Warga Ngrampal Dituduh Mencuri Kasus Perundungan Dilaporkan ke Polisi

SRAGEN—Suwarti, 36, janda yang dituduh mencuri hingga ditempeleng saat hendak mengambil kursi miliknya di rumah mantan suami di Dukuh Gonggangan, Desa Juwok, Sukodono, Minggu (9/2) lalu, akhirnya menempuh jalur hukum.
Didampingi aktivis dari Forum Masyarakat Sragen (Formas), warga Tanjungsari RT 025, Desa Gabus, Kecamatan Ngrampal, Sragen, itu melapor ke Polres Sragen, Kamis (20/2). Jalur hukum itu ditempuh setelah upaya mediasi untuk menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan di Kantor Kecamatan Sukodono, Rabu (19/2), berakhir tanpa keputusan.
Suwarti melaporkan tujuh warga yang terlibat perundungan terhadap dirinya saat ia dituduh mencuri. Salah satunya adalah Bn, perangkat Desa Juwok, yang diduga telah menempeleng pipi kanan Suwarti saat peristiwa itu terjadi.
“Jadi yang dilaporkan tidak hanya Bn, tetapi juga warga lain. Saat itu, Suwarti mendapat perundungan dari tujuh orang. Ada yang mengancam akan membakar dirinya, ada yang menghujat dan menghina hingga menempeleng pipinya. Intinya, Suwarti mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari tujuh warga itu. Padahal, dia hanya ingin mengambil kursi miliknya di rumah mantan suami,” jelas Ketua Tim Advokasi dari Formas, Andang Basuki, kepada Koran Solo, Jumat (21/2).
Andang berharap polisi lekas memproses laporan dari kliennya. Laporan itu dilakukan untuk memberikan efek jera kepada pihak-pihak yang suka main hakim sendiri. Menurutnya, menuduh seseorang sebagai maling tanpa disertai bukti yang jelas hingga melakukan perundungan terhadap orang itu adalah perbuatan melawan hukum.
Segala perbuatan melawan hukum, kata dia, tentu ada konsekuensi hukum yang harus dipertanggungjawabkan.
Saat melaporkan kasus itu ke polisi, Suwarti membawa serta foto luka bengkak di pipi dan leher akibat ditempeleng serta hasil pemeriksaan dokter di puskesmas. “Mbak Warti sudah dimintai keterangan selaku pelapor dan korban. Sekarang kami menunggu tindak lanjutnya dari polisi,” beber Andang.
Sebelumnya, Pemerintah Kecamatan Sukodono turun tangan untuk menengahi masalah yang dialami Suwarti melalui mediasi. Camat Sukodono, Riyadi Guntur Rilo Subroto, mengatakan mediasi digelar karena kasus itu melibatkan seorang perangkat desa di wilayah kerjanya.
Melalui mediasi itu, dia berharap permasalahan itu bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Akan tetapi, mediasi itu tidak menghasilkan titik temu sehingga upaya untuk menyelesaikan persoalan itu belum berhasil.
“Kedua belah pihak sama-sama bersikukuh pada argumennya masing-masing. Suwarti merasa dia dipukul oleh Bn dengan tangan kiri. Bn sudah meminta maaf, namun dia bersikukuh tidak mengakui telah menempeleng Suwarti. Kerena tidak ada titik temu, maka mediasi tidak menghasilkan apa-apa. Kalau berlanjut ke jalur hukum, biar itu nanti dibuktikan di pengadilan,” ujar Riyadi Guntur saat dihubungi Koran Solo seusai mediasi. (Moh. Khodiq Duhri)