Robot Seks, Menghawatirkan dan Ironis

Robot seks sesungguhnya yang sangat mirip dengan manusia memang belum diciptakan. Namun pengembangan robot seks terus dibicarakan, di tengah-tengah derasnya produksi boneka seks yang selama ini Anda kira itu robot seks. Sebuah masa depan industri robot yang mengkhawatirkan dan ironis. Berikut ini ulasan wartawan Harian Jogja, Maya Herawati dan Salsabila Annisa Azmi dari berbagai sumber.

redaksi@koransolo.co.id

Perkara memuaskan hasrat seksual manusia berkembang ke arah yang praktis: boneka seks. Sebelum jauh membahas dunia robot, mari kita runut produk pemuas libido yang selama ini beredar dan banyak dijual.
Shelly Ronen, seorang peneliti di New York University (NYU) Amerika Serikat yang fokus mempelajari hubungan asmara antarmanusia, seks dan boneka seks menyebut rinci ada banyak benda-benda yang saat ini beredar yang mirip dengan bentuk tubuh manusia. Benda-benda itu menurut Ronen memfasilitasi pengalaman fantasi seks manusia yang lebih riil menyentuh organ tubuh dibanding hanya sekadar pornografi. “Benda-benda ini [boneka seks] lebih mudah dikontrol dibandingkan melakukan hubungan seks dengan seorang pasangan,” ujar Ronen seperti dikutip BBC Future, belum lama ini.
Boneka-boneka seks yang terhubung dengan teknologi dan selama ini dianggap sebagai robot seks bebarapa di antaranya sukses di pasaran, sebagian lain tak menemukan pembeli.
Mari mundur ke 2009, ketika sebuah benda elektronik bernama Real Touch dijual di pasaran.
Real Touch bukan robot dan tidak berbentuk boneka. Hanya berupa benda seperti kulit kacang besar yang berlubang di salah satu sisinya. Benda ini ditujukan bagi konsumen laki-laki, terhubung dengan video porno yang memberi stimulasi sensasi. Mirip dengan permainan video game motor balap di Timezone.
Menurut ulasan Gizmag, pengalaman seks yang diberikan Real Touch tergolong mendekati riil. Sayangnya benda ini tak banyak mendapat pembeli. Pada 2013 Real Touch menghentikan produksi karena digugat terkait dengan hak paten.
Real Touch dan benda-benda pemuas hasrat yang lain yang terhubung dengan teknologi sebenarnya bukan robot seks. Benda-benda itu tetap tergolong mainan atau sex toys.
Ada satu lagi produk yang kerap disebut sebagai robot seks karena bentuknya sangat mirip dengan manusia. Boneka seks ini dibuat oleh perusahaan asal California, Amerika Serikat, Abbys Creations. Boneka seks ini diberi label Real Doll. Abyss membuat dan menjual sebentuk boneka yang mirip dengan sosok manusia perempuan lengkap dengan kulit yang punya bercak alami dan dinamai Harmony. Kreatornya adalah Matt McMullen dari Abbys Creations.
Kalangan Terbatas
Namun, Real Doll diciptakan untuk sekelompok penggemar alias kalangan terbatas. Bahkan ada sekelompok teknisi yang bisa berkeliling membetulkan Real Doll jika rusak. Harga Real Doll pun sangat mahal, sekitar US$5.000 hingga US$10.000 (atau sekitar Rp68,5 juta hingga Rp137 juta) tergantung fitur apa yang ingin Anda sematkan.
Pada 2020, McMullen berencana meluncurkan Real Doll lelaki yang dinamai Henry. “Kami sedang mengembangkan robot seks versi pria yang juga dilengkapi kecerdasan buatan,” kata dia seperti dilansir metro.co.uk.
Dia juga menjelaskan Real Doll pria ini memiliki penis bionik yang memiliki kinerja lebih baik dari alat bantu seks, vibrator. Real Doll pria ini bahkan dilengkapi dengan pengaturan yang memanjakan selera pemakainya. Misalnya pengaturan kepribadian, suara, bahkan ukuran penis.
Tak seperti Harmony, Henry akan diproduksi oleh perusahaan lain milik McMullen, yaitu Realbotix. “Kami memiliki banyak permintaan dari para perempuan. Bukan hanya sebagai pasangan seks, tapi juga sebagai pendamping hidup,” ungkap McMullen. Desas-desus yang beredar, Real Doll Henry akan dijual Rp145 juta. Harga tersebut bisa jauh lebih mahal, tergantung dari keinginan pelanggan untuk mengubah tubuh Henry. “Penting untuk menawarkan baik robot lelaki maupun perempuan, sebab sejauh ini banyak orang yang menganggap kami hanya memproduksi robot seks perempuan,” kata Mc Cullen.
Meski memiliki berbagai fitur, namun menurut BBC Future, Real Doll bukanlah robot seks sebab mereka tidak mampu merespons seperti pasangan.
Menurut penulis AV Flox yang fokus pada tema perilaku seks menyimpang, teknologi dan hukum robot seks yang sesungguhnya seharusnya bisa merespons tatapan mata dan ekspresi wajah penggunanya. Hal itu berguna untuk memprediksi kepuasan pengguna.
Banyak Teknologi
“Robot-robot seks sudah seharusnya dibuat dengan menggabungkan banyak teknologi, dari nanoteknologi untuk mereplikasi tekstur kulit non-uniform [bukan seragam/baju] hingga kecerdasan artifisial [artificial inteligence/AI] lengkap dengan pemahaman bahasa secara alami,” kata dia.
Pendek kata, menurut Flox, jika ingin menciptakan robot seks yang sesungguhnya dibutuhkan sepasukan ahli yang bekerja sama. Akan ada tim besar penuh dengan teknisi, ahli robot, perancang boneka seks, ilmuwan komputer dan lebih banyak lagi untuk membuat sebuah seks robot yang bisa menyesuaikan diri dengan manusia. “Mereka tidak akan bisa berkerja sesederhana menempatkan satu orang jenius untuk membuatnya [robot seks],” ujarnya.
Kekhawatiran
Noel Sharkey, ilmuwan komputer yang bekerja untuk Foundation of Responsible Robotics, menyatakan bahwa robot seks membuat akses terhadap seks mudah didapatkan dan ini bisa mengubah manusia selamanya.
Dalam film dokumenter Sex Robots and Us, Noel Sharkey memperingatkan kerusakan pada masyarakat yang dapat ditimbulkan oleh robot yang kini semakin populer ini. Menurutnya, mesin-mesin tersebut menjadikan seks menjadi “sangat mudah” dan “mengubah manusia sepenuhnya”.
“Kita [manusia] melakukan semuanya dengan mesin, hanya karena bisa dan tidak benar-benar berpikir bagaimana robot-robot itu dapat mengubah sisi kemanusiaan sepenuhnya. Benda tersebut bisa merampas makna hidup dan mengubah manusia menjadi zombie,” ucap Sharkey seperti dikutip dari Deutsche Welle, beberapa waktu lalu.
Sharkey menyebut hubungan seks yang didasarkan cinta antara pasangan akan berkurang karena digantikan oleh robot. Ironisnya, boneka seks yang makin mengarah ke industri robot seks diprediksi bakal menjadi tren di masa depan. Industri ini bahkan disebut-sebut bermasa depan cerah karena sangat menguntungkan.
Sebuah penelitian di Prancis belum lama ini menyebut, 27% warga berusia antara 18 hingga 34 tahun berhasrat melakukan hubungan seksual dengan robot. Penelitian ini juga menunjukkan jumlah pria yang tertarik jumlahnya tiga kali lebih besar dibanding perempuan.
Selain itu, studi pada 2017, yang dilakukan Universitas Manitoba Kanada, menyoroti meningkatnya jumlah orang yang mengonsumsi seks digital di dunia maya, dan juga warga yang lebih menyukai hubungan dengan robot daripada dengan manusia.
Dr Neil McArthur, salah seorang peneliti seperti dilansir Liputan6 menjelaskan bahwa semakin banyak yang akan mengidentifikasi diri sebagai “pelaku seksual digital”, sejalan dengan perkembangan teknologi robot yang diimplementasikan ke dalam konteks romantis.
Meski robot seks akan makin lebih terlihat bagai manusia, para ilmuwan mengatakan, perlu waktu 50 tahun hingga hubungan seks dengan robot atau manusia tidak dapat lagi dibedakan. (redaksi@harianjogja.com)