Potensi Perayaan di Markas Rival

LIVERPOOL—“Kami akan menjadi juara, kami akan menjadi juara.”

Chrisna Chanis Cara
redaksi@koransolo.co

Chant itu terdengar dari penjuru Anfield setelah Liverpool memastikan kemenangan 2-0 atas Manchester United (MU) dalam lanjutan Liga Premier, Senin (20/1) dini hari WIB.
Tiga poin tersebut memang membuat The Reds kian dekat dengan gelar Liga Premier pertama mereka dalam 30 tahun terakhir. Jordan Henderson dkk. hanya perlu 10 kemenangan dari 16 laga tersisa untuk menyegel gelar juara.
Anak asuh Jurgen Klopp kini sudah mengoleksi 64 poin dari 22 pertandingan. Mereka unggul 16 poin dari pesaing terdekat, Manchester City, yang sehari sebelumnya dipaksa bermain imbang 2-2 melawan Crystal Palace. Jarak itu bisa melebar menjadi 19 angka karena Liverpool masih menyimpan satu laga.
“Ya silakan mereka [fans] menyanyikan lagu itu, saya tidak ingin mendikte apa yang mereka nyanyikan. Jika penggemar tidak gembira pada momen ini, itu akan sangat aneh,” ujar Klopp menanggapi euforia suporter, seperti dilansir bbc.com, Senin.
Dengan jarak yang sedemikian jauh serta konsistensi yang terjaga, banyak yang menyebut Liverpool tinggal menunggu waktu untuk dinobatkan sebagai juara Liga Premier 2019/2020. Tak hanya itu, Sadio Mane dkk. berpeluang memecahkan rekor sebagai peraih gelar Liga Premier tercepat sepanjang sejarah.
Sejauh ini tim yang mampu menjuarai kompetisi paling cepat adalah MU era Sir Alex Ferguson pada musim 2000/2001. Saat itu Setan Merah menjadi kampiun dengan menyisakan lima laga. City juga pernah mendapat capaian serupa di era Josep Guardiola musim 2017/2018.
Secara teori, Liverpool bisa memastikan gelar saat berjumpa Watford pada 29 Februari atau pekan ke-28. Namun, syarat yang harus dipenuhi cukup mustahil. The Reds harus memenangi enam laga ke depan, sedangkan City selalu keok dalam periode yang sama.
Peluang juara paling realistis justru ada di pekan ke-32 atau saat Liverpool melawat ke markas The Citizens, 4 April. Ini dengan catatan kedua tim berhasil memenangi setiap laga sampai mereka bertemu di Etihad. Tentu Liverpool wajib menang atas rivalnya itu untuk menjadi kampiun dengan menyisakan enam laga.
Namun, The Reds pantang jemawa meski kini sangat di atas angin. Mereka perlu belajar pada pengalaman Newcastle saat diasuh Kevin Keegan pada musim 1995/1996. Kala itu The Magpies amat dominan dan sempat memuncaki klasemen dengan keunggulan 16 poin.
Akan tetapi, jarak itu perlahan terpangkas hingga akhirnya mereka harus mengakhiri kompetisi di bawah MU. Liverpool sendiri punya memori buruk di musim lalu ketika gelar juara yang sudah di depan mata melayang ke tangan City.
“Semua orang ingin kami mengatakan sesuatu tentang itu [gelar] tapi kami tidak akan terbawa. Saya pikir apa yang kami alami tahun lalu membuat mental kami seperti ini. Kami hanya ingin bermain laga per laga dan terus berkembang,” ujar bek Liverpool, Virgil van Dijk, yang turut menyumbang satu gol ke gawang MU. (JIBI)