Diserang Tawon, Warga Tlobong Meninggal

KLATEN—Pudyo Raharjo alias Sri Hono, 76, warga Turen, Tlobong, Delanggu, Klaten, meninggal dunia, Minggu (19/1), setelah diserang tawon Vespa affinis, Sabtu (18/1).

Ponco Suseno
redaksi@koransolo.co

Punggung dan tangan Sri Hono diserang tawon saat mencari bambu untuk bahan bakar di kebun milik tetangganya, Sabtu pagi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran Solo, Sri Hono sehari-hari bekerja sebagai pembuat telur asin skala rumahan. Untuk memproduksi telur asin, Sri Hono membutuhkan kayu bakar. Akhir pekan lalu, Sri Hono mencari bambu di kebun milik tetanggannya. Jarak rumah Sri Hono dengan kebun tetangganya berkisar 100 meter. Kebun tersebut jarang dijamah warga sekitar karena pemiliknya berada di luar daerah dalam beberapa tahun terakhir.
Sri Hono menebang satu pohon bambu di kebun milik tetangganya itu. Tanpa diketahui Sri Hono, ternyata tak jauh dari bambu yang ditebang itu terdapat sarang tawon berdiameter setengah meter. Sarang tawon itu berada di pohon bambu yang sudah tumbang dengan ketinggian 50 cm dari permukaan tanah.
Sewaktu menarik bambu yang baru saja ditebang itu, ternyata mengenai pohon bambu yang terdapat sarang tawon. Sarang tawon tersebut turut bergoyang-goyang. Dalam sekejap, tawong-tawon Vespa affinis atau tawon gung keluar dari sarangnya dan menyerang Sri Hono. Meski sempat melarikan diri, bagian punggung dan tangan Sri Hono sempat terkena puluhan sengatan tawon.
Muntah-Muntah
“Mencari kayunya sendirian. Sabtu siangnya, merasa kesakitan. Terus saya antar ke PKU Muhammadiyah Delanggu [menjalani rawat jalan]. Sehari berikutnya [Minggu], bapak muntah-muntah pukul 09.00 WIB. Jam 14.00 WIB sempat sesak napas. Setelah itu, saya bawa ke PKU Muhammadiyah Delanggu lagi kemudian bapak meninggal dunia,” kata salah seorang anak Sri Hono, Tri Subiyanto, saat ditemui wartawan di rumahnya di Turen, Tlobong, Senin (20/1).
Berdasarkan data yang dihimpun Koran Solo, Sri Hono, meninggal dunia saat menjalani perawatan di PKU Muhammadiyah Delanggu, Minggu (19/1) pukul 18.00 WIB. Sri Hono meninggalkan seorang istri, Suti, lima anak, dan 10 cucu. Jenazah Sri Hono dimakamkan di Sasonoloyo Turen, Tlobong, Delanggu, Senin (20/1) pukul 13.00 WIB.
“Saat diserang tawon itu, sebenarnya Pak Sri Hono juga mengenakan kaus. Tapi sengatan tawon bisa menembus kausnya itu. Sarang tawon yang ada di bambu itu besarnya seperti galon air mineral. Beberapa waktu sebelum diserang tawon, Pak Sri Hono pernah mencari bambu di lokasi yang sama. Ini kejadian pertama di Tlobong. Ke depan, kami akan sosialisasikan lagi ke masyarakat di 10 RW untuk mewaspadai keberadaan sarang tawon. Sekitar dua bulan lalu, saya sudah berpesan juga ke ketua RW agar mewaspadai keberaan sarang tawon itu,” kata Kepala Desa (Kades) Tlobong, Basuki.