Dampak Kemarau Panjang di Wonogiri Produksi Padi Turun 19.000 Ton

WONOGIRI—Produksi padi selama 2019 di Wonogiri turun hingga nyaris
19.000 ton.

Rudi Hartono
redaksi@koransolo.co

Penyebab utamanya kemarau panjang, sehingga membuat tanaman di lahan seluas lebih dari 5.500 hektare (ha) rusak ringan, hingga puso atau gagal panen. Bahkan, banyak lahan yang tak bisa ditanami karena kering kerontang.
Data yang dihimpun Koran Solo di Kantor Dinas Pertanian dan Pangan (DPP), Jumat (17/1), produksi padi sepanjang 2019 tercatat 389.874,04 ton gabah kering giling (GKG) atau turun 18.991,96 ton GKG dibanding produksi 2018. Saat itu produksi tercatat 408.866 ton.
Kepala DPP Wonogiri, Safuan, saat ditemui Koran Solo di kantornya, Jumat, menyampaikan penyebab utama produksi padi tahun lalu turun adalah kemarau panjang. Total tanaman yang rusak terdapat di lahan seluas 5.558 ha. Tanaman di lahan seluas 1.391 ha di antaranya puso. Selebihnya rusak ringan seluas 1.372 ha, sedang 1.383 ha, dan berat 1.412 ha akibat kekeringan.
Kerusakan itu terjadi pada musim tanam (MT) II. Tanaman yang rusak otomatis membuat luas panen berkurang. Luas panen tahun lalu tercatat 71.209,87 ha atau turun 4.604,33 ha dibanding luas panen 2018. Pada sisi lain pada MT III banyak sawah yang tak bisa ditanami lantaran kering.
Penyebab lainnya, seperti padi terserang penyakit penggerek batang. Penyakit itu mengurangi produksi hingga 30 persen. Selain itu karena tanaman diserang hama, seperti tikus, wereng, dan walang sangit. Namun, menurut Safuan serangan hama tersebut bisa dikendalikan karena serangan kurang dari 5 persen dari total luas tanam.
“Wilayah yang produksi padinya turun terjadi di kecamatan yang sawahnya tak mendapat irigasi teknis. Dari total lahan sawah seluas 22.212 ha, sawah yang mendapat irigasi teknis hanya 9.000 ha, seperti di Girimarto dan Slogohimo. Sawah-sawah di sana berada di lereng Gunung Lawu, sehingga tetap bisa mendapat air saat kemarau,” kata Safuan.
Kendati demikian, dia mengklaim produksi padi tetap surplus sebesar lebih dari 150.000 ton. Alhasil, Wonogiri tak mengalami kekurangan beras.
Komoditas Lain
Berdasar data yang dimiliki Koran Solo, selain padi, penurunan produksi juga terjadi pada komoditas kedelai, kacang tanah, singkong, ubi jalar, dan sorghum. Produksi kedelai sepanjang 2019 tercatat 2.410,58 ton atau turun 4.360,42 ton dibanding produksi tahun sebelumnya yang saat itu mencapai 6.771 ton. Produksi kacang tanah selama 2019 tercatat 30.306,84 atau turun 3.346,16 ton dibanding produksi 2018 sebanyak 34.153 ton.
Koordinator Balai Penyuluh Pertanian Selogiri, Sugito, menginformasikan setiap kemarau banyak sawah di Selogiri bero atau tak ditanami karena kering. Akibatnya, produksi padi di sawah tersebut terhenti. Biasanya fenomena itu terjadi pada MT III. Hanya, sawah yang tetap mendapat irigasi yang bisa ditanami. Petani bisa mendapatkan air dengan cara menyedot dari sumur dalam dan saluran irigasi Colo Barat.