Belum Terdeteksi Ada Cabang di Wonogiri

WONOGIRI—Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) belum mendeteksi adanya pengikut atau terdapat markas Keraton Agung Sejagat di Wonogiri.
Kepala Kantor Kesbangpol Wonogiri, Sulardi, menyam­paikannya, Minggu (19/1), menanggapi adanya informasi di Wonogiri terdapat markas atau semacam cabang Keraton Agung Sejagat. Sulardi mengaku kaget mengetahui berita di media bahwa Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, menyatakan Keraton Agung Sejagat di Purworejo yang didirikan Toto Santoso sebagai raja dan Fanni Aminadia sebagai ratu, memiliki markas lain di Wonogiri dan Klaten. Sebab, Sulardi belum pernah mengendus adanya pengikut maupun markas Keraton Agung Sejagat di Wonogiri.
Pada saat yang sama Sulardi langsung berkoordinasi dengan seluruh jaringan intelijen dari kepolisian, kejaksaan, kecamatan hingga tingkat rukun tetangga (RT). Menurut dia, tidak ada jaringannya yang mengetahui secara pasti adanya pengikut maupun markas Keraton Agung Sejagat. Sulardi sudah meminta semua pihak terus memantau. Menurut dia keterangan Kapolda kemungkinan besar berdasar hasil penyidikan terhadap kedua tersangka, Toto dan Fanni.
Sulardi akan segera berkoordinasi dengan aparat Polres Wonogiri apa bila di kemudian hari mendeteksi adanya pengikut atau markas Keraton Agung Sejagat.
“Setiap waktu kami [jaringan intelijen] memonitor kegiatan masyarakat. Belum pernah ada kegiatan yang mencurigakan terkait Keraton Agung Sejagat. Saya juga belum pernah mendengar kabar ada warga yang berpenampilan seperti “abdi” Keraton Agung Sejagat,” kata Sulardi saat dihubungi Koran Solo.
Dia mengimbau jika ada warga yang menjadi pengikut segera melapor kepada aparatur setempat, seperti pengurus RT, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, atau polisi. Pihak yang mendapat laporan selanjutnya akan menginformasikan kepada pihak terakait. Sulardi menegaskan pengikut bakal dibina agar tak mudah terpedaya doktrin atau bujukan orang yang ingin mengeruk keuntungan dengan bermodal pengakuan seba­­gai raja atau lainnya.
Melapor Polisi
Bagi warga yang merasa menjadi korban karena sudah menyetorkan sejumlah uang kepada “raja” atau “ratu” Keraton Agung Sejagat diminta melapor ke polisi. Laporan itu sebagai modal pengembangan penyidikan aparat Polda Jateng.
“Adanya hanya beberapa pengikut Gafatar [Gerakan Fajar Nusantara]. Tapi itu dulu. Sekarang mereka sudah sadar. Tidak ada diskriminasi terhadap mereka,” imbuh Sulardi.
Terpisah, Kapolres Wonogiri, AKBP Christian Tobing, belum dapat menyampaikan pernyataan lebih lanjut. Dia mengarahkan Koran Solo untuk meminta konfirmasi kepada Kapolda. Namun, dia menyatakan siap sepenuhnya apabila diminta membantu penyidikan Polda, seperti mengumpulkan data.
Seperti diketahui, masyarakat dihebohkan munculnya Keraton Agung Sejagat di Purworejo yang mengaku menguasai dunia. Kedua pimpinannya sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus penyebaran berita bohong. Mereka memiliki pengikuti ratusan orang. Berdasar hasil pengembangan penyidikan, keraton bikinan Toto dan Fanni itu memiliki “cabang” dan pengikut di Klaten dan Wonogiri. (Rudi Hartono)