Fisik Terbatas Tak Halangi Merawat Seni Tradisi

Wahyu Prakoso

Suara saron serta dentuman gong menggema dari ruang kerawitan SLB A YKAB Solo, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Jebres, Solo, Jumat (14/2) pukul 10.30 WIB.
Bimo, Adit, Imam,  Muklis, Sekar, dan Siti, mencoba menabuh gamelan dengan aba-aba dari Rasino, 45. Tangan kiri mereka meraba-raba lembaran logam lalu dipukul dengan palu kayu.
Deru saron dan gong terhenti tak sampai 30 detik ketika salah satu siswa menabuh saron terlalu cepat. Rasino memandu untuk mengulang dengan telaten sambil mengarahkan tangan Sekar untuk memukul logam.
“Ayo. Kapan bisa lebih cepat,” kata Imam yang segera ingin memainkan gamelan dengan tempo cepat. “Kita ulang sedikit lagi,” kata Rasino.
Ekstrakurikuler disabilitas netra berlangsung mulai pukul 09.15 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Latihan menabuh simbal saron kemarin siang lebih lama karena semangat para peserta didik untuk  melestarikan kesenian kerawitan.
Ruang seluas kira-kira 4 meter x 8 meter tersebut sederhana. Cat warna biru muda mulai mengelupas dan koleksi gamelan dengan tujuh orang di dalamnya tampak sesak. Ruang tersebut menjadi tempat Rasino untuk menggali dan memupuk minat siswa menabuh gamelan yang mengikuti ekstrakurikuler.
Rasino merupakan guru SLB A YKAB Solo yang mengajar setiap Selasa dan Jumat. Ia lebih banyak waktu mengabdi di SMK Negeri 8 Solo dengan mengampu sebagai tim teaching mata pelajaran praktik pedalangan.
Keterbatasannya sebagai penyandang  disabilitas netra tidak mengendurkan semangatnya menjalani peran menciptakan seniman muda di Solo. Kecintaannya kepada seni musik gamelan menjadi motor untuk membagi ilmu kepada generasi muda.
Para siswa ekstrakurikuler karawitan yang pernah belajar dengan Rasino sudah tampil di sejumlah acara, antara lain bekerja sama dengan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo pada peringatan Hari Penyandang Disabilitas Internasional, tampil pada Temu Dalang Bocah di Taman Budaya Surakarta, hingga para alumni melanjutkan jenjang pendidikan di SMK Negeri 8 Solo dengan jurusan karawitan.
“Yang penting mereka bisa dan layak ditampilkan,” kata Rasino kepada Espos.
Mengajar pada sekolah luar biasa dengan SMK Negeri 8 Solo membuat ia mengenal betul karakteristik siswa. Ia percaya setiap orang memiliki keunikan dan keterbatasan fisik bukan menjadi kendala.
“Yang menjadi tantangan ketika menumbuhkan rasa suka kepada anak pada SLB A YKAB Solo. Kalau sudah suka pasti menikmati walaupun banyak halang rintang. Siswa SMKI lebih mudah karena mereka sudah memilih jurusan yang disukai sejak awal,” ungkap dia.