Pengikut Keraton Mengundurkan Diri Keraton Agung Sejagat Terus Dipantau

KLATEN—Jajaran Polsek Prambanan bakal memantau Keraton Agung Sejagat Cabang Klaten di Saren, Brajan, Prambanan, Minggu (19/1).

Ponco Suseno
redaksi@koransolo.co

Polisi tak segan mengambil tindakan tegas berupa pembubaran aktivitas di Keraton Agung Sejagat yang tak dibarengi izin keramaian.
Kapolsek Prambanan, AKP Suyono, mewakili Kapolres Klaten, AKBP Wiyono Eko Prasetyo, mengatakan batu prasasti yang berada di kompleks Keraton Agung Sejagat sudah dipasangi garis polisi. Di samping itu, batu prasasti yang didatangkan dari Gunung Merapi itu juga masih ditutup terpal warna biru.
“Batu prasasti itu masih kami pasangi garis polisi. Sampai kapan? Sampai ada ketetapan hukum dalam kasus ini. Kalau sudah dipasang garis polisi, artinya warga dan pengikut keraton itu tak boleh membukanya. Kami akan pantau dengan cara patroli dalam 24 jam per hari. Jika memang ditemukan kegiatan di sana, terlebih tidak ada izin atau pun pemberitahuan, akan kami bubarkan,” katanya kepada Koran Solo, Minggu (19/1).
AKP Suyono sudah mengum­pulkan 70-an orang terdiri atas pengikut dan warga terdampak keberadaan Keraton Agung Sejagat Cabang Klaten di Balai Desa Brajan, Prambanan, Sabtu (18/1) malam. Di kesempatan itu, sejumlah pengikut keraton sudah bersedia mengundurkan diri.
“Tadi malam [kemarin malam], ada 28 orang pengikut yang sudah mundur. Lima di antaranya dari Jogonalan. Mereka semua itu menjadi korban dalam hal ini. Prinsipnya, agar kejadian seperti ini tak terulang kembali, kami minta ke seluruh elemen masyarakat untuk peduli dan peka terhadap kondisi di wilayahnya masing-masing,” kata Kapolsek.
Hal senada dijelaskan Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Klaten, Dodhy Hermanu. Kesbangpol Klaten mengapreasi langkah sigap yang dilakukan aparat kepolisian dalam menangani para pengikut Keraton Agung Sejagat yang berpusat di Purworejo.
“Yang dikumpulkan tadi malam, ada warga terdampak dan warga asli di kawasan Saren, Brajan, Prambanan. Dari kami, intinya harus berhati-hati menyikapi organisasi masyarakat (Ormas) abal-abal. Laporkan ke Babinsa atau Bhabinkamtibmas ketika melihat hal-hal aktivitas Ormas yang tak jelas dengan menarik uang tak wajar,” katanya.
Gaji Besar
Sebagaimana diketahui, sejumlah warga di Brajan dan sekitarnya mengaku sempat tertarik menjadi pengikut Keraton Agung Sejagat Cabang Klaten karena iming-iming gaji besar. Dalam lima tahun ke depan, setiap pengikut akan diberi gaji sesuai jabatannya. Gaji tersebut hingga senilai Rp1 miliar.
“Saya datang ke sini karena ingin melihat kondisi sebenarnya [Keraton Agung Sejagat]. Di sini memang dikenal sebagai sanggar seni. Jadi juga sering dijadikan pusat kegiatan oleh mereka [pengikut Keraton Agung Sejagat]. Selaku warga di Randusari [sebelah Desa Brajan], saya sudah tahu ada perekrutan dan iming-iming uang itu. Tapi saya tak tertarik karena memang tidak nalar,” kata warga Randusari, Prambanan, Wawa