Konten Hoaks Soal Covid-19 Merebak

JAKARTA—Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) hingga Jumat (14/2), menemukan 92 konten hoaks dan disinformasi terkait Covid-19, nama baru untuk virus corona.

redaksi@koransolo.co

Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Ferdinandus Setu mengatakan jumlah hoaks tersebut terus meningkat dibandingkan awal Februari lalu berdasarkan hasil identifikasi dan validasi Kominfo. “Penyebarannya masih dominan via Whatsapp Group,” kata Ferdinandus seperti dikutip Anadolu Agency.
Dia menuturkan Kominfo telah mengidentifikasi peredaran hoaks sejak 23 Januari 2020 lewat pesan berantai di media sosial dan platfrom pesan instan. “Rata-rata temuan hoaks terkait virus corona yang diidentifikasi dan divalidasi oleh Kementerian Kominfo terdapat empat hingga enam hoaks setiap harinya,” tutur dia.
Menurut temuan Kemkominfo, disinformasi dan kabar bohong terkait virus corona telah tersebar di beberapa daerah di Indoneesia seperti di Jakarta, Depok, Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya, Solo, Jember, Jombang, Tulungagung Makassar, Medan, Palembang, Tarakan, Pontianak, Lombok, hingga Banda Aceh.
Jenis hoaks yang disebarkan antara lain adanya pasien terinfeksi virus corona di RS maupun penyebaran virus lewat bandara dan tempat-tempat umum. Contoh hoaks yang ditemukan pada 11 Februari 2020 misalnya, menyebutkan adanya tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok yang ditemukan meninggal dunia karena virus corona di proyek pembangunan apartemen Meikarta, Cikarang Selatan, Bekasi.
Kemkominfo menegaskan informasi itu sebagai hoaks dan telah dibantah oleh Kapolres Metro Bekasi Kombes Hendra Gunawan yang mengatakan bahwa memang ada TKA Tiongkok yang meninggal, namun disebabkan kecelakaan kerja, bukan karena virus corona.
Ferdinandus meminta masyarakat terutama warganet ikut memantau penyebaran informasi seputar virus corona. Kemkominfo juga meminta masyarakat melapor jika mendapatkan informasi yang diduga hoaks, disinformasi, atau kabar bohong melalui portal aduankonten.id.
Gawatnya dampak hoaks juga terekam dalam penelitian yang dilakukan para ilmuwan di University of East Anglia University (UEA), Inggris. Temuan penelitian menyebut setiap upaya yang berhasil menghentikan orang membagikan berita palsu dapat membantu menyelamatkan nyawa. ”Ketika berbicara tentang Covid-19 [nama baru virus corona], banyak spekulasi, informasi yang salah, dan berita palsu yang beredar di Internet tentang bagaimana virus itu berasal, apa yang menyebabkannya, dan bagaimana penyebarannya,” kata Paul Hunter, seorang profesor kedokteran UEA yang ikut dalam penelitian.
”Berita palsu dibuat mengabaikan keakuratan, dan seringkali didasarkan pada teori konspirasi,” kata Hunter. Mereka juga menemukan bahwa rendahnya kepercayaan pada pihak berwenang punya keterkaitan dengan kecenderungan untuk meyakini konspirasi. ”Yang mengkhawatirkan adalah orang lebih cenderung berbagi berita buruk di media sosial daripada berita atau saran bagus dari sumber terpercaya,” kata Hunter. (Antara/JIBI)