PENYEBARAN WABAH Status Darurat Global Tak Sembarangan Ditetapkan

Virus Corona bukan satu-satunya wabah yang memicu Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menetapkan situasi darurat global. Dalam satu dekade terakhir, WHO telah menetapkan lima kali status darurat global. Status ini berarti peringatan agar setiap negara menyiapkan langkah-langkah kewaspadaan dan penyebaran wabah. Berikut ini laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi.

salsabila@harianjogja.com

Di masa lalu, WHO banyak menerima kritik terkait dengan penetapan status darurat global. WHO dianggap terlalu cepat atau terlalu lambat menyatakan situasi darurat kesehatan global.
Pada 2020, WHO mengeluarkan status darurat kesehatan global alias Public Health Emergency of Internatioanl Concern (PHEIC) karena penyebaran virus Corona di banyak negara. Penetapan dilakukan pada Kamis (30/1).
WHO menyebut keadaan darurat ini sebagai peristiwa luar biasa karena dampak penyebaran virus Corona (2019-novel Coronavirus/nCov) juga dirasakan di negara-negara lain di luar China.
Per Selasa (4/2) jumlah manusia yang terinfeksi virus Corona sebanyak 20.676. Dari jumlah itu 427 orang meninggal dunia dan 664 pulih kembali. Virus juga telah menyebar di 25 negara di dunia.
Status ini merupakan peringatan darurat keenam, setelah sebelumnya WHO memberikan hal yang sama pada wabah-wabah lainnya. Ada berbagai wabah menyeramkan yang ditetapkan sebagai status darurat oleh WHO selama satu dekade terakhir.
Penetapan pertama adalah sindrom pernapasan akut berat (severe acute respiratory syndrome/SARS). Wabah ini mencapai puncaknya ketika menewaskan 775 orang di 29 negara.
Kasus-kasus pertama SARS yang saat itu dianggap sebagai varian pneumonia, kemungkinan muncul di Provinsi Guangdong China pada November 2002. Pada 15 Februari 2003, China melaporkan 305 kasus pneumonia atipikal, yang kemudian ditemukan sebagai SARS.
China dikritik, dan kemudian meminta maaf, karena gagal memperingatkan otoritas kesehatan dunia tentang wabah awal dan mengambil tindakan pencegahan yang tepat untuk menahannya. Namun SARS terlanjur segera menyebar ke daerah tetangga, seperti Hong Kong dan Vietnam, dan kemudian ke seluruh dunia melalui transportasi publik via udara.
Pada Maret 2003, seorang perempuan tua Kanada meninggal karena SARS setelah kembali ke Toronto dari kunjungan ke Hong Kong. Penyakit itu berlanjut hingga menewaskan 44 orang di daerah Toronto. Di China, di mana kasus pertama terjadi, 350 orang meninggal karena SARS. Secara global, lebih dari 8.000 orang diperkirakan telah terinfeksi.
Setelah SARS, muncul wabah virus flu babi atau A/H1N1. Sedikitnya 7.826 orang di seluruh dunia tewas akibat flu A/H1N1 sejak virus flu baru itu ditemukan pada April 2009 dengan kasus terkonfirmasi sebesar lebih dari 622.482 jiwa.
Dari semua korban tewas itu, 5.360 orang ada di Amerika, 738 di Asia Timur Laut dan paling tidak 650 orang di Eropa. Tiga kawasan lain, yakni Pasifik Barat, Laut Tengah Timur dan Afrika, masing-masing dilaporkan 644, 330 dan 104 orang menemui ajal karena virus yang juga dikenal sebagai flu babi itu.
Indonesia juga menjadi korban dari adanya wabah ini, Departemen Kesehatan RI mencatat data pada 2009 sekitar 43 WNI tewas akibat wabah ini.
WHO kemudian mengangkat status darurat internasional Zika pada November tahun 2016. Virus ini dikaitkan dengan cacat lahir yang parah di hampir 30 negara. Dilansir dari liputan6.com, hingga 2007, virus Zika mulai menyebar di kawasan luar Afrika dan Asia. Pada 2015 mulai sampai ke Brasil. Di Indonesia sendiri, telah ditemukan virus Zika di Jambi pada 2015.
Sebelumnya, WHO kembali merilis korban meninggal akibat ebola hingga 8 Oktober 2014 yang mencapai lebih dari 4.000 orang. Jumlah ini hampir setengahnya dari total kasus 8.399 kasus yang terdaftar di tujuh negara.
Negara yang dianggap rentan virus ebola masih berada di Guinea, Liberia dan Sierra Leone. Selanjutnya, kelompok kedua yang rentan terdiri dari Nigeria, Senegal, Spanyol dan Amerika Serikat. Liberia memiki rekor terburuk dengan 4.076 kasus dan 2.316 kematian, diikuti oleh Sierra Leone dengan 2.950 kasus dan 930 kematian. Guinea, 1.350 kasus dan 778 kematian. Sedangkan di Republik Demokratik Kongo, WHO menyebutkan telah terjadi 71 kasus dan 43 kematian hingga 7 Oktober 2014.
Setelah Penetapan Status
Setelah organisasi kesehatan dunia WHO mengumumkan status keadaan darurat global wabah Virus Corona, sejumlah pihak khawatir perekonomian China akan terdampak. Larangan bepergian ke sana juga sudah diterapkan oleh sejumlah negara.
Secara teori, keputusan tersebut juga dapat mendorong penambahan dana dan sumber daya dari masyarakat internasional untuk mengatasi virus Corona.
Kasus SARS, influenza manusia, cacar, dan penyakit lainnya semuanya dianggap sebagai PHEIC. Namun karena Virus Corona Wuhan, China adalah virus baru, WHO kemudian mengambil keputusan ini.
Dirjen WHO dokter Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan alasan utama status darurat ini bukan karena apa yang terjadi di China, tapi justru karena apa yang telah terjadi di negara lain (lihat grafis). “Kekhawatiran terbesar yaitu penyebaran virus ke negara-negara yang sistem kesehatannya lemah dan tidak siap untuk menghadapinya. Keputusan ini bukan soal ketidakpercayaan kepada China. Sebaliknya, WHO tetap percaya dengan kapasitas China dalam mengendalikan wabah ini,” tegas dokter Ghebreyesus, seperti dilansir Detik.
Penetapan status PHEIC memang dikhawatirkan menimbulkan dampak negatif pada perekonomian China. Misalnya, negara lain kini bisa secara sepihak memutus hubungan perjalanan dan perdagangan dengan China, meskipun hal ini akan bertentangan dengan rekomendasi darurat lainnya dari WHO.
Sebagai contoh, ketika WHO menyatakan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo sebagai keadaan darurat tahun lalu, Dirjen WHO memperingatkan negara lain agar tidak menggunakan hal ini sebagai alasan untuk menerapkan pembatasan perdagangan atau perjalanan ke Kongo. Dia memperingatkan langkah tersebut justru memperburuk dampak wabah, dan mempengaruhi mata pencaharian penduduk yang paling terkena dampaknya.
Meskipun WHO tidak memiliki kewenangan hukum untuk menjatuhkan sanksi kepada suatu negara, namun badan PBB ini dapat meminta alasan ilmiah dari pemerintah suatu negara terkait pembatasan perjalanan atau perdagangan atas wabah virus Corona.
Namun faktanya, sejumlah negara telah membatasi perjalanan pribadi ke dan dari China setelah merebaknya wabah. (JIBI)