Ular Kobra Dihargai Murah agar Tak Diburu

CAHYADI KURNIAWAN

WONOGIRI—Setiap hari pasaran Pon dalam penanggalan Jawa, pasar ular di Desa Ngadirojo Kidul. Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri dibuka.
Jangan membayangkan pasar ular ini ramai seperti pasar pada umumnya.
Pasar ini tak memiliki kios atau los, bahkan tak ada papan nama. Pasar ini sekadar tempat pemburu dan pembeli ular bertransaksi.
Lokasinya di sebelah selatan Subterminal Ngadirojo, Desa Ngadirojo Kidul, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri. Pasar tanpa sekat ini sebetulnya bisa dijangkau dengan berjalan kaki sekitar 100 meter dari Kantor Kecamatan Ngadirojo.
Sepetak lahan kecil milik warga di dekat jembatan menjadi tempat berkumpul penjual dan pembeli. Senin pagi kemarin, Darmolam, 60, baru saja tiba di pasar ular itu. Dia datang dari rumahnya di Masaran, Sragen, dengan naik bus. Ia dikenal sebagai pengepul ular.
Pada pukul 8.30 WIB itu, ia disambut beberapa penjual ular yang telah menunggu. Mereka rata-rata eks pemburu ular. Di dekat mereka ada sejumlah kantong ter-ikat rapat yang berisi ular bandotan macan atau disebut macanan dan ular sawa kembang atau piton yang ditaksir panjangnya lebih dari tiga meter dengan berat 11 kilogram.
Setelah menghabiskan sebatang rokok, Darmolam mulai membuka kantong-kantong berisi ular itu. Ia memindahkan ular ke kantong yang ia bawa dibantu salah seorang pemburu ular. Saat memeriksa ular sawa kembang, ia harus mengikat terlebih dahulu mulutnya kuat-kuat.
Gigitan ular piton bisa membikin cedera serius kendati tak mengakibatkan kematian. Kepada Marno, 55, salah seorang penjual ular, Darmolam menuturkan dua ekor ular yang ia bawa harganya Rp50.000. Ular macanan yang berukuran kecil hanya dihargai Rp10.000, sisanya Rp40.000. Tak ada tawar-menawar.
Lelaki asal Jati Gading, Ngadirojo Lor, itu menerima harga yang ditawarkan Darmolam. Ular yang dibawa Marno bukan hasil buruan. Ular itu masuk ke dalam rumah hendak memangsa burung peliharaannya dua hari yang lalu. Ia lalu menangkap ular itu dan menjualnya.
Harga ular memang sedang turun. Ular macanan sebelumnya bisa sampai Rp100.000 per ekor dan kini turun menjadi Rp40.000 per ekor. Ular piton yang sebelumnya Rp300.000 yang sepanjang minimal tiga meter, kini turun menjadi Rp100.000 per ekor.
Ular berbisa jenis kobra justru memiliki harga paling murah. Kobra ukuran besar hanya dihargai Rp12.000-Rp15.000 per ekor. Harga yang murah menjadi pesan agar masyarakat agar tak memburu ular berbisa itu secara sembrono. Kesalahan sedikit saja dalam memburu ular ini bisa berakibat fatal.
”Kalau menangkap ular kobra secara sembrono bisa berisiko meninggal dunia. Saya tegur. Jangan sembrono. Kalau bisa jangan diburu,” ujar lelaki yang mengaku sudah 20 tahun berjualan di pasar itu.
Pasar ular itu terbentuk secara alamiah. Awalnya Darmolam melihat banyak ular yang ditangkap saat petani bekerja di sawah. Ia berpesan kepada para petani agar ular itu dikumpulkan.
Ia sanggup membeli ular-ular itu. Para petani menjual ular ke rumah Darmolam di Masaran, Sragen. Ia kemudian menyarankan agar berkumpul saja di dekat Pasar Ngadirojo, lokasi pasar ular saat. Waktu berkumpul disepakati setiap pasaran Pon.