekan-tekan lagi oleh siapa pun oleh negara mana pun, dan kita juga akan mandiri secara politik berdaulat dalam politik karena kita memiliki semuanya yang kita olah kita kerjakan sendiri. Itulah yang diajarkan Bung Karno, Trisakti. Berdaulat dalam bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan,” ujar dia. (Detik/JIBI)