Kemarau Panjang Picu Kenaikan Harga Sayuran

WONOGIRI—Kemarau panjang sekitar sembilan bulan yang melanda Wonogiri pada 2019 memicu kenaikan harga sejumlah komoditas sayuran. Misahnya, harga kacang panjang naik dari Rp6.000 menjadi Rp12.000 per kilogram (kg). Kenaikan itu dipicu ketiadaan suplai.
Pantauan Koran Solo di Pasar Krisak, Selogiri, terjadi kenaikan harga wortel dari Rp8.000 menjadi Rp12.000 kg per kg, bayam dari Rp2.000 menjadi Rp3.000 per ikat. Lalu, kangkung cabut dari Rp1.000 menjadi Rp1.500 per ikat.
Sayuran itu rata-rata dikirim dari luar Wonogiri seperti Boyolali dan Sukoharjo. Ada juga sayuran yang dibeli dari Solo seperti wortel. Khusus kangkung dan bayam sebagian ada yang berasal dari Wonogiri sendiri.
“Meski telah turun hujan tetapi telanjur banyak yang gagal tumbuh dengan baik. Kenaikan harga ini memang karena enggak ada stoknya,” kata salah satu penjual sayur di Pasar Krisak, Desa Singodutan, Selogiri, Narti, saat ditemui Koran Solo di kiosnya, Senin (20/1).
Kenaikan harga kacang panjang juga diungkapkan oleh Tukinem, 60, penjual sayuran di Pasar Kota Wonogiri. Di pasar itu, kacang panjang naik dari semula Rp3.000-Rp5.000 per kg menjadi Rp10.000 per kg. Biasanya saya dikirimi kacarang dari petani Wonogiri. Namun, kali ini kacang panjang dikirim dari Ponorogo. “Dari Ponorogo, dibeli pedagang Slogohimo lalu dibawa ke sini,” terang dia.
Ia memprediksi, setelah hujan turun beberapa pekan terakhir, harga kacang panjang turun sebab petani di Wonogiri akan panen sekitar awal Februari mendatang.
Sementara itu, menurut Tenaga Harian Lepas (THL) Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (TBPP) Kecamatan Nguntoronadi, Wahyu Tulus Nugroho, saat dihubungi Koran Solo, Senin, kenaikan harga sayuran itu bisa memicu inflasi. Ketika harga sayuran naik, hal itu berdampak terhadap keuangan rumah tangga.
Untuk menekan inflasi akibat kenaikan sayuran itu, menurut dia, rumah tangga bisa mulai mengembangkan pekarangan rumah untuk menanam setidaknya tiga jenis sayuran seperti cabai, tomat, dan terong atau sawi. Ketiga sayuran itu yang umumnya banyak dikonsumsi rumah tangga.
“Ketika orang mencukupi kebutuhan di rumahnya sendiri. Itu sebenarnya signifikan untuk menekan inflasi karena orang enggak harus beli di pasar,” kata dia.
Namun, inisiasi menanam sayuran di pekarangan kerap terganjal dengan alasan klasik yakni tidak sempat. Orang lebih suka menunggu penjual sayur datang menghampiri rumahnya. Padahal, konsep bertani di pekarangan merupakan konsep bertani organik yang hasilnya selain untuk konservasi alam juga bisa meningkatkan kualitas hidup. “Perlu untuk menyadarkan semua orang mau menanam sayur di pekarangan. Ini berdampak signifikan minimal mengurangi pengeluaran,” tutur Wahyu.
Tak hanya sayuran, krisis iklim juga mengakibatkan produktivitas buah-buahan turun. Di Beji, produksi buah alpukat turun hingga 60-70 persen pada musim lalu. Kemudian, pisang turun hingga 30-40 persen dan buah naga diperkirakan turun hingga 30 persen. “Khusus buah naga ada yang seharusnya sudah 2-3 kali berbuah, ini baru satu kali,” terang dia. (Cahyadi Kurniawan)