Guru Besar Termuda UNS

AKHMAD LUDIYANTO

SOLO—Kamis (16/1) menjadi hari bersejarah dalam hidup dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Pujiyono. Hari itu dia dikukuhkan sebagai guru besar Ilmu Hukum Perdata dan menjadi guru besar ke-7 Fakultas Hukum serta guru besar ke-212 UNS.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Rektor UNS, Jamal Wiwoho, menyebut Pujiyono yang saat ini berusia 40 tahun dua bulan merupakan guru besar termuda UNS. Bagi Pujiyono yang merupakan mantan Sekretaris Jenderal Pasoepati (2002-2012) tersebut jabatan guru besar adalah amanah yang tidak berhenti.
Ada beban dinamis yang harus didukung dengan roda penggerak yang kuat, stabil, dan kontinu. Ibarat lari maraton, pengukuhan guru besar adalah di water station yang tidak boleh berhenti berlama-lama di sana karena ada balapan yang harus diselesaikan sampai garis finis.
”Garis finis dalam hidup saya adalah sebagaimana pesan Rasulullah Muhammad SAW, tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat, long life education,” kata dia dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar.
Pujiyono menyampaikan pidato ilmiah berjudul Mendorong Mediasi di Luar Pengadilan sebagai Model Arus Utama dalam Resolusi Sengketa Bisnis. Resolusi sengketa bisa melalui pengadilan yang disebut litigasi dan di luar pengadilan yang disebut nonlitigasi. Salah satu model populer nonlitigasi adalah mediasi.
”Mediasi menghasilkan kesepakatan yang bersifat win-win solution, menjamin kerahasiaan sengketa para pihak, menghindari keterlambatan akibat masalah prosedur dan administratif, menyelesaikan masalah secara komprehensif dalam kebersamaan, dan tetap menjaga hubungan baik,” kata Pujiyono. (JIBI)