KEJARI TANGANI KASUS BKK EROMOKO Pembobol Dana Nasabah Rp2,7 M Ditahan

WONOGIRI—Kejaksaan Negeri (Kejari) Wonogiri menahan Giri Rahmanto, 36, warga Sumber RT 002/RW 001, Puloharjo, Eromoko, Wonogiri, Senin (13/1).

Rudi Hartono
redaksi@koransolo.co

Giri telah ditetapkan sebagai tersangka pembobol dana 28 nasabah pemilik 45 rekening dalam kurun waktu 2014-2017 saat menjadi anggota staf bidang dana Badan Kredit Kecamatan (BKK) Eromoko (sekarang PT BKK Jateng) Cabang Pracimantoro. Total dana yang digelapkan untuk kepentingannya pribadi senilai Rp2,7 miliar. Ironisnya, dana tersebut telah habis diserahkan kepada dukun untuk digandakan.
Pantauan Koran Solo di Kantor Kejari Wonogiri, Giri dibawa ke Rutan Kelas IIB Wonogiri setelah diperiksa sebagai tersangka. Penyidik menetapkannya sebagai tersangka akhir pekan lalu. Giri dijerat dengan pasal berlapis, Pasal 2 junkto Pasal 3 junkto Pasal 8, dan junkto Pasal 18 UU No. 20/2001 perubahan atas UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Dia terancam pidana maksimal 20 tahun penjara.
Kepala Kejari (Kajari), Agus Irawan Yustisianto, menyampaikan penanganan kasus dimulai 2017. Awalnya BKK Eromoko bekerja sama dengan Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun) Kejari menyelesaikan masalah itu. Sebagai langkah awal, Kejari menagih Giri yang juga menjadi pedagang sate kambing itu untuk mengembalikan dana. Namun, setelah lebih dari setahun Giri tak bisa mengembalikannya. Selanjutnya kejari melalui Seksi Pidana Khusus (Pidsus) mengusutnya lebih lanjut. Jaksa menemukan unsur pelanggaran yang dilakukan Giri.
Pada tahap itu jaksa memeriksa para saksi, termasuk 28 nasabah pemilik 45 rekening yang dananya diambil Giri. Mereka merupakan pedagang pasar, pemilik warung kelontong, dan toko pakaian. Ada nasabah yang menyimpan dana Rp200 juta. Bahkan, ada nasabah yang memiliki dana hingga Rp600 juta. Berdasar hasil penghitungan kerugian negara oleh Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Semarang, kerugian yang ditimbulkan tercatat Rp2.784.569.589.
“Dana nasabah yang digunakan tersangka sudah dikembalikan BKK Eromoko menggunakan dana kas. Pengembalian itu dilakukan setelah mendapat masukan OJK [Otoritas Jasa Keuangan] untuk menjaga kepercayaan nasabah. Kas itu adalah dana BKK Eromoko yang 51 persen sahamnya milik Pemprov Jateng dan 49 persen milik Pemkab. Jadi, dana yang harus dikembalikan tersangka adalah uang negara,” kata Agus didampingi Kasi Pidsus, Ismu Armanda dan Kasi Intelijen, Amir Akbar Nurul Qomar.
Modus yang digunakan Giri, seperti tak menyetorkan dana tabungan dan deposito yang diserahkan nasabah kepadanya. Untuk meyakinkan nasabah, Giri menulis buku tabungan nasabah sesuai nilai dana yang diserahkan kepadanya, sebagai bukti dana sudah disetorkan. Selain itu Giri memasulkan bilyet sebagai bukti dana deposito nasabah sudah disetorkan. Giri juga menggelembungkan nilai dana yang ditarik nasabah.
Contohnya, nasabah menarik dana Rp1 juta melalui Giri. Lalu dia menyodorkan slip penarikan kosong kepada nasabah. Selanjutnya, Giri menulis nilai dana yang ditarik jauh lebih besar dari yang dinginkan nasabah, seperti Rp10 juta. Alhasil, BKK menyerahkan dana Rp10 juta kepada Giri, tetapi dia hanya menyerahkan dana Rp1 juga kepada nasabah.
“Tersangka ini karyawan BKK yang sangat dipercaya nasabah. Karena itu nasabah tak curiga,” imbuh Kajari.
Pengacara Giri, Ganis Wibowo, mengatakan kliennya mengakui perbuatannya. Hingga saat ini Giri belum mengembalikan dana. Ganis akan berupaya mengajukan penangguhan penahanan. Menurut dia, kliennya masih akan diperiksa pada pekan ini.