Terowongan PG Tjokro Toeloeng akan Jadi Wisata

PONCO SUSENO

KLATEN—Terowongan De Suiker Fabriek Tjokro Toelong alias terowongan Pabrik Gula (PG) Tjokro Toeloeng di zaman Belanda muncul kembali. Terowongan itu merupakan bagian dari bungker atau bagian drainase pembuangan limbah di PG Tjokro Toeloeng.
PG Tjokro Toeloeng Klaten diyakini warga sebagai pabrik gula tertua di Jawa setelah pabrik gula di Brebes. PG Tjokro Toeloeng dibangun di zaman penjajahan Belanda, yakni pada 1840. Pabrik tersebut hancur setelah Jepang berkuasa di Tanah Air.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 4
Saat ini, di lahan bekas pabrik gula di Kecamatan Tulung itu terdapat Pasar Cokro. Setelah sekian lama terpendam di bawah rumah warga, terowongan bersejarah tersebut diungkap warga Dukuh Cokro Kembang.
Selama puluhan tahun, sejumlah warga di Cokro Kembang tak menyadari di bawah fondasi rumahnya “bercokol” terowongan bersejarah. Lokasi terowongan berada sekitar 6,25 meter dari permukaan tanah. Panjang terowongan yang sudah dibuka lagi oleh warga Cokro Kembang itu hampir 100 meter.
Pangkal terowongan ini diduga berpusat di bekas PG Tjokro Toeloeng yang saat ini dibangun Pasar Cokro. Terowongan berdinding batu bata kuno itu bermuara ke Kali Pusur. Jarak Pasar Cokro dengan Kali Pusur berkisar 500 meter.
Warga baru membuka secara manual akses terowongan. Mulut terowongan berdiameter 1,6 meter. Semakin masuk, ruangan terowongan semakin membesar. Setelah memasuki terowongan sepanjang 17 meter, diameter terowongan membesar, berkisar 2,5 meter. Tinggi terowongan kurang lebih 2,5 meter.
Terowongan ini memiliki tiga cabang. Warga baru membuka satu cabang utama sepanjang hampir 100 meter. Satu cabang lainnya dalam kondisi tertutup beton. Cabang lainnya lagi tertutup lumpur. Terowongan ini berdinding batu bata.
Ketebalan konstruksi terowongan berkisar satu meter, baik di kanan, kiri, dan atas bangunan. Meski terpendam di bawah rumah warga, terowongan ini masih utuh. Di atas terowongan dibungkus pasir setebal kurang lebih satu meter. Selanjutnya, diberi pelapis beton dan diuruk tanah.
Terowongan ini persis berada di bawah beberapa rumah warga Cokro Kembang. Beberapa di antaranya adalah rumah Danang Heri Subiantoro, Sahuri, dan Giyanto. Masing-masingrumah luasan berkisar 400 meter persegi.
Terowongan kali pertama ditemukan Danang Heri Subiantoro bersama warga lain Wawan pada 25 November 2019. Sehabis Salat Subuh, Danang menyusuri pinggiran Kali Pusur, mendekati mulut terowongan. Saat itu, Danang hanya mengamati mulut terowongan dari luar.
Kondisi di mulut terowongan nyaris tertutup lumpur. Setelah itu, Danang bercerita ke tetangganya, Giyanto. Satu pekan berikutnya, Danang mengumpulkan warga di Cokro Kembang. Dalam per­temuan itu dijelaskan bahwa di bawah rumah warga terdapat terowongan yang berpotensi menjadi destinasi wisata baru di Cokro.
Di waktu selanjutnya, tujuh warga Cokro Kembang memberanikan diri masuk ke terowongan. Masing-masing, Danang, Suryanto, Wawan, Giyanto, Dadi, Dadi Wahyudi, dan Gatot. Mereka memasuki mulut terowongan dengan cara merangkak.
Mulut terowongan masih dipenuhi lumpur yang diduga berasal dari Kali Pusur. Diameter mulut terowongan hanya berkisar setengah meter. Sepanjang 17 meter, warga masih berjalan merangkak. Saat masuk terowongan, warga mempersenjatai diri dengan senapan angin, parang, sepatu boot, lampu halogen, parang, oksigen, helm, serta pisau.
“Di dalam pengap. Makanya kami membawa oksigen juga. Saat masuk, banyak sekali kelelawar berwarna merah. Jumlahnya ribuan,” kata Danang Heri Subiantoro, saat ditemui wartawan di rumahnya, Kamis (16/1).
Pada 1 Desember 2019, sebanyak 70 keluarga bergotong royong membuka akses terowongan yang dipenuhi lumpur. Kemudian pada 8 Desember 2019, warga mulai mengeruk lumpur secara manual. Pekan berikutnya, warga memberikan bau-bauan menyengat di dalam terowongan. Tujuannya mengusir hewan liar yang diduga masih di dalam terowongan. Pada pekan keempat dan kelima, warga bisa masuk terowongan dengan cara berdiri.
“Lumpur yang kami keruk dari terowongan mencapai 75 kubik. Pada pekan ketiga itu, kami juga bisa menyingkirkan blok cor yang lebarnya hampir semulut terowongan. Di pekan itu pula, kami mengundang tiga pawang ular untuk memastikan di terowongan tidak ada ular,” kata Danang.
Guna memudahkan penyusuran terowongan, Danang melubangi tanah di depan rumahnya. Lu­bang galian sedalam 6,25 meter tembus terowongan. Berbekal galian itu, warga bisa menyusuri terowongan tak harus melalui mulut terowongan di pinggir Kali Pusur. (JIBI)