SANITASI IDEAL Mewujudkan Air Keran Layak Langsung Minum

Air keran layak langsung minum tak sulit diwujudkan di sejumlah negara maju, namun di Asia Tenggara lain cerita. Jangankan layak langsung minum, air keran yang seharusnya bisa direbus masih tak layak konsumsi. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi, dari berbagai sumber.

redaksi@koransolo.co

Ketika bepergian ke luar negeri, tak jarang kita mengandalkan keran air minum yang ada di tempat publik suatu negara. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) Amerika Serikat juga telah merekomendasikan beberapa negara dengan keran air minum yang aman dikonsumsi. Salah satunya adalah Kanada.
Kanada memiliki permintaan air minum keran yang lebih rendah daripada luas geografisnya. Hal itu berkat kepadatan populasi di Kanada yang juga rendah. Selain itu, negara ini memiliki begitu banyak sumber air, sehingga pasokan air minum keran tetap murni. Kota-kota di Kanada pun mempertahankan proses penyaringan yang ketat dan teregulasi soal keamanan dan kebersihannya.
Secara lebih rinci, dilansir dari tappwater.co, pasokan air minum keran di Kanada diatur oleh Health Kanada yang bertanggung jawab atas kesehatan masyarakat secara nasional. Di bawah pengawasan Health Kanada, provinsi dan kota bertanggung jawab atas pengembangan dan penegakan peraturan yang berlaku untuk pasokan air publik.
Departemen Kesehatan Kanada menetapkan konsentrasi kontaminan maksimum yang dapat diterima dalam air minum, yang dikenal sebagai Pedoman Kualitas Air Minum Kanada. Pedoman ini mencakup berbagai macam kontaminan termasuk sifat mikrobiologis, kimia dan radiologis serta organoleptik seperti rasa dan bau. Berdasar peraturan itu, pemerintah kota bertugas menguji pasokan air mereka untuk memastikan bahwa mereka mentaati batas kontaminan tersebut.
Inggris juga negara yang menurut CDC Amerika memiliki air minum keran yang sehat. Inggris memiliki sumber air yang banyak dari danau dan sungai, belum lagi di sana curah hujan cukup tinggi. Dilansir dari tripsavvy.com, ada dua sumber pasokan air minum keran di Inggris, yaitu air permukaan seperti danau dan sungai, juga air tanah.
Dalam hal ini, Inggris menggunakan teknik penyaringan air tersendiri. Untuk air permukaan dan air tanah, biasanya disimpan di reservoir sampai kontaminan mengendap dan terpisah dengan air. Kemudian dilakukan pemisahan kontaminan logam. Inggris juga menggunakan reaksi alam seperti sinar Matahari dan oksigen untuk memisahkan kontaminan gas.
Di Asia, ada Jepang sebagai negara dengan air minum keran paling bersih. Dilansir dari tokyocreative.com, air minum keran Jepang mengalami tes kontrol kualitas yang ketat di mana air minum yang disaring harus memenuhi 51 kriteria. Padahal air mineral di botol hanya memiliki 18 kriteria yang harus dipenuhi untuk dapat dikatakan sebagai air layak minum.
Pengujian air minum keran meliputi pengendalian ketat terkait jumlah residu klorin dan penghilangan zat radioaktif selama proses pemurnian. Di setiap sudut ruang publik, Jepang menyediakan keran air minum dengan dua tap (pencetan). Tap bagian atas berarti untuk diminum, sedangkan tap bagian bawah berarti untuk keperluan cuci tangan. Sebab dua tap itu menghasilkan kualitas air yang berbeda. Tentunya air untuk diminum adalah air yang lebih berkualitas.
Selain itu, sistem pengairan di Jepang sangat rapi. Pipanya memiliki sedikit kebocoran, teknologi pemurnian airnya berteknologi tinggi, dan peralatannya terpelihara dengan baik. Pemerintah dan beberapa otoritas lokal di Jepang pun, selama bertahun-tahun, telah menawarkan kerja sama teknis kepada negara-negara dengan pembangunan saluran air yang kurang berkembang.
Jika berbicara tentang Asia Tenggara, tentu saja Singapura memiliki kualitas air minum keran yang terbaik. Singapura sebenarnya tak memiliki banyak sumber air. Mereka hanya mengandalkan air hujan dan impor air dari negara tetangga, Malaysia. Namun mereka memiliki proses penyaringan air yang canggih.
Sistem Penyaringan
Sistem penyaringan air minum keran di Singapura serupa dengan Jepang. Bahkan Singapura menggunakan sensor online untuk mendeteksi kandungan kontaminan dalam air minum. Tak hanya itu, mereka juga sudah menerapkan daur ulang air minum yang tidak terpakai dengan memurnikannya menggunakan bahan-bahan aman. Akan tetapi, rasa air di Singapura menjadi aneh karena adanya proses tersebut.
Tak banyak negara-negara di Asia Tenggara yang memiliki air minum keran selain Singapura. Salah satu negara yang menyediakan air minum keran di tempat publik adalah Thailand. Namun kualitas air minum keran di Thailand sedang dipertanyakan karena adanya instrusi air asin.
Metropolitan Waterworks Authority meredakan kekhawatiran air keran asin di Bangkok dan sekitarnya dengan menegaskan bahwa sejumlah kecil garam tidak akan membahayakan kesehatan. Meski begitu, para ahli kesehatan mendesak orang-orang dengan kelainan ginjal untuk berhati-hati.
“Air keran asin dapat menambahkan lebih banyak natrium ke dalam tubuh, tetapi jumlahnya sedikit,”kata Phanphimon Wipulakon, seorang pejabat dari Departemen Kesehatan Metropolitan Waterworks (MWA).
MWA langsung merespons begitu ada laporan yang beredar bahwa fasilitas produksi air keran Samlae di distrik Muang, Pathum Thani, menghadapi intrusi air asin. Hal itu disebabkan oleh tingkat Sungai Chao Phraya yang turun karena kekeringan dan menjadi terlalu rendah untuk menahan air laut ketika Teluk Thailand sedang pasang.
Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan orang untuk tidak mengonsumsi air ledeng dengan natrium melebihi 200 miligram (mg) dan klorida melebihi 250 mg per liter. Phanphimon mengatakan air keran biasanya hanya tercampur dengan 100 mg hingga 150 mg natrium per liter. “Jadi tidak mungkin bahwa kita akan minum air yang sangat tinggi natriumnya,” kata dia.
Namun, dia memperingatkan pasien dengan penyakit ginjal untuk lebih berhati-hati karena mereka rentan terhadap salinitas. Orang juga harus mengurangi konsumsi kedelai dan saus ikan dan makanan asin lainnya setelah air keran menjadi lebih asin.
Menurut Departemen Irigasi Kerajaan Thailand, tanpa hujan, Chao Phraya akan terus menghadapi masalah karena empat bendungan utama di negara itu hanya berisi 44% dari total kapasitas mereka. Kondisi yang dialami air minum keran di Thailand diprediksi akan tetap seperti ini apabila curah hujan kurang.
Malaysia termasuk beruntung karena tidak terdampak kelangkaan air. Dilansir dari thestar.com.my, menurut Fakultas Kedokteran Universiti Putra Malaysia, kandungan kontaminan di Malaysia termasuk dalam batas normal, meskipun begitu, air minum keran masih berbau logam dan di beberapa wilayah air tersebut masih memiliki rasa logam atau pasir.
Hal itu disebabkan karena dalam perjalanannya, air dari sungai telah tercemar sedikit pecahan logam pipa atau endapan pasir. Oleh karena itu, The Malaysian Water Forum (FAM) supports Deputy Health Minister Dr Lee Boon Chye menganjurkan warga Malaysia untuk lebih baik mengonsumsi air minum yang telah direbus.