KA Seabad Maniskan Solo

Farida Trisnaningtyas

SOLO—Presiden Joko Widodo memesan secara khusus lokomotif uap kuno untuk menambah gayeng pariwisata Kota Solo. Lokomotif buatan Jerman yang didatangkan dari Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) itu dipesan Jokowi sejak ia menjabat Wali Kota Solo.
Bersambung ke Hal. 6 Kol. 1
Lokomotif difungsikan sebagai kereta wisata pendamping KA Jaladara. Loko seri D1410 tersebut sebenarnya sudah dibawa ke Solo pada November 2016. Sayang, lokomotif produksi Hanomag Hannover, Linden, Jerman, pada 1921, tersebut mangkrak sejak saat itu.
Loko yang sempat beroperasi di wilayah Jawa Barat hingga 1950-an ini kemudian dipindahkan ke Balai Yasa Yogyakarta untuk diperbaiki pada 13 Februari 2018. Restorasi loko tua ini membutuhkan waktu setidaknya hampir setahun sebelum kembali dijalankan dengan menempuh perjalanan terjauh pertama dari Stasiun Lempuyangan menuju Stasiun Purwosari.
Ya, usia loko yang sudah tua membuatnya dijuluki mbah Buyut. Selain itu, loko yang masih menggunakan kayu sebagai bahan bakar ini lantaran mesti beroperasi jauh untuk kali pertama, maka hanya berjalan dengan kecepatan 30 kilometer/jam.
Jajaran manajemen KAI Daops VI yang dipimpin langsung Kepala Daops VI, Eko Purwanto, mengantar langsung loko berusia nyaris seabad ini dari Jogja ke Solo. “Loko uap ini diberangkatkan dari Stasiun Lempuyangan menuju Stasiun Purwosari, Solo pukul 09.25 WIB. Tadi berhenti di Stasiun Klaten sekitar pukul 11.30 WIB untuk mengisi air serta kayu sebagai bahan bakar. Saat berangkat kami siapkan 5 meter kubik kayu. Di Klaten kami isi air lagi sekitar 2.500 liter,” tutur Kepala Daops VI, Eko Purwanto.
Eko pun bercerita loko uap ini beroperasi atau berjalan sendiri dari Stasiun Lempuyangan menuju Stasiun Klaten. Akan tetapi, berangkat dari Klaten loko kuno tersebut mesti didorong track motor car (TMC) yang biasa digunakan untuk sarana angkut perawatan rel serta melangsir kereta. TMC turut serta dalam perjalanan tersebut sejak dari Jogja.
Hal ini lantaran untuk memanaskan loko dengan kayu sebagai bahan bakar lagi butuh waktu sekitar 2-3 jam. Maka dari itu, agar loko tersebut cepat sampai ke Stasiun Purwosari didorong TMC. Loko ini pun masuk Stasiun Purwosari sekitar pukul 15.38 WIB.
“Pada prinsipnya loko sudah siap. Kami PT KAI di Balai Yasa berhasil merestorasi dengan memakai tenaga sumber daya manusia [SDM] dalam negeri. Pekerjaan yang kami lakukan cukup banyak karena ini menggunakan uap, sepeti memastikan boiler ketel, spare part, dan sebagainya. Kami sudah uji coba di Balai Yasa sejak dua pekan lalu sebelum dikirim ke Solo,” katanya.
Tak dapat dimungkiri, spare part komponen loko seri D1410 ini terbilang sulit karena tak lagi ada di pasaran. Pihaknya kemudian mencari suku cadang yang serupa pada loko uap seri lainnya. Ada pula beberapa komponen mesti dipesan, tapi tak sampai harus membeli dari luar negeri.
Dengan suksesnya operasional loko kuno ini dari Jogja ke Solo, tak menutup kemungkinan loko ini bisa difungsikan sebagai pembawa gerbong kereta wisata hingga ke Wonogiri. Adapun biaya restorasi loko kuno ini hampir Rp2 miliar.
Koordinator Restorasi Loko Uap Kuno, Suharyanto, menambahkan dalam perjalanan Jogja – Solo, loko ini sempat terkendala pada bagian gelas duga sebelah kiri bocor, tapi bisa diatasi.