LINGUISTIK Penutur Hilang, Bahasa Bisa Punah

Seiring perkembangan peradaban manusia dari masa ke masa, berbagai macam bahasa turut mengalami perluasan. Pada akhirnya, sejumlah wilayah di dunia memiliki rumpun bahasa yang berbeda satu sama lain. Bahasa yang banyak dituturkan karena sejarah dan jumlah penduduk masih eksis hingga kini, namun ada beberapa bahasa yang terancam punah karena minim penutur. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi, dari
berbagai sumber.

salsabila@harianjogja.com

Bahasa yang paling banyak digunakan di planet ini tentu saja berasal dari negara terpadat di planet ini, yaitu bahasa yang dilafalkan masyarakat China, Mandarin. Mandarin bahkan mengalahkan peringkat kedua Bahasa Inggris dengan rasio 2:1.
Meski memiliki banyak penutur bukan berarti Mandarin mudah dipelajari, karena setiap kata dapat diucapkan dengan empat cara atau “nada”. Seorang pemula akan selalu kesulitan membedakan satu nada dari yang lain. Jumlah penutur bahasa Mandarin diperkirakan lebih dari satu miliar orang.
Dengan penutur sebanyak 508 juta jiwa, Bahasa Inggris menjadi bahasa paling banyak kedua yang banyak digunakan. Walaupun bahasa Inggris tidak memiliki penutur terbanyak, itu adalah bahasa resmi bagi banyak negara daripada bahasa lainnya.
Para penuturnya berasal dari seluruh dunia, termasuk Selandia Baru, AS, Australia, Inggris, Zimbabwe, Karibia, Hong Kong, Afrika Selatan, dan Kanada. Belum lagi mereka yang tidak berbahasa ibu bahasa Inggris, namun berkat edukasi dan belajar, menjadi fasih dan pengguna aktif bahasa Inggris.
Selain China, India juga merupakan negara yang padat penduduk. Bahasa Hindustani adalah bahasa utama populasi India yang padat dan mencakup banyak dialek (yang paling banyak digunakan adalah bahasa Hindi).
Bahasa Hindustani ada di bawah jumlah penutur Bahasa Inggris sekurang-kurangnya 497 juta jiwa. Sementara ini banyak yang meramalkan bahwa populasi India akan segera melampaui China Sebab keunggulan bahasa Inggris di India mencegah Hindustan melampaui bahasa yang paling populer di dunia.
Di bawah Bahasa Hindustani, ada Bahasa Spanyol yang dituturkan di hampir setiap negara Amerika Selatan dan Amerika Tengah, belum lagi Spanyol dan Kuba. Bahkan ada minat khusus dalam bahasa Spanyol di AS, karena banyak kata-kata bahasa Inggris AS dipinjam dari bahasa tersebut. Jumlah penutur bahasa Spanyol sekitar 392 juta jiwa.
Salah satu dari enam bahasa di PBB, Rusia, dituturkan tidak hanya di Rusia, tetapi juga di negara-negara eks-Uni Soviet, seperti Belarus, Kazakhstan, atau negara tujuan imigran kuno, seperti Amerika Serikat. Jumlah penuturnya mencapai sedikitnya 277 juta jiwa.
Bahasa Arab, seperti dikutip dari liputan6.com merupakan salah satu bahasa tertua di dunia, dituturkan di Timur Tengah. Para penuturnya ditemukan di negara-negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Irak, Suriah, Yordania, Lebanon, dan Mesir. Lebih lanjut, karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Quran, jutaan umat Islam di negara-negara lain juga berbicara bahasa Arab.
Begitu banyak orang yang memiliki pengetahuan bahasa Arab, bahkan pada 1974 bahasa ini menjadi bahasa resmi keenam PBB. Jumlah penutur Bahasa Arab setidaknya 246 juta jiwa.
Di Bangladesh, negara dengan 120 juta lebih orang, hampir semua orang berbicara bahasa Bengali. Dan karena Bangladesh hampir dikelilingi oleh India, di mana populasinya tumbuh begitu cepat, jumlah penutur bahasa Bengali di dunia jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan kebanyakan orang. Jumlah penuturnya kini ada sekurang-kurangnya 211 juta jiwa.
Pada abad ke-12, Portugal memenangkan kemerdekaannya dari Spanyol dan melaksanakan ekspansi (kolonialisme) ke seluruh dunia dengan bantuan penjelajah terkenalnya. Misalnya seperti Vasco da Gama dan Pangeran Henry sang Navigator.
Hal itu disebabkan karena Portugal sudah terlalu awal dalam permainan penjelajahan. Akhirnya bahasa ini memantapkan dirinya di seluruh dunia, terutama di Brasil (yang adalah bahasa nasional), Makau, Angola, Venezuela, dan Mozambik. Jumlah penutur sekurang-kurangnya ada 191 juta jiwa.
Bahasa Melayu, yang mayoritas digunakan di Malaysia dan Indonesia adalah bahasa ke-9 dengan jumlah penutur terbanyak di dunia. Hal ini kemungkinan besar karena Indonesia adalah negara berpopulasi terbesar ke-4 dunia.
Meski bagi penutur asli terdapat perbedaan pada bahasa yang digunakan di Malaysia dan Indonesia, namun rumpun dan kesamaan akar linguistik menjadikannya sebagai salah satu dari bahasa dengan penutur terbanyak. Jumlah penutur bahasa ini sekarang ada sekurang-kurangnya 159 juta jiwa.
Bahasa Nyaris Punah
Dikutip dari un.org, diperkirakan ada 370 juta masyarakat adat di dunia tinggal di 90 negara. Jumlah mereka yang menggunakan bahasa nyaris punah kurang dari 5% dari populasi dunia dan merupakan 15 persen dari yang termiskin. Mayoritas dari mereka adalah masyarakat adat.
Mayoritas masyarakat adat berbicara dari sekitar 7.000 bahasa di dunia dan mewakili 5.000 budaya yang berbeda. Namun, saat ini empat dari 10 bahasa adat terancam punah.
Beberapa bahasa yang nyaris punah itu adalah Ngan’gikurunggurr. Bahasa ini digunakan oleh warga di bagian selatan Daly River, Australia. Menurut sensus penduduk pada 2016, hanya tinggal 26 orang yang memakai bahasa itu.
Selanjutnya adalah Dunser. Bahasa Dunser adalah salah satu bahasa yang digunakan oleh sebagian suku di Papua, Indonesia. Pada 2011, bahasa tersebut hanya dipakai oleh tiga orang dan dua di antaranya berusia 60-an dan 70-an. Karena sangat terancam punah, ahli-ahli linguistik dari Oxford University telah berupaya untuk mendokumentasikan bahasa tersebut.
Ada juga Bahasa Jedek. Bahasa ini baru berhasil diidentifikasi oleh kelompok periset asal Swedia pada 2018 saat mereka mempelajari bahasa Jahai. Bahasa Jedek digunakan oleh sebagian penduduk Malaysia. Diperkirakan ada sekitar 280 orang yang secara aktif menggunakan bahasa tersebut.
Terakhir ada Machaj Juyay adalah bahasa rahasia yang dipraktikkan oleh Kallawaya, yakni para penyembuh di desa-desa di Bolivia. Biasanya para Kallawaya mewariskan bahasa tersebut pada anak laki-laki mereka. Diperkirakan jumlah pengguna bahasa ini tak mencapai 200 orang.
Bagi PBB, bahasa memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, sangat penting dalam bidang perlindungan hak asasi manusia, pembangunan perdamaian dan pembangunan berkelanjutan, melalui memastikan keragaman budaya dan dialog antar budaya.
Namun, terlepas dari nilainya yang sangat besar, bahasa di seluruh dunia terus menghilang pada tingkat yang mengkhawatirkan karena berbagai faktor. Banyak dari mereka adalah bahasa adat.
Bahasa adat khususnya merupakan faktor penting dalam berbagai masalah adat lainnya, terutama pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, biosfer dan lingkungan, kebebasan ber­ekspresi, pekerjaan dan inklusi sosial.