Jokowi Pelajari Ibu Kota Australia

CANBERRA—Presiden Joko Widodo mempelajari Ibu Kota Australia, Canberra, sebagai bahan perbandingan untuk ibu kota baru Indonesia.

redaksi@koransolo.co

”Saya ke Gubernur Jenderal [David Hurley] kemudian bertanya juga ke Perdana Menteri Scott Morrison dan sekarang bertanya ke Bu Sally Barnes, CEO-nya National Capital Authority di sini, kami ingin mendapatkan sebuah bayangan seperti apa sebetulnya Canberra,” kata Presiden Joko Widodo di Canberra, Australia, Minggu (9/2). ”Bagaimana dikelola, kemudian dimulainya seperti apa. Jadi [kota] ini dibangun pada 1913 sampai sekarang penduduk 400.000, kalau dilihat tata kotanya sangat bagus,” tambah Presiden.
Meski begitu, Presiden tidak menjelaskan apakah ada teknologi khusus atau contoh tata kota tertentu dari Canberra yang akan digunakan di ibu kota baru Indonesia.
Lebih jauh Joko Widodo meyakini perpindahan ibu kota baru ke Kalimantan Timur dapat terlaksana pada 2024. ”Sudah dimulai lomba desain setahun yang lalu, studinya sudah dimulai lima tahun yang lalu, dan sudah kita putuskan, sekarang tinggal menunggu UU di DPR. Kalau sudah ada UU tinggal kita lakukan land clearing, lalu kita lakukan pembangunan infrastruktur dasar. Saya kira itu yang akan kita lakukan,” ungkap Presiden.
Canberra diketetahui termasuk ”kota baru” yang khusus didirikan untuk menjadi Ibu Kota Australia. Canberra secara formal dibentuk pada 1913. Canberra menjadi lokasi gedung parlemen nasional, kantor pemerintahan federal, mahkamah agung, monumen, galeri nasional, perpustakaan nasional serta kantor kedutaan besar negara sahabat termasuk Indonesia.
Rencananya pada 2024 ibu kota negara Indonesia sudah pindah ke lokasi baru yang terletak di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan di sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Pada 23 Desember 2019 lalu sudah ditetapkan desain dengan judul ”Nagara Rimba Nusa” sebagai Pemenang Pertama Sayembara Gagasan Desain Kawasan Ibu Kota Negara. Konsep itu ditawarkan oleh tim Urban+ dengan membawa keseimbangan antara tata kota modern, pembangunan manusia, sifat manusia, dan kelestarian alam.
Kontur lokasi ibu kota baru berbukit-bukit karena merupakan bekas hutan tanaman industri seluas 256.000 hektare ditambah dengan kawasan cadangan sehingga totalnya mencapai 410.000 hektare dengan kawasan inti seluas 56.000 hektare. (Antara/JIBI)