Wana Wisata Ancam Gunung Lawu

Sri Sumi Handayani

KARANGANYAR—Pemanfaatan lahan di lereng Gunung Lawu untuk wana wisata berpotensi merusak hutan. Penyewa menebangi pohon di lahan Perhutani. Ada 21 penyewa yang memanfaatkan hutan.
Sebelumnya, di media sosial beredar video penebangan pohon di lereng Gunung Lawu. Penebangan itu menggunakan ekskavator. Sampai-sampai Bupati Karanganyar, Juliyatmono, meminta Perhutani menghentikan penebangan itu. Sedangkan polisi diminta menindak secara hukum.
Administratur Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Surakarta, Sugi Purwanta, menuturkan perusakan hutan itu berlangsung di petak 45-2 hutan Lawu. Perum Perhutani mengambil tindakan tegas dengan menghentikan pekerjaan membuka lahan.
Sebelumnya, Perum Perhutani bekerja sama dengan investor dari Solo mengelola lahan di petak 45-2 seluas 1,66 hektare. Investor baru membuka sekitar 1 ha. Setelah kejadian itu, Sugi enggan disebut Perhutani kecolongan. Dia merasa Perhutani sudah membentuk tim pengawasan untuk memantau proyek wana wisata di wilayahnya. Total ada 21 wana wisata yang sudah dibuka di Karanganyar.
”Mengelola hutan untuk wisata ada aturannya. Kami memilih mitra. Aturannya sesuai edaran yang telah dibuat. Soal itu [kejadian di petak 45-2], kami sudah ingatkan bahwa enggak boleh [memakai alat berat dan memotong pohon]. Itu keteledoran pelaksana lapangan. Kegiatan di sana dihentikan. Tetapi prosedur tidak serta merta mencabut izin pengelolaan. Kami tugaskan tim untuk mengevaluasi. Apa yang sudah dan belum dilakukan, yang dilanggar atau tidak sesuai PKS [perjanjian kerja sama],” jelas dia saat dihubungi Koran Solo, Jumat (10/1).
Sejumlah kewajiban sesuai PKS adalah menanam pohon, membuat tanggul penahan banjir, dan lain-lain.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
Bupati Karanganyar, Juliyatmono, mengecek lokasi proyek yang merobohkan pohon di hutan lindung di lereng Gunung Lawu, Kamis (9/1) malam. Bupati mendesak agar perizinan pengelolaan di kawasan tersebut segera dicabut.
Pantauan Koran Solo, lelaki yang akrab disapa Yuli itu mengecek kerusakan di di Telogodringo pukul 21.00 WIB. Polisi memasang police line setelah menghentikan aktivitas. Yuli menyatakan akan mendesak KPH Surakarta untuk mencabut izin pemanfaatan lahan tersebut.
“Atas nama pemerintah, saya tunjukkan ketegasan kami. Sekali pun kewenangan ada di KPH Surakarta. Tugas kita kan merawat dan memelihara Gunung Lawu sebagai gentongnya Soloraya. Upaya kita seharusnya menghijaukan agar lestari tetap sejuk dan dingin. Selanjutnya kami akan mendesak agar izin ini dicabut. Tidak boleh dilanjutkan lagi. Kemudian yang lain juga ditinjau agar ditertibkan,” bebernya kepada wartawan.
Menurutnya, pemanfaatan hutan sebagai ekowisata tidak boleh sedikit pun merusak lingkungan. Daya tarik utama Gunung Lawu adalah keindahan alam yang asri dan hijau. Dia mengapresiasi Asper BKPH Lawu Utara KPH Surakarta yang berulang kali mengingatkan dan mengambil tindakan penyelidikan bersama kepolisian.
Asper BKPH Lawu Utara KPH Surakarta, Widodo, mengatakan peristiwa tersebut merupakan kecerobohan pengelola. Berdasarkan surat administratur, mereka dilarang menggunakan alat berat dan menumbangkan pohon di hutan lindung. “Kawasan ini merupakan hutan lindung. Kami sudah memperingatkan selama enam kali namun tidak digubris. Akhirnya kami berhentikan,” ucap dia.
Sukarelawan Anak Gunung Lawu (AGL), Purharyanto alias Best, khawatir eksploitasi hutan Lawu berlebihan. ”Kami sukarelawan prihatin. Seharusnya enggak begini. Masyarakat tidak berani mengingatkan mungkin karena [mereka] sudah mengantongi izin dari Perhutani. Tetapi yang dilakukan ini merusak hutan menggunakan alat berat. Jelas melanggar aturan,” ujar dia saat berbincang dengan wartawan.
Kasus perusakan hutan itu kini ditangani Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Karanganyar. Kapolsek Tawangmangu, AKP Ismugiyanto, menyatakan area itu dijaga polisi. Alat berat yang digunakan dan pengemudi dibaa ke Polres Karanganyar.
“Tadi alat berat sudah kami turunkan sekitar pukul 19.00 WIB. Kejadian sudah dilidik dan saat ini ditangani langsung Satreskrim Polres Karanganyar. Sopir alat berat saat ini masih dimintai keterangan,” papar dia.
Polisi mengumpulkan informasi dari tujuh orang, yakni sejumlah pelaksana proyek dan Perum Perhutani KPH Surakarta. Mereka berstatus saksi. Hingga Jumat, polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan menemukan barang bukti berupa kayu yang ditebang. (Candra Mantovani/JIBI)