Perundungan di smp purworejo viral 3 Tersangka Penganiaya Siswi Tak Ditahan

SEMARANG—Sebanyak tiga siswa pelaku perundungan terhadap seorang siswi di sebuah SMP di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang rekaman videonya viral, tidak ditahan meski telah ditetapkan sebagai tersangka.

redaksi@koransolo.co

”Tidak dilakukan penahanan karena ancaman hukumannya di bawah lima tahun,” kata Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol. Iskandar F. Sutisna saat dimintai konfirmasi di Semarang, Kamis (13/2).
Menurut dia, ketiga pelaku dijerat UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Ia memastikan proses hukum terhadap ketiganya tetap berjalan sebagaimana ketentuan. Kasus dugaan perundungan berupa penganiayaan terhadap salah seorang siswa SMP tersebut ditangani oleh Polres Purworejo.
Peristiwa perundungan tersebut terungkap setelah video penganiayaan terhadap seorang siswi SMP di Purworejo tersebut beredar di media sosial. Video peristiwa perundungan dan kekerasan itu viral di media sosial. Salah satu akun yang mengunggah video itu adalah akun Twitter @black__valley1. Akun @black__valley1 mengunggah video berdurasi 29 detik itu pada 12 Februari 2020 pukul 18.22 WIB.
Tampak dalam video setidaknya tiga tersangka yang mengenakan berseragam putih biru memukuli dan menendangi seorang siswi. Siswi tersebut terlihat duduk di kursinya dan terpojok tak berdaya. Sambil menundukkan kepalanya di meja, siswi itu terdengar menangis. Sementara itu dalam tayangan video tersebut tak terlihat sosok yang merekam peristiwa itu.
Dari keterangan pelaku yang diperiksa oleh polisi, peristiwa itu diduga dilatarbelakangi rasa sakit hati ketiganya yang dilaporkan oleh korban kepada gurunya. Korban mengadu kepada gurunya karena dimintai uang oleh para pelaku Rp2.000.
Polisi mengungkap korban mengalami lebam di pinggangnya. ”Ada luka lebam di pinggang [korban] sebelah kanan tapi tidak mengganggu aktivitas,” ungkap Kapolres Purworejo AKBP Rizal Marito.
Dari kasus tersebut, polisi mengamankan barang bukti berupa pakaian korban dan tersangka serta alat yang digunakan untuk melakukan penganiayaan.
”Saat ini yang kami amankan ada pakaian tersangka maupun korban, ada baju celana, rok ada sepatu, sendal termasuk alat yang digunakan ada sapu serta HP,” lanjutnya. Para tersangka yakni TP, 16, DF, 15, dan UH, 15.
Didampingi Psikolog
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta peradilan terhadap ketiga pelajar di Kabupaten Purworejo digelar secara tertutup. ”Pelakunya masih anak-anak di bawah umur. Sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Anak, proses peradilannya harus digelar secara tertutup,” kata Ganjar di Semarang, Kamis.
Pelaku yang menjadi tersangka perlu didampingi guru konseling maupun psikolog untuk mencegah berulangnya kembali aksi perundungan di tempat lain. ”Anak-anak itu perlu dikirim psikolog, kirim guru konselingnya ke sana agar kita bisa tahu persoalannya apa, lalu kita cegah ke depannya supaya tidak terjadi bullying seperti ini,” ujarnya.
Ganjar mengutus Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah Jumeri berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Purworejo guna mengusut tuntas kasus perundungan ini. Orang nomor satu di Jateng itu juga berkoordinasi dengan pengurus organisasi induk sekolah tempat terjadinya perundungan yang menimpa seorang siswi.
Ganjar mengaku geram mengetahui masih adanya perundungan di lembaga pendidikan. Gubernur berencana mengumpulkan para pemangku kepentingan di bidang pendidikan untuk mengevaluasi persoalan ini.
”Guru, orang tua, dan pengawas sekolah kita tidak cukup bekerja seperti ini karena kasus seperti ini sudah terjadi berkali-kali maka kita harus kerja serius. Mesti dilakukan sistem seperti apa, sarana prasarana seperti apa, kalau perlu dipasangi kamera CCTV sehingga tidak terjadi bullying seperti ini lagi,” katanya.
Sebagai bentuk simpatinya kepada siswi korban perundungan, Ganjar memberikan santunan kepada keluarganya.
Menurut Ganjar, santunan ini diberikan agar orang tua korban tidak bekerja selama beberapa waktu dan mencurahkan perhatian mereka untuk mendampingi anaknya melewati masa-masa traumatis. (Antara)