Corona Bikin Stok Ritel Menipis

jakarta—Kebijakan penyetopan penerbangan dari dan ke China mulai berdampak signifikan terhadap kelangsungan pasokan industri ritel modern di Tanah Air.

Dewi A. Zuhriyah
dewi.zuhriyah@jibinews.co

Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budiharjo Iduansjah menjelaskan bahwa adanya pelarangan itu membuat peritel harus mencari pemasok alternatif selain dari China.
Pasalnya, sejak adanya pelarangan penerbangan dari dan ke Negeri Panda selama 2 pekan mulai 5 Februari 2020 tersebut, stok barang di industri ritel modern dilaporkan mulai menipis.
“Problem utama stok kosong. Selain itu, traffic orang yang ke mal jadi turun karena masyarakat pada takut keluar, termasuk turis,” katanya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Senin (10/2).
Menurut Budiharjo, beberapa jenis barang yang stoknya mulai menipis di gudang-gudang peritel modern a.l. suku cadang barang-barang elektronik, bahan baku pangan, barang-barang pertukangan, hingga bahan baku baja.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdullah membenarkan dampak pelarangan penerbangan dari dan ke China guna menghalau penyebaran virus Covid-19 ke Tanah Air jelas berdampak pada pengusaha industri ritel modern, khususnya dalam hal ketersediaan stok barang.
“Kondisi tersebut benar adanya menjadi ancaman bagi industri ritel. Hal ini disebabkan sebanyak 40% dari impor Indonesia dari China merupakan barang-barang mesin [kode HS 84 dan 85],” jelasnya, Rabu (12/2).
Dengan demikian, dia menyarankan agar pemerintah bersama-sama dengan pengusaha ritel modern duduk bersama untuk mencari barang substitusi impor dari China dengan mengandalkan produksi domestik atau substitusi pasokan dari negara lain seperti Vietnam, Thailand, dan Taiwan.
“Produksi dalam negeri sebetulnya memadai, tetapi tidak bisa dalam waktu singkat [dijadikan substitusi produk impor dari China] karena harganya pasti mahal karena industri di Indonesia jauh tertinggal daya saingnya dibandingkan dengan China.”
Menurutnya, mitigasi yang perlu dilakukan pemerintah adalah dengan memprioritaskan pengadaan barang-barang yang memang diperlukan oleh konsumen.
“Kalau dari China tidak ada, cari dari negara lain dan juga dari dalam negeri. Tentukan skala prioritas, barang-barang apa saja yang paling mendesak pengadaan stoknya? Misalnya, kalau konsumen butuh cangkul, enggak perlu sampai harus impor. Justru, wabah ini menjadi momentum untuk mengembangkan indutri domestik kita.”
Tidak Masif
Pendapat berbeda disampaikan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey. Menurutnya, dampak virus Covid-19 sebenarnya tidak begitu besar karena masih banyak gerai ritel modern di Tanah Air yang didominasi oleh produk domestik.
“[Peritel modern] yang kena dampak itu hanya kecil saja [jumlahnya], khususnya untuk stok produk yang berkaitan dengan buah-buahan atau beberapa jenis produk hortikultura seperti bawang putih yang memang pengadaannya atau produksi dalam negerinya sedikit.”
Kendati demikian, dari sisi transaksi, dia mengaku bahwa pelarangan penerbangan dari dan ke China sangat memukul penghasilan industri ritel modern.
Terlebih, kebijakan tersebut langsung menekan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) asal China.
“Jadi, kalau dampak di stok produk tidak mengkhawatirkan, tetapi kalau [dampak terhadap] transaksi sangat berdampak. Itu, misalnya, terjadi di Manado, Bali, Jakarta, dan lainnya. Nah, dampak transaksi inilah yang kita menjadi catatan serta perhatian khusus akibat dari virus Covid-19.”
Roy menuturkan bahwa secara transaksi, anggota Aprindo berpotensi kehilangan paling tidak Rp520 miliar dari wisatawan China yang batal ke Indonesia dalam 2 bulan ke depan.
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Suhanto mengatakan bahwa dampak pembatasan penerbangan dari dan ke China terhadap ketersediaan stok barang ritel modern belum terganggu.
“Pelaku usaha berdasarkan pengalamannya sudah pasti memiliki jalan keluar terkait dengan supplier alternatif dengan memperhitungkan tingkat efisiensi dan daya saing produk yang akan dijual.”
Sementara itu, Marketing Director Kawan Lama Group Nana Puspa Dewi mengatakan bahwa saat ini dampak pelarangan penerbangan dari dan ke China belum memengaruhi stok produk ACE Hardware meskipun 80% barang yang dijual didapatkan melalui impor. “Kebetulan tahun ini ACE melakukan stock up lebih awal karena perbedaan waktu perayaan dan libur Imlek, yang biasanya pada Februari, tetapi tahun ini jatuh pada Januari. ACE melakukan stock up untuk persediaan selama 7 bulan ke depan,” kata Nana.
Nana mengatakan perusahaan tidak khawatir jika stok barang mulai menipis lantaran ACE secara rutin memperbarui dan mengembangkan lini produk melalui kerja sama dengan banyak rekanan dari berbagai negara.
Sebelumnya, Nielsen Indonesia memproyeksi industri ritel modern pada tahun ini tumbuh di kisaran 9%—10%, naik dari realisasi pertumbuhan industri ritel modern pada tahun lalu 8% secara tahunan. (JIBI/Bisnis Indonesia)